Kembali, Unair Kukuhkan Tiga Guru Besar Monday, 12 February 2007
Karunair, Kampus C. Sesuai dengan janjinya, Ketua Senat Akademik (SA) Universitas Airlangga, Prof. Sam Soeharto, dr., Sp.MK., kembali mengukuhkan tiga Guru Besar baru, pada Sabtu (10/2) kemarin, di Aula lantai V gedung Karunair, Kampus C. Dengan penambahan ini, kini Unair memiliki 182 Guru Besar aktif yang siap mengawal Unair dalam meraih peringkat internasionalnya.

Masih sama dengan periode pengukuhan yang lalu, perbendaharaan Guru Besar Unair kembali ditambahi dengan kehadiran tiga Guru Besar baru dari Fakultas Kedokteran. Mereka yang dikukuhkan kemarin adalah Prof. Sudjari Solichin, dr, Sp. F(K) sebagai Guru Besar dalam ilmu Kedokteran Forensik, Prof. Hari Sukanto, dr, SpKK(K) sebagai Guru Besar dalam ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, beserta Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., SpAnk., IC., KNA sebagai Guru Besar dalam ilmu Anestesiologi.

Selain dihadiri oleh civitas akademika Unair, pengukuhan Sabtu kemarin juga dihadiri oleh Gubernur Jatim, Imam Oetomo, Direktur RSUD Dr. Soetomo, dr. Slamet Riyadi Juwono, DTMH., MARS., serta mantan Gubernur Jatim, H.M. Noer.

Diberi kesempatan sebagai yang pertama, Prof. Sudjari Solichin menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Peranan Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Saat Ini Dan Di Masa Mendatang. Dalam pidatonya Prof. Sudjari menyindir keberadaan mahasiswa kedokteran yang pada umumnya tidak menyukai ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. Padahal dengan itu, seorang dokter bisa memberi bantuan kepada penegak hukum.

“Peranan ilmu kedokteran forensik dan medikolegal adalah memberi bantuan kepada tersangka atau terdakwa, penyidik, jaksa, maupun hakim. Dalam mata kuliah tersebut, dijelaskan bagaimana caranya penegak hukum minta bantuan kepada dokter,” ujar dokter yang kesehariannya berpraktek di kawasan Kalidami ini.

Dalam paparannya juga dijelaskan, bahwa kebanyakan tujuan penyidik meminta bantuan dokter adalah untuk membantu menentukan cara kematian dan sebab kematian. Mengungkap cara kematian korban, seorang dokter harus melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara dengan seksama. Sedangkan untuk menentukan sebab kematian, korban itu harus diotopsi. “Selain itu, penyidik juga dapat minta bantuan dokter untuk memeriksa barang bukti, seperti darah, sperma, rambut, jaringan tubuh, dan sebagainya,” imbuh Prof. Sudjari.

Sementara Prof. Hari Sukanto dalam pidato ilmiahnya, mengungkap tentang keberadaan Dermatitis Kontak Akibat Kerja (DKAK). Menurut pengamatan Prof. Hari Sukanto, data pasti tentang DKAK, memang masih belum jelas dan beragam. Penderita baru yang datang, merupakan 0,13 % dari data seluruh kunjungan. Kecilnya jumlah penderita DKAK ini, dimungkinkan akibat kasus DKAK ringan sudah ditangani oleh dokter perusahaan ataupun dokter praktek swasta, sehingga mereka tidak dirujuk.

Namun demikian, dari studi lapangan di sebuah pabrik pengolahan kayu rengas, ditemukan 12 orang dari 80 pekerja yang diperiksa. “Ini menunjukkan angka kejadian DKAK cukup tinggi pada jenis industri ini,” ujar Prof. Hari menyimpulkan. Menurutnya, kasus DKAK cukup banyak, terutama pada pekerja industri yang menggunakan bahan iritan atau sensitiser. Namun, tidak semua dari mereka yang secara aktif berobat atau dirujuk.

Di akhir tampilan, Prof. Nancy Margarita Rehatta juga berkesempatan maju dengan membacakan pidato pengukuhannya. Srikandi Unair yang satu ini maju sebagai penyampai pidato terakhir, dengan membawa judul High Tech – High Touch Medical Education, Sebagai Landasan High Tech – High Touch Anesthesia.

Guru Besar FK yang "akrab" dengan komputer ini menyampaikan, bahwa kecepatan dan kemudahan penentuan diagnosis, kini makin terasa dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komputerisasi dalam bidang kedokteran dan pelayanan kesehatan. Namun demikian, menurut Prof Rita, masih ada dampak negatif yang perlu direnungkan dari perspektif lain. Campur tangan komputer, membuat komunikasi pasien-dokter menjadi kurang dipentingkan.

“Padahal dari komunikasi langsung, akan tercermin aspek psikis pasien sebagai luapan emosi,“ ujar Prof. Rita. Dalam paparan Prof. Rita, bau pasien sekalipun, diyakini dapat membantu dokter dalam membuat diagnosis. Itu merupakan ekspresi gangguan penyakit yang sangat penting. Professional Communication semacam ini, telah dibuktikan memiliki kontribusi dalam keberhasilan terapi nyeri.

Penjelasan Prof. Rita menunjukkan bahwa filosofi dasar pendidikan dokter hendaknya perlu dilihat kembali. Menurut dokter lulusan terbaik FK Unair 1976 ini, perlu adanya upaya menyeimbankan kedua pilar. “Seyogianya berlaku pula pendekatan high tech-high touch dalam pendidikan kedokteran,” tandas Guru Besar asal Ambon yang satu ini.