Profesor UNAIR Bicara Manajemen Data di Kuala Lumpur Wednesday, 10 April 2019 11:49

Prof Badri Munir Sukoco, Ph.D. (tengah) saat mengisi diskusi panel soal manajemen data, bertempat di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, pada Kamis (28/3/2019). (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Berkesempatan menjadi pembicara dalam forum internasional yang dihadiri oleh pejabat dari berbagai kampus besar dunia adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Tak terkecuali bagi Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Universitas Airlangga Prof Badri Munir Sukoco, Ph.D.

Pada Kamis (28/3/2019) Prof Badri sapaan karibnya, diundang untuk menyampaikan gagasannya soal manajemen strategis perguruan tinggi menuju world calss university (WCU). Gagasan itu ia sampaikan dihadapan puluhan akademisi lintas negara, di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia.

Prof Badri yang juga masuk dalam tim riset Kemenristekdikti memaparkan strategi kampus, utamanya UNAIR, untuk bisa masuk dalam list perguruan tinggi terbaik versi QS.

Dikatakan Prof Badri bahwa saat ini Indonesia menjadi negara di kawasan Asia yang memiliki minat tinggi soal riset. Di tahun 2017, pertumbuhan riset oleh para akademisi mencapai 52,44 persen. Hal itulah yang menyebabkan predatory journal dan publisherbanyak menyasar Indonesia. Sebab, pemerintah menggunakan standart perankingan perguruan tinggi, sementara ranking selalu bicara tentang publikasi yang membutuhkan cukup banyak uang.

“Pertumbuhan publikasi kita (Indonesia, Red) tinggi, tapi pemanfaatan riset yang dilihat dari sitasi, ternyata rendah sekali,” ujar profesor asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR itu.

Saat presentasi, Prof Badri mengungkapkan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi dengan standar internasional, kampus juga mesti berkolaborasi dengan peneliti yang memiliki sitasi tinggi.

“Kalau dosen kita melakukan riset dan publikasi bersama dosen dari kampus luar negeri, itu menunjukkan bahwa internasionalisasi kita bagus,” terangnya.

Sebagai contoh, peneliti asal Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Prof. Datin Dr Norlinah Mohamed Ibrahim. Sebanyak 9 persen sitasi yang dimiliki UKM, berasal dari kontribusi Prof Datin. Untuk itu, saat ini Prof Badri sedang mencari jejaring agar Prof Datin yang melakukan fokus penelitian public health dapat berkolaborasi dengan peneliti Fakultas Kedokteran (FK) di UNAIR.

Selain Prof Badri, akademisi lintas kampus juga menjadi pembicara dalam diskusi panel ini yaitu Prof Downing Thomas, Associate Provost and Dean International Program University of Iowa, USA; dan Prof Ai Xin Deputy Director, Office of International Exchange and Cooperation, Beijing Normal University, China.

Dalam sesi wawancara, Prof Badri juga mengungkapkan kegembiraannya karena sebagai tim Peningkatan Reputasi Akademis Perguruan Tinggi Indonesia, Kemenristekdikti, dengan memakai data yang ia presentasikan, pemerintah berencana menggelontorkan tambahan dana berupa endowment fund masing-masing sebesar dua triliun untuk beberapa perguruan tinggi yang ditarget menjadi top universities di Indonesia.

“Dengan data kita bisa mendorong orang agar mereka lebih prefer ke UNAIR,” tambahnya.

 

Pameran APAIE

Diskusi panel yang diikuti oleh Prof Badri itu masuk dalam rangkaian acara The Asia-Pacific Association for International Education (APAIE). Selain Prof Badri, Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih selaku Direktur Eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR juga mengisi diskusi panel pada hari yang berbeda.

Diskusi panel tersebut mayoritas dihadiri oleh administrator dan profesor dari beragam kampus luar negeri. Impact-nya bagi UNAIR saat mengikuti acara semacam ini adalah meningkatkan reputasi akademik di mata asing.

Selain itu, forum semacam ini juga dimanfaatkan Prof Badri untuk berjejaring dengan akademisi dari berbagai kampus. Salah satunya, dari perkenalan Badri di acara APAIE 2019, ia diundang untuk memberikan kuliah tamu.

“Melalui APAIE ini saya pikir kita pasti punya tambahan network. Ketika network itu sudah diinisiasi untuk kerja sama, harus dilakukan follow up,” terang Prof Badri. (*)

Tags : Excellence with Morality, Airlangga University, Campus Living