Empat Delegasi UNAIR Boyong Predikat Top 5 Groups Presentations di STEP AUS 2019 Tuesday, 13 August 2019 13:28

DUA dari kiri, Hasian A.D. Nasution (baju adat hitam), Luthfya Laras Senja (kebaya putih), Brillian Raras Sakapuspa (kebaya hitam), dan Madya Sri Agustina (kebaya merah) bersama sebagian delegasi Universitas Airlangga saat mengikuti STEP Asian Undergraduate Summit (AUS) 2019 di National University of Singapore. (Foto: Istimewa)\

UNAIR NEWS – Serangkaian gelaran STEP Asian Undergraduate Summit (AUS) 2019 baru saja usai. Mengusung tema Leadership in a Complex World: Harnessing Untapped Potential, kegiatan itu merupakan puncak acara sekaligus bagian dari Singapore Leg di National University of Singapore, Singapura, pada tanggal 14-21 Juli lalu.

Meski telah berakhir, kegiatan tersebut masih menyisakan kesan tersendiri, setidaknya bagi 17 delegasi asal Universitas Airlangga. Sebab, empat orang di antara mereka berhasil memboyong predikat Top 5 Groups Presentations. Empat orang itu adalah Madya Sri Agustina, Luthfya Laras Senja, Hasian Ariki D. Nasution, dan Brilliani Raras Sakapuspa.

Dalam kesempatan tersebut, seluruh delegasi diminta membuat konsep social project dengan fokus utama, yakni peran kepemimpinan dalam memanfaatkan potensi di sekitar melalui perkembangan teknologi. Berikut cerita Madya, salah seorang delegasi yang juga mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR, selama mengikuti Singapore Leg.

”Awalnya, seluruh delegasi dikelompokkan dalam tim yang beranggota 12 orang dari berbagai negara. Kami juga didampingi oleh dua fasilitator berpengalaman dan kebanyakan merupakan founder dari suatu lembaga. Mereka bertugas membimbing kami dalam menyusun project secara tepat untuk dipresentasikan di akhir kegiatan,” terang Madya.

Dia bersama rekan satu timnya membuat konsep social projectbernama Prisoners Assistance Learning Service (PALS) atau sebuah wadah rehabilitasi bagi narapidana. Menurut Madya, orang-orang yang sedang mengalami masa kurungan memiliki persoalan dalam memulihkan mental. Belum lagi ketika mereka harus terjun kembali ke masyarakat.

”Jadi, program PALS ini bertujuan untuk menyiapkan narapidana untuk kembali ke masyarakat baik secara skill maupun mental. Di Indonesia sendiri sudah ada Cinderella Indonesia. Namun, hanya dikhususkan bagi perempuan dan anak muda. Sementara PALS memiliki jangkauan lebih luas karena meliputi narapidana dengan kasus ringan,” urainya.

Salah satu pemulihan mental narapidana dalam PALS dilakukan melalui media hewan. Hal itu mengadopsi kebijakan dari Amerika –negara pertama– yang memperbolehkan narapidana untuk memelihara hewan guna memulihkan mental serta menurunkan kadar emosi mereka. Program tersebut dikatakan berhasil apabila bisa diterapkan di kawasan Asia.

”Karena belum ada negara yang berhasil dan memperbolehkan narapidana memelihara hewan sebagai media terapi bagi narapidana selain Amerika. Tetapi, kami juga menerapkan prosedur. Tidak semua narapidana bisa masuk ke program PALS, terutama mereka yang terjerat kasus berat seperti teroris ataupun pembunuh,” imbuh Madya.

Selain Madya, ada tiga mahasiswa UNAIR lain yang berhasil menyabet predikat presentasi kelompok terbaik. Mereka adalah Hasian dan Luthfya. Bersama tim, keduanya berhasil membuat Hotel Derly, yakni konsep air bnb dengan fasilitas cultural logal guide dan cultural exchange yang ramah untuk turis terutama orang lanjut usia yang ingin berwisata.

”Satu lagi, yaitu Knitting Hearts and Homes yang digagas oleh Brillian serta timnya. Jadi, di Singapura ada tradisi merajut oleh nenek. Rajutan tersebut diperuntukkan bagi cucu mereka. Tetapi, seorang cucu kelak pasti akan beranjak dewasa. Agar rajutan itu tidak terbuang sia-sia, maka dapat didistribusikan ke orang lain melalui program ini,” ujarnya.

Pengalaman paling berkesan yang dirasakan Madya adalah ketika dirinya dapat berjumpa dan berdiskusi bersama narasumber terutama dalam sesi Human Library. Selain itu, dia beserta para delegasi lainnya juga berkesempatan mengunjungi Dignity Kitchen yang merupakan tempat pemberdayaan orang-orang disabilitas agar semakin berkembang.

“Ada nasihat yang aku ingat dari seorang profesor. Dia bilang, selagi kamu bisa melihat potensi, meskipun menurutmu itu susah dicapai, tetapi jika memang kamu sebagai generasi selanjutnya ingin memberikan perubahan, maka jangan takut. Kembangkan potensi itu menjadi terobosan yang dapat memberikan impact ke depan,” tandasnya. (*)

Tags : Excellence with Morality, Airlangga University, Campus Living