UNAIR NEWS – Berdasar riset Prof. Dr. Merryana Adriani, SKM., M.Kes., (Dietitien) akhir-akhir ini, angka obesitas pada anak dan remaja semakin meningkat. Kondisi itulah yang bisa memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, parkinson, kardiovaskuler, alzheimer, dan hipertensi.
Guru besar bidang Ilmu Gizi Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat yang dikukuhkan pada Kamis (14/12) tersebut menyatakan, penggumpalan lemak dalam tubuh akan menimbulkan penumpukan radikal bebas. Penumpukan itulah yang akan memicu kerusakan sel jaringan dan organ.
Selain obesitas, ada faktor eksternal pemicu tumbuhnya radikal bebas. Yakni, konsumsi makanan yang ”tidak aman”. Misalnya, konsumsi gorengan atau minyak berulang dan kepanasan yang lama, bahan tambahan pangan yang berbahan kimia, serta penggunaan penyedap dan pewarna dengan dosis yang tinggi.
”Bahan-bahan yang masuk tubuh tersebut akan membentuk radikal bebas dan bakal merangsang kondisi sel oksidatif. Kondisi sel oksidatif ini akan merusak sel, jaringan organ, dan menimbulkan munculnya penyakit,” ujar Prof. Merry.
Prof. Merry mengungkapkan, tubuh manusia sebenarnya memiliki antioksidan yang mampu menetralkan masuknya radikal bebas ke tubuh. Namun, jika tidak terjadi keseimbangan antioksidan tubuh, radikal bebas akan merusak sel dan jaringan. Kondisi itu dijumpai bila seseorang terus-menerus mengonsumsi makanan ”tak aman” dalam jangka waktu yang lama.
Karena itu, Prof. Merry memberikan sebuah usulan. Yakni, untuk mengonsumsi makanan yang bergizi, seimbang, dan aman.
Menurut dia, konsumsi makanan bergizi mampu menangkal radikal bebas yang masuk tubuh. Sementara itu, seimbang diartikan dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan, umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, serta kondisi fisiologis.
”Pada prinsipnya, seimbang adalah menjaga agar kita tidak obesitas. Karena itu, berhentilah makan sebelum kenyang,” ujar guru besar kelahiran Madiun, 17 Mei 1959, tersebut.
Berikutnya, konsumsi makanan yang aman adalah yang bebas dari bahan-bahan kimia seperti borak serta rhodamin. Makanan yang mengandung bahan pengawet tak aman itulah yang tidak boleh masuk tubuh.
”Pada prinsipnya, kalau kita tanggap pada makanan yang bergizi, seimbang, dan aman, radikal bebas bisa dikendalikan supaya tidak banyak yang masuk tubuh. Jadi, kita bisa menghindari penyakit sejak awal,” tambah ibu dari Rr. Dyah Ayu Pitaloka, dr., dan R. Dimas Bagus Wiryatmanto tersebut.
Prof. Merry menekankan bahwa konsumen harus pandai dalam membeli dan mengonsumsi sesuatu. Ketika membeli gorengan, misalnya, pilihlah penjual yang ”sehat” dalam berjualan.
”Jajanan boleh-boleh saja. Tapi, harus memilih yang aman untuk dikonsumsi. Sebetulnya, kita sebagai konsumen, kalau pandai, pasti nanti sebagai produsen juga akan ikut pandai,” kata Prof. Merry. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria





