Satu Jam Menengok Kinerja Pusat Percetakan UNAIR Thursday, 07 June 2018 06:38

Wakil Rektor III UNAIR Prof. Amin saat meninjau peresmian Toko Buku AUP awal Oktober 2017 silam. (Foto: Helmy Rafsanjani)

UNAIR NEWS – Selasa lalu (22/5) adalah hari yang penuh ilmu dan pengalaman luar biasa. Pada hari itu mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga berkesempatan melakukan kunjungan ke Pusat Penerbitan dan Percetakan (Pusbitek) Universitas Airlangga. Pada kesempatan itu, para mahasiswa diajak langsung untuk menyaksikan proses demi proses percetakan buku.

Beberapa prosesnya, mulai dari pemberian materi sebagai bentuk pengenalan Pusbitek kepada mahasiswa, hingga mengajak langsung terjun melihat proses kinerja para karyawan.

Pusat penerbitan dan percetakan UNAIR ini telah berdiri sejak lama, yakni 22 Januari 1972 silam. Hingga kini, Pusbitek telah mencetak ribuan karya penulis. Pusbitek telah berkembang menjadi pusat penerbitan dan percetakan perguruan tinggi nasional yang kuat, besar, dan akurat.

Tak perlu ragu untuk berkarir bersama Pusbitek. Sebab, mahasiswa lulusan jurusan apapun tak menjadi kendala untuk bisa bergabung. Asal, mampu memenuhi syarat menjadi karyawan yaitu melalui serangkaian tes yang diselenggarakan. Salah satu tes tersebut adalah bagian editing.

Pada bagian editing ternyata tidak harus mematok mahasiswa lulusan editing naskah. Melainkan terbuka untuk semua jurusan. Namun ada bagian tertentu yang tidak sembarang jurusan mampu diterima. Seperti layout dan desain yang memang harus ditangani ahli yang menguasai.

Meski sudah menjadi karyawan Pusbitek, ternyata masih ada seminar-seminar pelatihan yang wajib diikuti. Hal tersebut dilakukan agar karyawan memiliki pengetahuan baru mengenai percetakan naskah. Karena tak dipungkiri bahwa dunia percetakan juga akan terus berinovasi dan berkembangan seiring perkembangan zaman.

Proses penerbitan buku di Pusbitek tidak semudah yang dibayangkan. Para penulis harus membawa naskahnya ke bagian pemasaran. Pada bagian pemasaran, naskah akan di-reviewterlebih dahulu, apakah pantas dan layak untuk diterbitkan. Pada uji kelayakan naskah akan ditentukan apakah naskah itu layak untuk diterbitkan atau masih harus direvisi. Bisa saja, naskah ditolak jika diketahui ada 30% hasil plagiat.

Di Pusbitek, pada bagian editing ada alat khusus yang mampu mendeteksi prosentasi isi naskah. Ketika naskah sudah berada di tangan editor naskah, maka naskah akan diberi catatan-catatan untuk ditanyakan kepada penulis dan dirundingkan bagaimana baiknya naskah tersebut untuk layak cetak.

Tak jarang, catatan dari editor ditolak oleh penulis. Penulis mengganggap bahwa naskah yang ia tulis telah sempurna. Namun, hal itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para editor Pusbitek.

Setelah naskah selesai diedit dan dibenarkan oleh para editor, maka naskah masuk pada proses pra-cetak. Naskah yang telah diedit diserahkan ke bagian layout untuk diatur tata letak dan diformat berbentuk buku. Bersamaan dengan itu, bagian desain akan membuat sampul buku. Setelah itu, proof akan dibaca oleh penulis dan dimintai persetujuan untuk naik cetak disertai dengan tanda tangan kontrak penerbitan.

Setalah kontrak ditandatangani, maka naskah siap untuk dicetak. Setalah naskah dicetak dan sudah melalui tahap finishing, buku siap dijual kepada pembaca. Dalam hal ini, penulis dapat mengambil royalty dari hasil penjualan bukunya.

Biaya Penerbitan

Ada tiga tipe pembiayaan penerbitan naskah. Pertama, penerbitan naskah dibiayai oleh Pusbitek. Kedua, bekerjasama dengan instansi atau unit di perguruan tinggi atau di luar perguruan tinggi. Ketiga, biaya penerbitan ditanggung oleh individu atau instansi pemesan.

Walaupun pembiayaan naskah dibayar oleh individu atau instansi pemesan, naskah tersebut tetap harus melewati segala prosedur penerbitan yang ada. Untuk naskah yang dibiayai oleh pemesan, naskah yang sudah dicetak akan dikembalikan lagi kepada penulis untuk dipasarkan.

Begitulah proses kinerja Pusbitek yang luar biasa. Sebagai percetakan yang besar, Pusbitek sudah memiliki jaringan pasar buku yang banyak. Yakni, di berbagai toko buku di kota besar di Indonesia. Serta, jaringan perguruan tinggi, juga berbagai rumah sakit dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). (*)

Sumber : http://news.unair.ac.id/2018/06/02/satu-jam-menengok-kinerja-pusat-percetakan-unair/

image_pdf  image_print

Tags : UNAIR, Universitas Airlangga, Berita dari UNAIR, Kehidupan Kampus