UNAIR NEWS – Ada banyak pengalaman saat mengikuti magang. Hal tersebutlah yang dirasakan Dewi Yugi Arti mahasiswi, Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR). Ia berkesempatan mengikuti magang di Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Keluar dari Zona Nyaman
Dewi mengakui selama magang tentu banyak pengalaman. Ia mencoba keluar dari zona nyamannya, memilih magang di Jakarta.
“Sebenarnya magang aku ini menjadi pengganti mata kuliah PKL. Sehingga pihak kampus yang menyarankan nama-nama instansi yang menjadi tujuan magang tersebut. Dan disediakan oleh kampus, yaitu Jakarta dan Surabaya. Aku memilih ke kota Jakarta,” ujarnya.
Dewi mengatakan, dirinya ingin merasakan merantau di kota besar, Jakarta. Dengan itu, ia dapat menambah wawasan serta kemandirian untuk belajar survive. Bahkan Dewi berencana berkarir di Jakarta seusai lulus.
“Kalau bekerja di Jakarta tentu aku dapat bersaing dengan kompetitor yang lebih luar biasa lagi. Aku bisa memahami cara mereka berpikir akan suatu masalah dengan lebih maju sehingga pemikiran kritis aku juga diasah di sini,” sambungnya.
Selama magang disana Dewi mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan topik studinya. Bahkan Dewi juga mengerjakan pekerjaan yang sekiranya dibutuhkan oleh pihak penyelenggara magang.
“Selama magang disana aku merasakan hal yang sama dengan aku magang biasanya. Contoh pekerjaan yang aku kerjakan misalnya me-review rencana strategis, review naskah akademik, ikut focus group discussion (jadi bagian notulensi), mentranslate daftar pengadilan di seluruh Indonesia, bikin berita website, dan lain-lain,” jelasnya.
Bagikan Kisah Mengesankan
Namun hal yang sangat berkesan di luar mengerjakan pekerjaan tersebut adalah belajar dan bekerja bersama para staf dan para ahli yang ada disana. Seperti kisah Dewi yang dia bagikan saat berada di Bogor.
“Pengalaman paling memorable itu pas ke Bogor. Jadi kantor Balitbang itu ada dua yang di Jakarta sama yang di Bogor. Kantor utamanya itu berada di Bogor. Pas seminggu terakhir magang, aku sama teman-temanku ke kantor yang di Bogor buat nginep selama 3 hari 2 malam. Di sana kebetulan lagi ada acara Pertukaran Hakim Filipina dan Indonesia (acaranya ASEAN). Jadi selama 3 hari itu kita ikut menyimak acara diskusi antara hakim Filipina sama Indonesia,” ucapnya.
Hal yang membuat kegiatan tersebut berkesan adalah Dewi mendapat wawasan yang baru karena topik bahasan yang dibahas pada acara tersebut. Tepatnya acara tersebut membahas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang dimana kasus tersebut sempat viral di beberapa pekan lalu.
“Topik yang dibahas mereka ini yang membuat aku senang banget ada di acara tersebut. Terus juga aku mendapatkan asupan makanan yang enak-enak dan sangat dilayani banget selama disana. Dan uniknya selama di Bogor kita nginep di mess gitu yang dimana biasanya messnya itu dipakai juga untuk menginap para calon hakim yang lagi Pendidikan pelatihan calon hakim di sana,” katanya.
Challenge Hal yang Belum Bisa Dilakukan
Bagi anak sosial seperti Dewi, microsoft excel adalah hal yang kurang familiar di dunia studinya. Dewi sering mengerjakan makalah atau tulisan-tulisan yang tidak berkaitan dengan excel. Sehingga pada saat magang banyak data yang harus di input melalui excel tersebut.
“Sejujurnya aku pribadi gak pernah menggunakan excel selama kuliah. Tapi selama magang itu kebanyakan dituntut pake excel biar gampang nge datanya,” sambungnya.
Tidak hanya itu, Dewi yang sebelum magang tidak pernahh mengetahui isu-isu terbaru mengenai MA, kini ia menjadi paham dan mengerti melalui magang tersebut.
“Aku jarang mengikuti perkembangan isu-isu disini. Tapi dari magang ini aku jadi tau isu-isu terbarunya. Aku juga baru tau kalo MA itu rajin ngeluarin peraturan, meskipun bentuknya cuma Peraturan Mahkamah Agung (PERMA). Aku juga gak bakal tau kalo ada beberapa daerah di Indonesia yang masih minim Pengadilan Tinggi,” ucapnya.
Dan terus belajar serta mencari hal baru itulah yang Dewi latih bagi dirinya. Dewi mengasah cara berkomunikasi yang baik, benar, dan sopan kepada para pejabat tinggi. Dewi juga harus bersikap yang sesuai dengan tata krama karena meskipun hanya sebagai anak magang dirinya tidak membawa malu nama UNAIR yang telah merekomendasikannya.
“Disana aku belajar ngobrol sama petinggi-petinggi jadi aku juga harus belajar untuk berkomunikasi yang baik biar ga malu-maluin diri sendiri dan UNAIR karena saat ini aku bawa label UNAIR,” katanya.
Meski sempat shock culture karena harus kerja layaknya pekerja kantoran, namun Dewi harus tetap semangat dan menuntaskan tanggung jawabnya disana. Karena pasalnya Dewi juga kaget karena harus bekerja selama 9 jam disana mulai dari jam 8 pagi hingga 5 sore.
“Disana kerjanya emang lama seperti layaknya kerja kantoran walau sebenarnya aku cuma magang ya. Tapi disini aku juga dilatih untuk bekerja dengan sungguhan. Tapi senangnya ketika magang aku juga dapat ketemu dengan alumni-alumni FH UNAIR yang luar biasa sehingga aku bisa tanya-tanya tentang jenjang karir di Jakarta dan sekitarnya,” ucapnya.
Bagi Dewi life is experience and you only live once to make many experiences. Hal itulah yang membuatnya tidak pernah menyerah dan takut mencoba segala sesuatu yang baru. Mau dunia berkata apa selagi yang Dewi kerjakan adalah hal benar yang membangun dirinya semakin baik maka akan dia lakukan.
“Jangan takut atau insecure meraih mimpimu. Soalnya kalo gak dilakuin sekarang mau kapan lagi? Apalagi kesempatan magang itu paling banyak pas masih jadi mahasiswa, soalnya bisa lewat mekanisme PKL, magang mandiri, MSIB, PKKM, dan lainnya. Jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menciptakan pengalaman yang luar biasa,” tutupnya
Penulis: Monika Astria Br Gultom
Editor: Feri Fenoria





