Universitas Airlangga Official Website

Penggunaan Mesenchymal Stem Cell-conditioned Medium pada Penyembuhan luka

Foto by CNN Indonesia

Penyembuhan luka (wound healing) merupakan proses yang sangat kompleks yang masih menjadi tantangan utama dalam pengobatan modern. Penyembuhan luka kulit yang optimal melibatkan peristiwa biologis dan molekuler kompleks yang terdiri dari proses migrasi dan proliferasi sel serta deposisi dan remodeling matriks ekstraseluler. Tekhnologi terbaru yang membuat perbedaan besar dalam proses penyembuhan luka adalah terapi sel punca, yang menawarkan pendekatan baru untuk berbagai penyakit. Selama proses embriogenesis awal, sel mesenkim muncul dari epitel  primitif dan dapat kembali ke fenotip epitel melalui transisi mesenkim ke epitel. Banyak penelitian dasar dan klinis telah menunjukkan bahwa MSC dapat meninggalkan lingkungan mikroseluler (niche)-nya untuk bermigrasi ke jaringan yang jauh dan memainkan peran penting dalam perbaikan luka dan regenerasi jaringan.

Growth factors adalah polipeptida dengan berbagai efek poten terhadap proliferasi sel dan kapasitas sintetis. Hingga saat ini, satu-satunya growth factor yang telah terbukti secara klinis efektif adalah platelet-derived growth factor (PDGF) yang diaplikasikan secara topikal. Dalam dekade terakhir, sejumlah produk metabolik telah tersedia untuk penggunaan klinis. Dua jenis produk metabolit telah diuji dan terbukti efektif pada kaki dengan ulkus neuropati vena dan diabetik.  Baru- baru ini, terapi sel punca pada luka yang sulit disembuhkan menjadi alternatif dan dianggap sebagai hal yang menjanjikan di bidang kedokteran regeneratif, termasuk penyembuhan luka kulit. Namun, selain penggunaan sel punca embrionik manusia yang masih kontroversial, harapannya adalah bahwa pemprograman ulang sel dewasa berdiferensiasi yang baru-baru ini dicapai (yaitu, fibroblas kulit) menjadi induced pluripotential stem cells (iPS) akan menyebabkan kemungkinan akselerasi proses perbaikan atau regenerasi sejati. Mesenchymal stem cell (MSC) dapat memodulasi angiogenesis dan dapat menunjukkan kemampuannya sebagai neuroprotektan dan imunomodulator. Metabolit yang disekresi berupa secretome, microviscle dan exosome yang diperoleh dari media kultur sel punca disebut sebagai media terkondisi sel punca. Pemberian metabolit memiliki kemampuan jaringan yang sama. Aplikasi terapi metabolit sel punca dinilai lebih baik dibandingkan dengan sel punca karena lebih rendah daripada isolasi SPM dan lebih stabil dalam penyimpanannya. Metabolit sel punca diperoleh dari berbagai jenis sel. Media terkondisi SPM mengandung sitokin yang dapat dikelompokkan menjadi growth factor, sitokin proinflamasi, dan sitokin anti-inflamasi .

Mesenchymal stem cell (MSC) dapat memodulasi angiogenesis dan dapat menunjukkan kemampuannya sebagai neuroprotektan dan imunomodulator. Metabolit yang disekresi berupa secretome, microviscle dan exosome yang diperoleh dari media kultur sel punca disebut sebagai media terkondisi sel punca. Pemberian metabolit memiliki kemampuan jaringan yang sama. Aplikasi terapi metabolit sel punca dinilai lebih baik dibandingkan dengan sel punca karena lebih rendah daripada isolasi SPM dan lebih stabil dalam penyimpanannya. Metabolit sel punca diperoleh dari berbagai jenis sel. Media terkondisi SPM mengandung sitokin yang dapat dikelompokkan menjadi growth factor, sitokin proinflamasi, dan sitokin anti-inflamasi

Penulis: Dr. dr. Medhi Denisa Alinda.,dr.,SpKK

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :http://dx.doi.org/10.15562/bmj.v10i3.2747

A comparative efficacy of topical Adipocyte derived Mesenchymal Stem Cells-Conditioned Medium (ADMSC-CM) and Amniotic Membrane Mesenchymal Stem Cells- Conditioned Medium (AMSC-CM) on chornic plantar ulcers in leprosy : A ranomized controlled trial. Medhi Denisa Alinda, Muhammad Yulianto Listiawan, Anang Endaryanto, Heri Suroto, Paulus Mario, Fedik Abdul Rantam,Esti Hendradi ,Hari Basuki,Sri Linuwih Susetyo W.M, Cita Rosita Sigit Prakoeswa