“Visiting Professor” FK UNAIR Tingkatkan Wawasan Teknologi Kedokteran Friday, 12 January 2018 01:44

Visiting Professor

(Dari kiri) Kepala Departemen Urologi Wajoe Djatisoesanto, MD., Ph.D., (Urol.); Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo, MD, Ph.D (Urol).; Prof. Dirk De Ridder; Prof. Shigeo Horie Q.; dan Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt. setelah orasi dalam Visiting Professorship programe 2017-2018 di Aula FK pada Selasa (9/1). (Foto: Feri Fenoria R)

UNAIR NEWS – Internasionalisasi terus digalakkan Universitas Airlangga. Melalui Fakultas Kedokteran, UNAIR menghadirkan dua guru besar dari perguruan tinggi luar negeri. Yakni, Belgium dan Jepang.

Setiap keynote speech menyampaikan upaya integrasi rumah sakit dan perguruan tinggi menuju pusat medis akademik berkelanjutan di negara masing-masing. Yakni, ketua dan professor koordinator strategis departemen urologi direktur Flemsih jaringan rumah sakit dari Institut Leuven untuk kebijakan perawatan kesehatan Prof. Dirk De Ridder serta ketua dan profesor Departemen Urologi Juntendo University Prof. Shigeo Horie Q.

Menjadi pembicara pertama, Prof. Dirk De Ridder menyampaikan bahwa KU Leuven telah mengalami peristiwa kesejarahan selama delapan kali. Yakni, dimulai pada 1425, 1797, 1816, 1834, 1914, 1965, 1970, hingga 2013.

Selama itu pula, lanjut dia, KU Leuven telah menelurkan beberapa sarjana dan ilmuwan terkemuka. Di antaranya, Pope Adrianus VI (1450-1523), Desiderius Erasmus (1466-1538), Andreas Visallius (1514-1564), dan Gerardus Mercator (1512-1594).

”Selain itu, kami memiliki beberapa doktor honoris causa. Ada lima orang,” ujarnya di Aula FK UNAIR Selasa siang (9/1).

Prof. Dirk De Ridder menambahkan, KU Leuven memiliki tiga misi utama. Yakni, unggul dalam pendidikan akademik, unggul dalam penelitian, dan terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

”Terdapat total 327 program pendidikan. Sebanyak 78 program sarjana, 205 program master, serta 44 program lanjutan master,” ungkapnya. ”Karakter pendidikannya, punya visi pendidikan dan pembelajaran yang khusus, mengutamakan kualitas budaya, fleksibel, lingkungan pembelajaran yang inovatif, internasionalisasi, dan fasilitas pendidikan yang luas,” jelas pria kelahiran St Agatha Barchem, 30 Juli 1964, tersebut.

Jika dibandingkan dengan perguruan tinggi dunia, KU Leuven mememperoleh raihan peringkat yang sangat baik. Dalam Reuters Ranking, KU Leuven berada pada peringkat kelima di bawah empat perguruan tinggi Amerika Serikat. Yakni, Stanford (pertama), Massachussets Institute of Technology (kedua), Harvard University (ketiga), dan University of Pennsylvania (keempat).

Sama halnya dengan UNAIR, KU Leuven memiliki rumah sakit kampus. Total pasiennya mencapai 108.476 orang (keluar) dan 57.438 (masuk). Selain itu, terdapat 702.721 penanganan konsultasi, 2.231 kelahiran, 56.563 bedah, 15.162.056 tes laboratorium, 57.650 penanganan gawat darurat, dan 312 transplantasi.

Sementara itu, Prof. Shigeo Horie Q. yang menjadi pembicara kedua menyampaikan bahwa Juntendo University menjadi perguruan tinggi pertama di Jepang yang mendapat akreditasi dari Joint Commission  International (JCI). Yakni, sebuah organisasi non-profit Amerika yang mengeluarkan sertifikat fasilitas kesehatan berdasar penilaian keamanan serta standar dunia.

”Kami juga melakukan kerja sama dengan lembaga di berbagai negara. Indonesia, terutama Universitas Airlangga, salah satunya,” tuturnya.

Di sisi lain, Fikri Rizaldi, MD., dari Departemen Urologi FK UNAIR- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo menyatakan bahwa, Juntendo memiliki keunggulan di bidang teknologi kedokteran. Terutama penanganan kasus kanker prostat.

”Di sana, lebih maju. Penanganannya menggunakan robot. Waktu dan efektifitasnya lebih terjaga. Dari operasi selama 10 sampai 12 jam dapat diselesaikan 1 hingga 2 jam. Selain itu, di sana screening-nya lebih canggih,” tutur pria berkacamata yang juga pernah menempuh pendidikan di Juntendo University tersebut.

Pada akhir, Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo, MD, Ph.D (Urol)., berharap kehadiran dua guru besar dari perguruan tinggi luar negeri itu mampu memberikan wawasan serta inspirasi civitas akademika untuk melakukan riset bidang. Terutama sebagai upaya internasionalisasi UNAIR menuju world class university.

”Target, kami menghadirkan 20 guru besar luar negeri ke UNAIR. Hingga kini, di FK, sudah ada Sembilan,” ucapnya. ”Upaya-upaya semacam ini bakal terus digalakkan. Bukan hanya untuk mencapai target, tapi juga upaya peningkatan mutu serta kualitas pendidikan maupun keilmuan di UNAIR, terutama di FK,” imbuhnya. (*)

Sumber : http://news.unair.ac.id/2018/01/09/visiting-professor-fk-unair-tingkatkan-wawasan-teknologi-kedokteran/

image_pdf  image_print

Tags :