n

Universitas Airlangga Official Website

11 Tahun Kerja Sama, FK UNAIR Hadirkan Prof. Mijna

fk
Pemberian cinderamata oleh Wakil Dekan III FK UNAR kepada Prof Mijna. (Foto: Sefya Hayu)

NEWS UNAIR – Upaya meningkatkan reputasi sebuah institusi bisa melalui berbagai cara. Di antaranya, memperkuat strategi kerja sama dengan institusi luar negeri.

Sebagai institusi pendidikan kedokteran tertua kedua di Indonesia, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Airlangga (UNAIR), konsisten menghimpun dan melestarikan kerja sama mutualisme dengan berbagai institusi pendidikan kedokteran dari luar negeri. Salah satunya, University Medical Center Groningan (UMCG) Groningen, The Netherlands.

Menandai sebelas tahun kerja sama tersebut, FK, UNAIR, melalui Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK, UNAIR-RSUD Dr. Soetomo bersama dengan UMCG serta Unit Gramik-Folia Medica Indonesiana FK, UNAIR, menggelar acara kuliah tamu ahli internasional. Acara di Aula FK, UNAIR, (13/10) itu dihadiri Prof. Mijna Hadders-Algra, MD, Ph.D dari Beatrix Children Hospital, University Medical Center Groningen (UMCG), The Netherlands.

Mijna adalah penemu sekaligus pelopor bidang infant motor profile (IMP) atau metode deteksi dini gangguan perkembangan otak kepada anak melalui pengamatan pergerakan dengan bantuan alat, video. Selain pakar perkembangan anak, dia merupakan peneliti yang berhasil memublikasikan karya tulis ilmiahnya di 34 jurnal internasional terindeks Scopus.

Reputasi positif Mijna ternyata cukup berpengaruh dalam pengembangan ilmu kesehatan anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK, UNAIR-RSUD Dr. Soetomo. Khususnya pengembangan metode IMP di Indonesia.

Salah satu alumnus FK, UNAIR, yang pernah berkesempatan mempelajari teknik IMP secara langsung kepada Mijna adalah Dr Ahmad Suryawan, dr., Sp.A(K). Pada 2006, Wawan, sapaan akrabnya, berkesempatan mewakili Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK, UNAIR-RSUD Dr. Soetomo untuk mengikuti pediatric fellowship di institute developmental neurology di Beatrix Children’s Hospital.

“Dalam kesempatan tersebut, tanpa diduga, Prof Mijna menjadi mentor saya,” ungkapnya di hadapan audiens.

Selama di sana, Wawan belajar menguasai metode IMP secara mendalam. Metode itu bisa diterapkan sejak anak berusia 3-18 bulan. Saat itu metode tersebut belum begitu populer, termasuk di Indonesia.

Selama menempuh pendidikan di sana, Wawan melakukan banyak penelitian bersama Mijna hingga bertahun-tahun. Salah satu pengalaman yang berkesan, lanjut dia, adalah ketika Mijna mengajaknya bergabung dalam acara basic treaning course.

”Awalnya, saya sempat khawatir. Sebab, kalau dihitung-hitung, biaya training itu seharga sewa apartemen saya selama tiga bulan. Namun, saya beruntung ketika itu. Sebab, Mijna akhirnya memperbolehkan saya ikut training secara cuma-cuma,” jelasnya.

Dari pelatihan tersebut, dia memperoleh sertifikat level basic dari Mijna. Pada 2009, Wawan kembali mengantongi sertifikat level advance.

”Pendampingan Mijna selama tahap penelitian saya amat berpengaruh dalam pengembangan keilmuan kesehatan anak di RSUD Dr. Soetomo. Sebab, untuk mendapatkan sertifikat selevel advance, perlu dilakukan banyak penelitian,” ungkapnya.

Untuk kali pertama, Mijna mempresentasikan keilmuannya di Indonesia pada 2009. FK UNAIR melalui Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK, UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dan Himpunan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang bekerja sama dengan University Medical Center Groningen (UMCG) menyelenggarakan acara pelatihan IMP yang belum pernah diadakan di kawasan Asia Tenggara.

Melalui kerja sama tersebut, Mijna membawa keilmuannya masuk ke Indonesia dan Surabaya menjadi jujugan yang pertama. FK UNAIR menjadi kepanjangan tangan kali pertama masuknya metode IMP ke Indonesia. Kemudian, kegiatan pelatihan semacam itu berlanjut pada penyelenggaraan International Course General Movement 2010 yang diikuti dokter anak dari seluruh Indonesia.

Setelah bertahun-tahun konsisten mendalami riset bersama Mijna, akhirnya penelitian Wawan berhasil menyabet sejumlah award. Di tingkat nasional, penelitian terkait pengembangan teknik IMP berhasil meraih award the best oral paper presentation dalam ajang pertemuan ilmiah nasional bidang pedriatic di Bandung. Kemudian, menyusul perolehan award the best oral presentation dalam ajang KONIKA. Sementara itu, di tingkat internasional, tiga riset terkait metode IMP tersebut juga meraih scolarship award dalam international congress of pediatric.

Bukan hanya itu, melalui hasil kolaborasi riset tersebut, Wawan berkesempatan membawa nama FK UNAIR-Dr. Soetomo untuk mempresentasikan penelitiannya di hadapan puluhan ahli di bidang IMP dalam rangka memperingati 400 tahun Groningan University pada 2014.

“Mengadopsi metode IMP dari Belanda untuk masuk ke Indonesia bukan hal mudah. Prosesnya luar biasa sulit karena mekanisme keilmuan yang dimiliki Prof Mijna belum discover. Jadi, kami harus berupaya menyesuaikannya dengan kondisi di Surabaya,” ungkapnya.

Pada 2015, Wawan beserta tim Dokter Anak RSUD Dr. Soetomo-FK UNAIR mengembangkan penelitiannya menjadi riset kolaboratif bersama University Medical Center Groningen (UMCG) bernama longitudinal tumbuh kembang jangka panjang bayi-bayi prematur yang lahir di RSUD Dr. Soetomo.

Sejak itu, kerja sama tersebut berkembang dalam berbagai program exchange di kalangan dosen dan mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Kolaborasi riset itu masih berlanjut hingga saat ini.

“Akhirnya metode IMP berhasil kami masukkan kembali ke Indonesia. Dan, selama dua hari, kami mengadakan workhsop di JW Mariott pada 14-15 Oktober 2017 untuk kali pertama di Indonesia,” ujarnya.

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Feri Fenoria