UNAIR NEWS – Kolaborasi antara BEM FKH, BEM FPK UNAIR gelar kajian bertajuk ESSA TALK. Acara itu berlangsung pada Rabu (11/10/2023) di FKH UNAIR. Kajian dalam bentuk talkshow itu mengupas mengenai keadaan biodiversitas dan ekosistem laut Indonesia saat ini.
Environtment Sustainability and Stranded Animal Talk (ESSA TALK) menghadirkan dua pemateri talkshow, yakni Drh Bilqisthi Ari Putra MSi CMC serta Prof Muchammad Yunus DVM MKes PHD. Dua dosen FKH UNAIR tersebut tentunya unggul dalam menangani hewan laut terdampar.
Prof Yunus membuka topik bahasan dengan mengeluarkan pendapat bahwa menurutnya masyarakat Indonesia tidak menyadari potensi-potensi akan laut yang ada. Padahal, sambungnya, potensi laut tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja, namun juga pariwisata, mineral, pelestarian satwa laut, hingga kepada aspek sosial.
“Seperti sirip hiu, katanya memakan sup sirip hiu akan mendapatkan khasiat yang banyak. Itu hanya isu tingkatan sosial. History-nya dari Cina, hiu dianggap hewan laut yang sangat perkasa, siapa yang mampu makan sup sirip hiu dianggap derajatnya tinggi,” ucap Prof Yunus.
Pada ESSA Talk juga mengulas maraknya destructive fishing yang berpengaruh terhadap kondisi ekosistem laut Indonesia saat ini. Drh Bilqist menjelaskan bahwa kerusakan pada laut bukan hanya akibat eksploitasi produk hasil laut. Namun, ucapnya, juga ada beberapa kepentingan lainnya yang ikut merusak ekosistem bawah laut.
“Penyebab-penyebab (mamalia laut, red) terdampar itu sangat banyak sekali. Yang paling mencengangkan saat itu, Paus Sperma di Cirebon, (terdampar, red). Pasalnya, adanya survei seismik menggunakan bom bawah laut, satu minggu sebelum terdamparnya paus tersebut,” jelas drh Bilqist.
Potensi Zoonosis
Meninjau dari sisi kesehatan, potensi zoonosis dengan adanya mamalia terdampar sangatlah besar. Namun, Prof Yunus menjelaskan fakta bahwa zoonosis dari stranded animals itu bukan dari hewan terdampar, melainkan akibat ulah manusia itu sendiri.
“Masyarakat kebanyakan mau memakan daging dari hewan terdampar, mikirnya daging gratis, padahal bisa saja hewan itu mengandung patogen,” ucap Prof Yunus.
Mendukung pernyataan tersebut, drh Bilqist menceritakan pengalamannya menghadapi kasus yang sama. Ia sempat menghadapi kasus mamalia terdampar yang ternyata mengidap TBC.
“Saat mau kita amankan lokasi titik penguburan, ternyata paus yang sudah dikubur hanya tinggal kepala dan ekor, besoknya dagingnya sudah dihidangkan,” tambah drh Bilqist.
Peran Akademisi
Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam menjaga ekosistem laut, terutama dalam penelitian serta pemeriksaan penyakit. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi memiliki laboratorium memadai, SDM, serta ahli, yang dalam hal ini merupakan dokter hewan.
“Penelitian lebih ditekankan kepada sociocultural, memberikan edukasi dan contoh nyata, memberitahu potensi laut, kelestariannya. Selain itu membuat komunitas yang melakukan kegiatan positif untuk laut seperti menanam bakau,” ucap Prof Yunus.
Sebagai penutup, drh Bilqist mengajak mahasiswa untuk melakukan aksi nyata dalam penjagaan ekosistem laut agar kegiatan ini tidak hanya berhenti sebatas diskusi saja.
Penulis: Resyifa Salma
Editor: Nuri Hermawan





