Universitas Airlangga Official Website

Sambutan Rektor pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar 18 Oktober 2023

Assalamu’alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatuh.

Alhamdulillah, wa syukurillah, wa laa haula walaa quwwata illa billahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihiajma’ien.

Yang terhormat,

Ketua, Sekretaris,  dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga,

Ketua, Sekretaris,  dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga,

Para Wakil Rektor Universitas Airlangga,

Sekretaris Universitas Airlangga,

Para Guru Besar Universitas Airlangga dan Guru Besar Tamu,

Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Airlangga,

Para Direktur, Ketua Pusat, Lembaga, dan Badan di Lingkungan Universitas Airlangga,

Saudara Prof. Dr. Prastiya Indra Gunawan, dokter., Spesialis Anak  Konsultan

Prof. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dokter., Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Subspesialis Onkologi Konsultan, FICS. 

Prof. Heny Arwati, Doktoranda., Master of Science., Doctor of Philosophy. 

Prof. Dr. Rosy Setiawati, dokter., Spesialis Radiologi Konsultan, CCD.

Prof. Dr. Tika Widiastuti, Sarjana Ekonomi, Magister Sains. 

Prof. Dian Yulie Rendrawati, Sarjana Sosiologi, Magister Manajemen, Doctor of Philosophy, CHE.

Prof. Dr. Edy Jauhari, Doktorandus., Magister Humaniora.

dan Para undangan serta hadirin yang berbahagia.

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat, taufik, dan inayah-Nya, sehingga hari ini kita bisa hadir di acara istimewa ini. Yaitu, Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar dengan keadaan sehat wal’afiat.

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Dengan pengukuhan ini, Prof. Dr. Prastiya Indra Gunawan, dokter., Spesialis Anak  Konsultan., menjadi Guru Besar Dalam Bidang Ilmu: Neurofisiologi, Pengampuh Mata Kuliah Utama: Kejang Demam, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 37, dan H- index: 5. Prof. Dr. dokter. Achmad Chusnu Romdhoni, Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Subspesialis Onkologi Konsultan, FICS., menjadi Guru Besar Dalam Bidang Ilmu: Onkologi Bedah Kepala Leher Aspek Klinis, Pengampu Mata Kuliah Utama: Ilmu Bedah Onkologi THT-KL, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 21, H- index: 3. Prof. Heny Arwati, Doktoranda., Master of Science., Doctor of Philosophy., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Imunoprotozoologi, Pengampu Mata Kuliah Utama: Parasitologi, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 20, H- index: 4. Prof. Dr. Rosy Setiawati, dokter., Spesialis Radiologi Konsultan, CCD., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Musculoskeletal and Clinical Radiology, Pengampu Mata Kuliah Utama: Radiografi II, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 53, H- index: 5. Prof. Dr. Tika Widiastuti, Sarjana Ekonomi, Magister Sains., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Ekonomi dan Keuangan Sosial Islam, Pengampu Mata Kuliah Utama: Ekonomi dan Manajemen ZISWAF, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 39, H- index: 7. Prof. Dian Yulie Rendrawati, Sarjana Sosiologi, Magister Manajemen, Doctor of Philosophy, CHE., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Manajemen Kepariwisataan, Pengampu Mata Kuliah Utama: Etika Profesi, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 9, H- index: 3. Prof. Dr. Edy Jauhari, Doktorandus., Magister Humaniora., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Pragmatik, Pengampu Mata Kuliah Utama: Pragmatik, Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 4, H- index: 1.

Semoga  pengukuhan  guru besar hari ini juga menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar. Dengan banyaknya Lektor Kepala yang kita miliki, artinya kita punya potensi untuk menambah guru besar dalam jumlah yang cukup besar. Tentu, dengan kemauan yang keras, mereka pasti juga mampu mencapai jabatan guru besar ini. Tolong disadari, bahwa pencapaian guru besar ini bukan saja merupakan capaian pribadi sebagai seorang dosen, namun juga menjadi capaian universitas yang sangat penting. Dengan dikukuhkannya tujuh guru besar baru pada hari ini, berarti UNAIR memiliki tambahan SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya. Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan UNAIR semakin diakui oleh masyarakat dan dunia. Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik. Dengan demikian, semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan bahwa semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap UNAIR yang semakin baik, dan ini akan semakin meningkatkan kualitas kita semua sebagai salah satu dari jajaran kampus terbaik di dunia yang kini telah raih di posisi 345 terbaik dunia. 

Untuk Prof. Dr. Prastiya Indra Gunawan, dokter., Spesialis Anak  Konsultan., Prof. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dokter., Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Subspesialis Onkologi Konsultan, FICS., Prof. Heny Arwati, Doktoranda., Master of Science., Doctor of Philosophy., Prof. Dr. Rosy Setiawati, dokter., Spesialis Radiologi Konsultan, CCD., Prof. Dr. Tika Widiastuti, Sarjana Ekonomi, Magister Sains., Prof. Dian Yulie Rendrawati, Sarjana Sosiologi, Magister Manajemen, Doctor of Philosophy, CHE., Prof. Dr. Edy Jauhari, Doktorandus., Magister Humaniora. UNAIR berharap, setelah pengukuhan guru besar ini, kontribusi Saudara kepada Universitas Airlangga akan semakin besar. Setelah memperoleh jabatan tertinggi di bidang akademik ini, semangat menulis, mengajar, mengabdi, dan meneliti bukan kendur, tapi justru harus ditingkatkan untuk memberi kemaslahatan yang lebih besar. 

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Orasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Prastiya Indra Gunawan, dokter., Spesialis Anak  Konsultan., Dalam paparannya dijelaskan Kejang merupakan suatu manifestasi klinis Epilepsi yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Epilepsi merupakan salah satu penyakit kronik dengan insidens sebesar 81,7/100.000 anak per tahun. Di Indonesia sampai saat ini belum ada data insidens yang pasti karena banyak penderita epilepsi tidak mengunjungi pusat kesehatan.  Pada praktik sehari-hari penyakit ini masih sering membingungkan para dokter karena adanya variasi diagnosis. Diperkirakan angka kesalahan diagnosis epilepsi cukup tinggi yaitu diperkirakan berkisar 4,6% hingga 30%. Pemeriksaan elektroensefalografi pada saat terjadi serangan terkadang dapat membantu menentukan apakah serangan merupakan kejang epileptik atau bukan. Layanan EEG ditemukan tersedia hanya di tiga perempat negara sumber daya terbatas namun sebagian besar dikelola oleh personel yang tidak memiliki pelatihan formal melakukan rekaman EEG. Akibatnya, hasil EEG sering disalahartikan sehingga menyebabkan diagnosis yang berlebihan tentang epilepsi dan obat antiepilepsi berkepanjangan yang sebenarnya  tidak perlu. Untuk mengatasi masalah ini, International League Againts Epilepsy (ILAE) telah berusaha untuk menyetarakan kemampuan pembaca EEG melalui program sertifikasi internasional.

Kejang merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan. Begitu banyak kelainan yang menyerupai kejang yang memungkinkan terjadi misdiagnosis. Tata laksana kejang adalah pemberian diazepam via rektal tetapi terkadang terdapat kendala.Simpang siurnya informasi mengenai epilepsi sering menyebabkan tata laksana tidak optimal. Meningkatkan nilai diagnostik EEG konvensional dengan pengulangan EEG dan berbagai teknik stimulasi. Sertifikasi Internasional pembaca EEG ILAE dapat membantu penyetaraan pemahaman tentang gambaran hasil EEG.Bila terjadi kesulitan akses via rektal, maka bisa dipertimbangkan pemberian midazolam intamuskular dan intranasal. Perlunya suatu epilepsi center untuk melakukan diagnostik dan tata laksana epilepsi yang komprehensif berbasis multidisiplin. Perlunya konseling tenaga medis untuk menyadarkan masyarakat supaya tidak mengucilkan penderita epilepsi dan menghapus stigma negatif tentang epilepsi.

Orasi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dokter., Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Subspesialis Onkologi Konsultan, FICS., Dalam paparannya dijelaskan Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan keganasan yang muncul pada daerah nasofaring, sebuah area yang cukup tersembunyi yang terletak di atas tenggorok dan di belakang hidung. Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala hidung, telinga, leher, dan neurologis/saraf. Serupa dengan terjadinya penyakit infeksi, KNF juga memiliki tiga faktor utama penyebab terjadinya penyakit, yaitu faktor host, agent, environment. Masalah yang terjadi pada KNF di hilir yaitu terapi yang tidak dapat berjalan dengan maksimal. Angka kejadian penyakit yang tinggi tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana penunjang radioterapi yang memadai, mengingat modalitas ini merupakan terapi utama pada KNF. Hal ini berdampak pada menumpuknya antrian pasien yang akan dilakukan radioterapi. Dalam kondisi tersebut, pasien yang awalnya datang pada stadium dini, dapat berkembang menjadi stadium lanjut.

Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada penyakit KNF tersebut, diantaranya 1) Meningkatkan wawasan dan kewaspadaan masyarakat terkait gejala dini KNF dan himbauan untuk segera mencari bantuan/mendatangi pelayanan kesehatan; 2) Meningkatkan efektivitas deteksi dini di fasilitas kesehatan tingkat I, serta mensosialisasikan tindak lanjut yang harus dilakukan oleh tenaga medis apabila mendapati kecurigaan terhadap KNF; 3) Membuat cancer registry baik terkait kanker kepala leher maupun kanker secara umum; serta 4) Melakukan advokasi kepada stakeholder yang berwenang, untuk melakukan analisis geospasial terkait KNF dan mendorong pengembangan pusat pelayanan kanker berdasarkan hasil analisis tersebut. Langkah-langkah tersebut tentunya akan bisa berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan yang besar dari seluruh pihak mulai dari masyarakat, tenaga medis, hingga pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Orasi ketiga disampaikan oleh Prof. Heny Arwati, Doktoranda., Master of Science., Doctor of Philosophy., Dalam orasinya dijelaskan Malaria merupakan penyakit infeksi parasit menular yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium yang hidup dan berkembang biak di dalam sel darah merah (eritrosit). Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk Anopheles betina. Sampai saat ini malaria merupakan beban penyakit global yang masih menjadi perhatian serius WHO karena banyaknya kasus kematian yang terjadi, terutama pada anak–anak. Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan Artemisinin Combination Therapy (ACT) sesuai yang direkomendasikan oleh WHO, namun sebagian masyarakat Indonesia mengkonsumsi empedu untuk mencegah dan mengobati malaria. Dalam penelitian malaria, model eksperimental malaria pada mencit, telah banyak digunakan dalam upaya memahami biologi, imunologi dan patologi malaria manusia.  Penelitian cairan empedu kambing (CEK) untuk antimalaria pada hewan coba mencit telah dimulai sejak tahun 2012. Empedu kambing yang digunakan harus yang baru diisolasi dari kambing dan yang berukuran 7-10 cm. Kajian toksisitas CEK menunjukkan bahwa, terjadi diare ringan pada mencit yang diberi CEK 100%, dan sembuh dalam 2 hari. Penelitian ini telah membuktikan bahwa CEK benar mempunyai aktivitas antimalaria dengan beberapa konsekwensi imunitas tubuh yang diakibatkannya. Oleh karena itu empedu kambing berpotensi dikembangkan menjadi obat antimalariaasli Indonesia yang perdu didukung oleh pemerintah maupun semua pihak terkait. Berdasarkan hasil penelitian ini, direkomendasikan juga kepada masyarakat yang gemar mengkonsusmi empedu kambing untuk meningkatkan stamina agar lebih berhati-hati dalam memilih empedu yang berukuran lebih kecil dan bisa ditelan dengan mudah, dan tidak terlalu sering mengkonsumsi empedu kambing karena dikhawatirkan akan menimbulkan efek toksik yang lebih besar dibandingkan dengan efek benefitnya. 

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Orasi selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Rosy Setiawati, dokter., Spesialis Radiologi Konsultan, CCD., Dijelaskan bahwa Osteoporosis adalah kondisi  ketika kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos dan mudah patah, sedangkan sarkopenia adalah kondisi yang ditandai dengan hilangnya massa otot dan fungsi otot secara progresif dan global seiring bertambahnya usia, meningkatkan resiko jatuh dan patah tulang. Kedua kondisi ini dapat terjadi bersamaan dan berdampak besar terhadap aktivitas maupun kinerja fisik sehari-hari. Dengan meningkatnya dampak kesehatan nasional yang serius ini, maka program pendeteksian osteosarkopenia sebagai upaya pencegahan kejadian patah tulang begitu penting dan sangat dibutuhkan. Beberapa metode klinis, laboratoris maupun pencitraan telah dikembangkan untuk mendeteksi osteosarkopenia. Alat dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) merupakan teknik pencitraan non-invasif yang mengukur kepadatan tulang dan massa otot, memberikan informasi berharga untuk mendiagnosis osteoporosis dan sarkopenia.

Dengan memahami diagnosis dan menerapkan tindakan pencegahan yang tepat yang telah diulas diatas,  mendorong  proses penuaan yang sehat dan berkualitas, karena seseorang tentunya tidak akan bisa lepas dari penuaan alami yang terjadi. Sangatlah penting untuk terus mengedukasi tentang kesehatan tulang dan otot melalui kampanye kesadaran masyarakat dan program pendidikan yang dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong strategi pencegahan osteosarkopenia serta upaya organisasi layanan kesehatan untuk terus menerus mendorong program deteksi dini  menggunakan DXA untuk memantau kepadatan mineral tulang (BMD) dan  whole body composition (WBC) serta memberikan panduan tentang metode pencegahan dan penanganan osteosarkopenia. Kualitas hidup lansia yang baik dan berkualitas, akan meningkatkan produktivitas sumber daya manusia yang  tentu sangat berdampak pada  kesehatan sosioekonomi negara yang optimal juga. Maka SAYANGILAH TULANG DAN OTOT KITA, UNTUK MEMUWUJUDKAN KESEHATAN DUNIA YANG BERKUALITAS.

Selanjutnya, orasi disampaikan oleh Prof. Dr. Tika Widiastuti, Sarjana Ekonomi, Magister Sains., Dalam paparannya dijelaskan Kemiskinan merupakan permasalahan sosial ekonomi yang selalu menjadi perhatian para pemimpin dunia. Berdasarkan data BPS (2023) per Maret 2023 yaitu 9,36% atau 25,96 juta penduduk Indonesia merupakan masyarakat miskin, di mana 3,34 juta penduduk di antaranya tergolong kemiskinan ekstrem. Menuju Indonesia Bebas Kemiskinan, pemerintah mengeluarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2022 tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem melalui keterpaduan dan sinergi program, serta kerja sama antar Kementerian atau Lembaga. Inpres tersebut juga secara tidak langsung menugaskan kepada Lembaga Keuangan Sosial Islam untuk turut andil.

Rekomendasi yang kami susun akan difokuskan pada upaya penghapusan kemiskinan ekstrem hingga tahun 2024 dan penurunan tingkat kemiskinan. Dalam konteks ini, integrasi KSI melalui model kolaborasi dengan skema transformasi dalam 4 tahap yaitu Economic Rescue, Economic Recovery, Economic Reinforcement, dan Economic Resilience (4-ER) menjadi langkah yang tepat menuju Indonesia Bebas Kemiskinan khususnya kemiskinan Ekstrem di 2024. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan: (a) Meningkatkan sinergi antara lembaga pengelola KSI, Pemerintah, Perguruan Tinggi, Asosiasi, Media dan pihak lain sejenis, dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin ekstrem sebesar 1,12%; (b) Implementasi program pengentasan kemiskinan ekstrem yang berkesinambungan, didukung oleh integrasi sumber KSI dan komersial Islam; (c) Integrasi data kemiskinan dan tata kelola instrumen KSI pada satu platform database; (d) Pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan pengumpulan dana ZISWAF; (e) Memastikan adanya perencanaan strategis yang mendukung keberlanjutan program serta transformasi penerima menjadi pemberi manfaat, (f) Mendukung ketersediaan payung hukum yang eksplisit mengatur integrasi KSI; dan (g) Memperkuat fungsi pengawasan oleh pihak regulator dan memberikan sanksi kepada lembaga yang tidak mematuhi peraturan yang berlaku. 

Orasi selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dian Yulie Rendrawati, Sarjana Sosiologi, Magister Manajemen, Doctor of Philosophy, CHE., Dalam paparannya dijelaskan Sektor pariwisata menjadi pilar perekonomian Indonesia dengan perannya sebagai salah satu penyokong utama pendapatan devisa. Keberhasilan sektor pariwisata mencerminkan potensinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan daya saing global. Oleh karena itu, permintaan akan fasilitas praktik yang memadai sangat penting dalam konteks pendidikan vokasional. Hal ini juga telah ditegaskan dalam visi pendidikan Indonesia yaitu untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila, dimana fokus utamanya adalah pada pengembangan hardskill, softskill, karakter, dan attitude yang kuat. Salah satu inovasi penting dalam mencapai tujuan ini adalah konsep Teaching Factory (TEFA), dimana TEFA adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan dunia industri (produk dan jasa) dengan pendidikan vokasi, melalui kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), dengan tujuan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan permintaan pasar. 

Secara keseluruhan, sinergi TEFA, PBL dan Kurikulum Merdeka dengan kampung wisata bukan hanya model pendidikan inovatif, tetapi juga langkah penting dalam mendukung pengembangan komunitas yang berkelanjutan. Disarankan agar sinergi ini dikelola secara berkelanjutan melalui pemeliharaan fasilitas, pembaruan kurikulum, dan kolaborasi pentahelix antara lima stakeholder. Evaluasi rutin diperlukan untuk mengidentifikasi perbaikan dan peluang peningkatan. Dengan ini, sinergi TEFA, PBL, dan Kurikulum Merdeka di kampung wisata dapat terus menjadi model pendidikan vokasional yang efektif dan berdampak positif jangka panjang pada perkembangan komunitas lokal serta kampung wisata.

Terakhir orasi disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Jauhari, Doktorandus., Magister Humaniora. Dalam paparannya dijelaskan bahwa Kritik merupakan tindakan linguistik yang sangat mudah dijumpai dalam hidup bermasyarakat. Namun demikian, pemahaman masyarakat tentang makna kritik masih banyak yang rancu. Makna kritik masih sering dikacaukan dengan makna berbagai bentuk kekerasan verbal seperti menghina, memaki, mencaci, menghujat, dan lain-lain. Pidato pengukuhan ini mencoba menjelaskan apa sesungguhnya kritik itu dan apa perbedaannya dengan kekerasan verbal. Kritik adalah ungkapan yang berisi evaluasi negatif terhadap tindakan, perilaku, kebijakan, perbuatan seseorang. Kritik bertujuan mendorong agar penerima kritik mawas diri, instropeksi diri, dan koreksi diri.

Fungsi dasar kritik adalah sebagai wahana kontrol sosial. Sebagai wahana kontrol sosial, kritik berkaitan erat dengan penyimpangan perilaku atau pelanggaran norma.  Ada beberapa hal yang perlu dicatat terkait dengan kritik dalam fungsinya sebagai wahana kontrol sosial. Dalam keadaan normal, pelaku kritik akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan strategi kritik secara tepat. Untuk bisa menggunakan strategi kritik dengan tepat, pelaku kritik perlu membertimbagkan beberapa variabel sosiologis, yaitu relative Power, social Distance, dan Rank of Imposition. Ketika hendak melakukan kritik, pelaku kritik perlu mempertimbangkan kedudukan sosial (Power) penerima kritik, tingkat keakrabannya dengan penerima kritik (Distance), dan kadar imposisi kritik yang akan dikemukakan. Berdasarkan hal ini pelaku kritik kemudian bisa memilih strategi kritik yang dipandang tepat, apakah menggunakan strategi langsung ataukah tidak langsung. Penggunaan strategi kritik yang tidak tepat atau tidak cocok bisa rawan mengancam muka dan bahkan bisa menimbulkan ketegangan atau konflik antara pelaku kritik dan penerima kritik.

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Akhirnya, mari kita berdoa, semoga ilmu Prof. Dr. Prastiya Indra Gunawan, dokter., Spesialis Anak  Konsultan., Prof. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dokter., Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, Subspesialis Onkologi Konsultan, FICS., Prof. Heny Arwati, Doktoranda., Master of Science., Doctor of Philosophy., Prof. Dr. Rosy Setiawati, dokter., Spesialis Radiologi Konsultan, CCD., Prof. Dr. Tika Widiastuti, Sarjana Ekonomi, Magister Sains., Prof. Dian Yulie Rendrawati, Sarjana Sosiologi, Magister Manajemen, Doctor of Philosophy, CHE., Prof. Dr. Edy Jauhari, Doktorandus., Magister Humaniora. Semoga bisa memberikan manfaat bagi diri beliau, Universitas Airlangga, dan bangsa ini. Juga, semoga kita tidak lupa, bahwa apapun capaian atau prestasi yang kita peroleh, di hadapan Allah yang utama adalah ketaqwaan kita. 

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga Allah meridhai upaya kita semua. 

Billahitaufiqwalhhidayah

Wassalaamu’alaikumwr.wb.

Rektor,

Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak.