n

Universitas Airlangga Official Website

Retno Palupi Angkat Masalah Kesehatan Gigi Penambang Belerang dalam Disertasi

Ilustrasi belerang (sumber: BBC Indonesia)

UNAIR NEWS – Benar adanya jika profesi penambang adalah pekerjaan paling berbahaya di dunia. Termasuk penambang belerang di kawah Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Selain harus melewati medan terjal menuju kawah, perlahan namun pasti, kualitas kesehatan mereka juga terancam.

Potret kesehatan para penambang di kawah Gunung Ijen sebenarnya cukup memprihatinkan. Mengingat, mayoritas dari mereka tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai, seperti masker atau safety respirator mask. Mereka hanya mengandalkan gulungan kain basah lalu digigit begitu saja.

Cara demikian sudah dilakukan secara turun menurun. Para penambang meyakini, cara ini ampuh melindungi paru-paru sekaligus menghindari resiko tersedak akibat paparan langsung uap belerang. Meskipun mereka meyakini cara ini aman, namun Retno Palupi, drg., M.Kes justru mencurigai hal tersebut sebagai pemicu kerusakan gigi yang ternyata banyak dialami oleh mayoritas penambang di sana.

“Mereka menghirup gas beracun setiap hari selama bertahun-tahun, bahkan terhirup masuk di rongga mulut. Paparan asam sulfat berkadar tinggi yang terkandung dalam belerang memicu kerusakan pada enamel gigi. Akibatnya, gigi para penambang umumnya bermasalah. Sebagian besar gigi mereka mengalami erosi,” ungkapnya dalam orasi yang disampaikan pada Ujian Doktor Terbuka di Aula Fakultas Kedokteran (25/1).

Dalam kamus kedokteran, istilah erosi gigi adalah suatu proses kronis hilangnya jaringan keras gigi yang disebabkan karena proses kimiawi zat asam, tanpa melibatkan bakteri. Salah satu kelompok yang berpotensi mengalami erosi gigi adalah penambang belerang.

Dalam penelitiannya, Retno menghasilkan temuan baru yaitu mekanisme paparan asam sulfat pada rongga mulut penambang belerang. Menurutnya, seseorang yang terpapar uap belerang mempunyai risiko erosi gigi yang sedang hingga berat. Dampaknya, terjadi erosi yang dapat merusak enamel gigi dan jaringan lunak  di rongga mulut.

Aktivitas pengambilan belerang juga masih dilakukan dengan cara tradisional, seperti memecah belerang lalu memikul bongkahan ke keranjang. Cara ini jelas memperbesar kemungkinan seorang penambang terpapar langsung oleh kandungan asam sulfat dari uap belerang.

“Kandungan asam sulfat yang tinggi pada belerang ternyata berkontribusi terhadap kerusakan enamel gigi sehingga meningkatkan keparahan erosi gigi. Oleh sebab itu, upaya pencegahan perlu dilakukan dengan cara  menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut” jelasnya.

Dari pengamatan selama berbulan-bulan di lokasi, selain mengalami erosi gigi, Retno melihat para penambang juga banyak yang mengalami osteoporosis, sakit di bagian punggung hingga nyeri otot. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan imbas dari kondisi erosi gigi yang mereka alami sebelumnya.

“Setiap para penambang ini harus memanggul hasil tambang seberat sekitar 70 kg. Tak heran jika banyak yang mengeluhkan nyeri di punggung. Namun sebenarnya ada faktor pencetus, dimana dampak dari erosi gigi yang mereka alami menyebabkan kurangnya produksi kalsium pada gigi. Akibatnya, tubuh harus bekerja ekstra keras dalam memasok kalsium, ini yang kemudian mengakibatkan osteoporosis dan gangguan tubuh lainnya,” ungkapnya.

Menurut perempuan kelahiran Oktober 1974 ini, problem erosi gigi yang dialami oleh mayoritas penambang membutuhkan perhatian dan penanganan yang memadai. Mengingat, kesehatan gigi akan berpengaruh pada kondisi fisik secara keseluruhan.

Seperti diketahui, Gunung Ijen adalah gunung berapi aktif penghasil belerang terbesar di Indonesia. Manfaat asam sulfat yang terkandung di dalam belerang digunakan secara luas dalam industri kimia, seperti pembuatan baterai, deterjen, pupuk, farmasi, hingga tekstil. Namun di lain sisi, asam sulfat tidak baik bagi kesehatan.

Untuk itu, menurutnya, perlu dilakukan upaya pencegahan melalui kegiatan promosi kesehatan dengan melibatkan peran pemerintah daerah dan pengusaha tambang belerang setempat.

“Kita tidak mungkin menghentikan aktivitas penambangan. Mengingat aktivitas pertambangan telah menjadi sumber mata pencaharian penduduk setempat. Yang bisa kita upayakan adalah tindakan pencegahan,” ungkapnya.

Penduduk sekitar pun juga membutuhkan arahan. Untuk itu, Retno berencana akan melakukan upaya pendekatan kepada masyarakat setempat melalui kegiatan penyuluhan. Tujuannya, untuk membangun kesadaran akan pentingnya penggunaan masker pelindung yang memadai.

“Saya berharap temuan ini dapat diketahui secara luas oleh masyarakat dan bisa menjadi bahan untuk mengembangkan penelitian-penelitian yang lain,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu
Editor    : Binti Q. Masruroh