Universitas Airlangga Official Website

Sekolah Pascasarjana Ulas Ekonomi Hijau Menuju Negara Maju

Dr (HC) Ignasius Jonan Drs Ak MA CPA CA dalam Gelaran Kuliah Tamu Sekolah Pascasarjana UNAIR pada Sabtu (2/9/2023) (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar kuliah tamu bertajuk “Ekonomi Hijau Menuju Negara Maju 2045”. Agenda itu bertempat di Gedung Majapahit, ASEEC Tower, pada Sabtu (2/9/2023). Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD selaku Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, dalam pembukaan menyampaikan bahwa acara ini dapat menjadi forum untuk belajar langsung dari para pemimpin. 

“Sebagai pimpinan Sekolah Pascasarjana, kami mencoba menghadirkan mata kuliah ini sebagai dasar untuk belajar dari para pemimpin. Terutama yang telah berhasil memimpin organisasi dan mengetahui bagaimana cara mengawal proses perubahan-perubahan yang akan ke depan hadapi,” terangnya.

Dalam menghadapi perubahan, menurutnya perlu untuk berhati-hati. Jika tidak, kondisi geopolitik yang berkaitan dengan energi dan pangan akan mempengaruhi kinerja negara untuk bisa keluar dari middle income trap. Masalah-masalah yang terjadi ini bisa diselesaikan dengan pendekatan multidisiplin ilmu. 

“Problem-problem ini hanya bisa diselesaikan oleh ilmu-ilmu yang multidisiplin. Kami berharap mahasiswa Sekolah Pascasarjana UNAIR dapat menjadi ekosistem yang saling mengisi satu sama lain. Ekosistem itu nantinya menjadi jejaring yang dapat menyelesaikan problem-problem multidimensi yang telah saya sampaikan,” tambah Prof Badri.

Tekankan Perubahan Mindset

Hadir dalam agenda tersebut, Dr(HC) Ignasius Jonan Drs Ak MA CPA CA. Ia menjelaskan materi tentang “The Green Economy: A Dream or A Reality”. Menurutnya, topik yang itu menjadi sebuah tantangan untuk memproyeksikan ekspektasi menuju perayaaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-100.

Mantan Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (KAI) itu menekankan bahwa ekonomi hijau mulai dari mindset yang kemudian berujung pada sebuah kesadaran. “Seringkali kita melihat dan terbiasa melakukan sesuatu tanpa mengubah pola pikir terlebih dahulu. Ini menjadi persoalan yang selalu ada di banyak kehidupan terutama dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat publik atau bisnis,” terang Jonan.

Lebih lanjut, Jonan mengungkapkan bahwa yang menjadi tantangan paling besar bagi peradaban saat ini adalah pangan. Mengingat adanya perubahan iklim baru-baru ini menurutnya, panganlah yang akan mengalami dampak besar. Tak cukup sampai disitu, perubahan iklim juga bisa berakibat pada lingkungan.

“Kita sebagai negara kepulauan. Jika pemanasan global terus menerus terjadi, maka yang kita khawatirkan banyak pulau akan tenggelam,” tambahnya

Sayangnya, kekhawatiran ini menurutnya tidak ditampilkan di dalam sikap. Bila hanya sekedar pemikiran saja menurutnya tidaklah cukup.

“Jika kita hanya pandai bicara tapi tidak segera merubah perilaku, maka waspadalah dengan krisis yang akan kita dapati di kemudian hari. Krisis-krisis tersebut dapat berupa terjadinya resesi dan krisis pangan karena terdapat beberapa lonjakan harga yang cukup tajam dengan polusi yang saat ini semakin tidak terkendali,” jelasnya.

Penulis: Tia Restutika

Editor: Nuri Hermawan