UNAIR NEWS – Terhitung dari April 2022, kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak berusia 1-16 tahun merebak. Secara global kasus hepatitis akut misterius ini sudah mencapai 600 lebih kasus. Kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak ini disebut misterius karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum mengetahui secara pasti penyebab terjadinya hepatitis atau peradangan liver.
Dr Bagus Setyoboedi dr SpA (K) dalam acara Dokter UNAIR TV mengungkapkan bahwa hepatitis sendiri bukanlah hal baru dalam dunia medis. Penyebab hepatitis sangat beragam, sambungnya, seperti infeksi virus, bakteri, protozoa dan lain-lain.
“Hepatitis misterius yang terjadi saat ini merupakan infeksi hati yang belum diketahui pasti penyebabnya termasuk mekanisme ataupun patofisiologinya,” ujar dokter Bagus (25/05/2022).
Lebih lanjut, dokter Bagus menjelaskan bahwa pada umumnya hepatitis yang terjadi pada anak-anak menunjukkan gejala ringan. Tetapi semakin kesini, beberapa anak mengalami gejala yang berat bahkan sampai harus melakukan transplantasi hati.
“Ternyata kasus ini tidak membentuk clustering, masih terpecah-pecah di berbagai tempat. Hal inilah yang menjadi masalah apa penyebab sebenarnya,” ungkap dokter dokter spesialis anak dengan subspesialis gastrohepatologi itu.
Jika disebabkan oleh suatu agen, tandasnya, biasanya akan membentuk clustering, dengan kata lain menular di suatu tempat sehingga menimbulkan outbreak seperti hepatitis A atau B yang sering ditemukan di Indonesia.
“Dengan belum diketahui penyebabnya, masyarakat perlu menegakkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta prokes yang tepat seperti mengkonsumsi makanan yang bersih mulai dari bahan, pengolahan sampai penyajiannya, air minum yang bersih dan hindari kontak darah,” jelas dokter Bagus.
Dalam beberapa kasus yang ditemukan, hepatitis misterius menimbulkan sindrom klinis berupa adanya peningkatan enzim hati. Dokter Bagus menyebut ada beberapa gejala sebagai berikut:
- Penyakit kuning (jaundice)
- Sakit perut
- Diare
- Urine dengan warna kecoklatan seperti air teh
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut
- Mual dan muntah
- Masalah perut
- Warna feses pucat
“Sebagian besar kasus yang dilaporkan tidak disertai dengan gejala demam. Salah satu bentuk pencegahan terhadap penularan adalah rajin mencuci tangan dan menjaga kebersihan udara,” jelasnya.
Kepada masyarakat dokter Bagus berpesan jika menemukan gejala-gejala yang telah disebutkan diatas, harap untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. “Masyarakat tidak perlu panik, pemerintah terus berupaya mencari penyebab dan cara penanganan hepatitis misterius ini. Yang terpenting selalu terapkan PHBS,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Suryadiningrat
Editor: Nuri Hermawan





