UNAIR NEWS – BEM Fakultas Ilmu Budaya UNAIR menjalin kerja sama dengan Airlangga Global Engagement mengadakan ILEN (Indonesian Literature Extravaganza). Acara ILEN hadir dalam bentuk talk show itu ulas topik diskusi mengenai “Crossing the Boundaries, Unearthing the Power of Words”.
Pembahasan menarik tersebut mengundang Okky Madasari, penulis buku pada Jumat (22/9/2023). Bertempat di Gedung Kuliah Bersama, Kampus MERR-C, narasumber membahas isu yang sering terjadi dalam dunia sastra.
Mengambil subtopik “The Crowd and the Conscience: Literature in Today’s Indonesia”, Okky Madasari menjelaskan bahwa cerita dalam sastra termasuk cerita fiksi sehingga tidak dapat sama dengan kisah nyata. Sastra hanya merespon kehidupan masyarakat melalui critical thinking yang berasal dari pikiran penulis, tambahnya.
Karya Sastra Menuai Kontra
Lebih lanjut, Okky Madasari menggambarkan kesalahan pemahaman pembaca pada karya sastra yang pernah menjadi masalah pelik di Indonesia. Dia memberikan contoh kasus kesusastraan melalui cerita pendek Langit Makin Mendung yang terbit pada Majalah Sastra dengan nama pena Kipandjikusmin pada Agustus 1968.
“Setelah cerpen Langit Makin Mendung terbit, sekelompok umat Islam menuduh cerpen tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap agama. Dari tuduhan ini, H. B. Jassin sebagai kepala editor sastra dijatuhi hukuman satu tahun. Bahkan selama proses pengadilan berlangsung dia tidak mengungkapkan nama asli pengarangnya,” ungkap Okky Madasari.

Kemudian Okky Madasari juga menyampaikan kasus cerpen Ketika Semua Menolak Kehadiranku di Persahabatan yang terbit di Suara USU (Universitas Sumatera Utara) tahun 2019. Dia menambahkan bahwa hasil karya mahasiswa tersebut berujung pada pembubaran dewan redaksi dan pemecatan 18 redaksi yang tertuduh menerbitkan berita.
“LGBT yang muncul dalam cerpen ini Rektor USU anggap sebagai bentuk promosi pornografi dan LGBT yang jelas-jelas banyak orang tentang. Dianggap dapat mencoreng nama baik kampus maka rektorat melakukan tindakan pembubaran redaksi Suara USU,” jelasnya.
Fiksi Berbeda dengan True Story
Pada penjelasan berikutnya, Okky Madasari menekankan tentang penggambaran dalam sastra yang memuat tokoh maupun alur cerita yang mirip dengan dunia nyata tidak bisa begitu saja sama. “Ketika baca novel atau cerpen ternyata menemukan istilah Tuhan atau pun Malaikat, belum tentu kedua kata tersebut menceritakan Tuhan dan Malaikat sesuai pemahaman kita selama ini,” tuturnya.
Dari penjelasan tersebut, Okky Madasari ingin menyampaikan bahwa menulis karya fiksi bukan menjadi sebuah kesalahan melainkan bentuk kesadaran seseorang menanggapi problematika kehidupan masyarakat secara kritis. “Tidak ada salahnya memilih untuk menulis genre fiksi apa pun. Pertanyaannya adalah kapan kesadaran para penulis telah terbentuk dan terpengaruhi oleh masyarakat, sedangkan fiksi dan sastra secara umum mempengaruhi pikiran masyarakat,” ujarnya.
Banyak Lakukan Sensor
Sebelum menutup diskusinya, Okky Madasari memberikan fakta tentang karya sastra yang mengalami sensor untuk menghindari konflik. Menurutnya, editor akan menghapus kalimat-kalimat yang dinilai tidak dapat diterima mayoritas masyarakat.
“Naskah cerita yang mendapatkan sensor dari editor biasanya adalah cerita-cerita yang menggambarkan kehidupan seks, kritikan kepada pemerintah, dan isu-isu sensitif. Kalau editor menemukan hal tersebut mereka melakukan tindakan penghapusan atau penggantian pada kalimat yang digunakan,” tutupnya.
Penulis: Iratri Puspita
Editor: Nuri Hermawan





