Kemerdekaan, Peluang untuk Mengabdi Friday, 18 August 2017 00:36

kemerdekaan

Rektor UNAIR saat menjadi pembina upacara. (Foto: Bambang Edy Santosa)

UNAIR NEWS – “Kemerdekaan merupakan kesempatan yang terbuka lebar bagi kita semua sebagai warga bangsa untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa Indonesia”. Begitulah ungkapan Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., saat ditemui UNAIR News disela jam kerjanya, Rabu (16/8).

Rektor ke-13 UNAIR tersebut mengatakan, nikmat kemerdekaan seluruh warga bangsa bisa terus melakukan darma bakti sesuai kapasitas masing-masing. Dengan kemerdekaan pula, menurut Nasih tercipta peluang untuk menyejahterakan bangsa Indonesia.

“Kalau kita tidak merdeka kita tidak memiliki kesempatan untuk mendarma baktikan untuk bangsa,” tegasnya.

Ditanya makna kemerdekaan yang sesungguhnya, Nasih menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa ini mesti perlu dievaluasi.

“Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Dulu penjajahan bukan dalam arti dijajah Belanda. Awal mula yang datang adalah perusahaan (VOC),” kata Nasih.

Menurut Nasih yang membuat bangsa ini tidak merdeka dalam arti yang sesungguhnya adalah sifat dan sikap setiap individu warga bangsa. Nasih menilai, saat ini bangsa Indonesia tengah dijajah kapitalisme dan materialisme.

“Ini pekerjaan rumah kita. Sepanjang dua hal tersebut masih ada dalam pikiran kita, upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan akan terganggu. Kalau hal itu masih ada dalam diri kita, mana mungkin mau memikirkan orang lain apalagi seluruh warga negara Indonesia,” papar Nasih.

Selanjutnya, Nasih kembali menegaskan, poin yang merusak nasionalisme adalah sikap kapitalisme dan materialisme bukan agama. Bagi Nasih sikap dan pola pikir materialisme, membuat setiap warga bangsa takut mati dan terlalu cinta pada dunia.

“Hal ini kan juga merusak agama dan nasionalisme kita. Dengan takut mati orang takut berjuang. Dulu tidak, para pejuang kita tidak takut mati, makanya berani berjuang,” terang Nasih. “Mari kita hindari dua sikap tersebut,” ajak Nasih.

Di akhir wawancara, Nasih menegaskan bahwa 72 tahun merupakan perjalanan sebuah bangsa yang panjang. Tantangan besar yang masih sering terjadi menurut Nasih adalah minimnya pemimpin yang memiliki visi misi Indonesia yang jauh ke depan.

“Ganti rezim ganti kebijakan. Setiap ganti presiden kadang memiliki visi masing-masing. Bagi saya kita harus punya pegangan teguh pada undang-undang tentang kemana arah tujuan bangsa ini. Jadi siapapun pemimpinnya mempunyai visi dan tujuan yang sama,” papar Nasih mengakhiri.(*)

Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/08/17/kemerdekaan-peluang-untuk-mengabdi/

image_pdf  image_print