Dua Peneliti UNAIR Raih Penghargaan dari Kobe Tuesday, 02 April 2019 15:42

 

 

 


ISTIMEWA / WARTA UNAIR:

DARI kiri: Laura Navika Yamani dan Tutik Sri Wahyuni saat menerima penghargaan Young Investigator Award (YIA) 2015 di Universitas Kobe – Jepang.

 

JEPANG – WARTA UNAIR

Dua peneliti muda Universitas Airlangga yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Kobe – Jepang menerima penghargaan dari pimpinan fakultas setempat, akhir Oktober 2015. Kedua peneliti muda UNAIR itu adalah Laura Navika Yamani (peneliti di Institute of Tropical Disease UNAIR), dan Tutik Sri Wahyuni (peneliti ITD sekaligus dosen di Fakultas Farmasi UNAIR).

Penghargaan bernama Young Investigator Award (YIA) 2015 diberikan oleh Prof. Kataoka, Dekan FK Universitas Kobe, kepada dua peneliti muda asal UNAIR itu. Penghargaan YIA itu sendiri merupakan bagian dari acara Kobe Homecoming Day (penyambutan mahasiswa baru-temu alumni, serta kuliah umum tentang riset). Panitia pelaksana Kobe Homecoming Day mengundang asisten profesor, dan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam acara ini. Dari 32 peserta lomba poster, juri menilai berdasarkan voting suara terbanyak.

Pada kompetisi bidang poster itu, Laura membawakan materi risetnya yang berjudul ‘Ultra-deep Sequencing for Detection of Quasispecies Variants in the Major Hydrophilic Region of Hepatitis B virus in Indonesian patients’. Sedangkan, Tutik mempresentasikan risetnya yang berjudul ‘Antiviral Activities of Medicinal Plants from Indonesia against Hepatitis C Virus’. Berdasarkan penilaian audiens dan juri, Laura dan Tutik berhasil menyisihkan peserta lainnya dan memenangkan YIA 2015.

“Penghargaan ini merupakan berkah dan buah manis dari research yang telah dikerjakan untuk studi doktoral saya di Graduate School of Medicine of Kobe University. Saya telah menyelesaikan publikasi paper sebagai syarat lulus studi dan dalam event ini saya mempresentasikan paper tersebut dalam bentuk poster,” tutur Laura, perempuan kelahiran 8 Januari 1986 ini.

Tutik pun demikian. Dosen di FF UNAIR ini berharap bahwa raihan penghargaan YIA 2015 ini bisa menarik peneliti luar negeri terhadap perkembangan riset di Indonesia. “Dengan menerima penghargaan ini, saya makin termotivasi untuk lebih berkarya dan tentunya ini membuktikan bahwa mereka juga mempunyai perhatian akan riset-riset yang membawa nama negara berkembang seperti Indonesia,” tutur Tutik, peneliti tamu di Universitas Kobe tahun 2011.

Sebagai bentuk penghargaan ini, keduanya menerima sertifikat dan uang dengan nominal nilai sebesar 100.000 Yen. Tutik berencana menggunakan hadiah berupa uang ini untuk melanjutkan risetnya untuk mengembangkan anti-virus Hepatitis C dengan menggunakan tanaman dari Indonesia.

“Dari hasil riset yang sudah berjalan ini telah diperoleh beberapa senyawa aktif sebagai anti-HCV dan akan dikembangkan untuk anti-viral yang lain. Peluang untuk mendapatkan senyawa aktif anti-viral dari tanaman yang lain juga masih terus kita gali hingga saat ini,” tutur Tutik.

Lain Tutik, lain pula dengan Laura. Usai memenangkan YIA 2015, Luara kembali mempersiapkan ujian disertasi yang akan diselenggarakan pada Januari tahun 2016. “Kemungkinan sidang disertasi saya bulan Januari tahun depan dan Insya Allah bisa lulus bulan Maret 2016. Selain itu, saya berharap sisa waktu sekitar 5 bulan di Jepang bisa enjoy dan jalan-jalan ke tempat-tempat yang sangat ingin saya kunjungi, terutama daerah perumahan tradisional Jepang yang bersalju yaitu Shirakawa Go di kesempatan terakhir musim winter sebelum pulang ke Indonesia,” kata Laura.

Selain menerima penghargaan YIA 2015, keduanya juga telah menerima penghargaan kategori peneliti berprestasi dari Rektor UNAIR dalam Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam rangka Dies Natalis ke-61 UNAIR pada 10 November 2015. (dss/nui)

                                

Tags :