Universitas Airlangga Official Website

Webinar BEM FTMM Ulas Prospek Perkembangan Artificial Intelligence di Masa Depan

Yutika Amelia Effendi SKom MKom pada gelaran webinar yang diselenggarakan oleh BEM FTMM UNAIR. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sekarang ini banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Biasanya, AI akan ditambahkan dalam suatu sistem yang dapat diatur dalam konteks ilmiah agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh manusia. Bidang-bidang seperti pelayanan kesehatan, manufaktur, transportasi, pendidikan, konstruksi, retail, dan cyber security sekarang ini sudah mulai menambahkan fitur AI ke dalam sistem mereka.

Dalam kurun waktu 2019 hingga 2024, pengaplikasian AI diprediksi akan terus mengalami peningkatan. “Google, Facebook, Apple, Amazon, dan Microsoft terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan AI,” papar Yutika Amelia Effendi SKom MKom pada gelaran webinar bertajuk “How Powerful Is The Combination of Blockchain Technologi and AI?” yang diselenggarakan oleh BEM FTMM UNAIR, Sabtu (4/6/2022).

Dosen program studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM UNAIR ini menjelaskan bahwa berdasarkan data dari IDC, terdapat dua jenis AI yang akan mendominasi pada beberapa tahun ke depan yaitu AI CRM (Customer Relationship Management) dan AI ERM (Enterprise Risk Management). “Cuma, akan diprediksi kedepannya sampai 2024-2025 yang akan mendominasi AI itu adalah bagian CRM-nya,” ungkapnya.

Yutika mengungkapkan bahwa sekarang ini telah dilakukan penelitian dalam bidang human augmentation guna menciptakan baju besi yang dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan penggunanya. Selain itu, lanjutnya, perusahaan milik Elon Musk, Neuralink, berencana menciptakan alat yang dapat menghubungkan otak manusia dengan AI sehingga manusia dapat berubah menjadi robot hibrid.

“Inginnya sih ada perangkat yang dapat menanamkan benang elektroda tipis ke otak untuk membaca pikiran manusia secara langsung,” jelas Yutika. 

Bidang Multi Experience, lanjut Yutika, juga terus akan mengalami perkembangan ke depannya. Multi Experience ini memungkinkan pengguna dapat merasakan sensasi berada di suatu tempat tanpa harus pergi langsung ke tempat tersebut.

“Yang sudah kita bisa lihat hasilnya adalah aplikasi selular IKEA. Jadi, seolah-olah kita bisa melihat furniture itu kalau diletakkan di rumah kita muat dan cocok atau tidak dengan barang-barang lainnya,” terang Yutika.

Pada akhir, ia menjelaskan bahwa microsoft pun sekarang ini telah merilis Emoticon API Project. Bahkan, ada cloud base engine yang bisa mendeteksi emosi seseorang dari ekspresi wajahnya. Selain itu, di Tiongkok sekarang ini AI telah diaplikasikan dalam bidang seni.

“Di Tiongkok, Baidu sudah mengembangkan AI dalam bidang seni. Jadi, bagaimana caranya dari lukisan kemudian akan diciptakan lagu yang kira-kira cocok dengan lukisan tersebut,” pungkas Yutika.

Penulis: Agnes Ikandani

Editor: Nuri Hermawan