UNAIR NEWS – Jelang pemilihan umum (Pemilu) tahun 2024, Dosen Universitas Airlangga (UNAIR, ajak masyarakat agar cerdas dan berhati-hati dalam memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden. Hal itu seperti yang Febby Risti Widjayanto SIP MSc sampaikan selaku narasumber dalam on air Suara Surabaya FM 100 “Pilih Yang Bener, Biar Ga Keblinger”, Rabu (17/02/2024).
Dalam on air tersebut, Fadil Rasyidi selaku host, berusaha menampung dan memfasilitasi masyarakat yang tergabung dalam obrolan. Salah satu hal yang tersorot dalam pembahasan isu tersebut adalah tingkat elektabilitas dan popularitas dari masing-masing pasangan.
“Elektabilitas dan popularitas ini kan sebenarnya sebagai salah satu upaya para pasangan calon untuk kemudian bisa mendapatkan concern dari masyarakat. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat sendiri juga aware akan hal itu,” ujar Febby.
Lebih lanjut Febby juga menegaskan banyak faktor yang akhirnya menyebabkan tingkat elektabilitas ketiga pasangan calon di antaranya adalah hasil survei yang banyak beredar. Namun meskipun demikian pihaknya tetap menegaskan untuk berhati-hati dalam menerima informasi survei yang beredar.

Mengenai Elektabilitas, Popularitas, dan Etikabilitas
Melanjutkan pembahasan mengenai elektabilitas dan popularitas, salah satu partisipan yang tergabung dalam panggilan radio juga turut memaparkan pendapatnya. Pihaknya, partisipan panggilan video itu mengatakan, selain elektabilitas dan popularitas, masyarakat juga harus memperhatikan etikabilitas.
“Kalau saya survei-survei elektabilitas itu kan hanya sebagai cermin. Kalau dari saya lebih melihat mengenai personal masing-masing orangnya,” ucap salah seorang partisipan.
Menanggapi hal itu, Febby menurutkan survei sebagai referensi awal memang penting. Namun setelah itu masing-masing orang mempunyai pekerjaan lain dalam menggali lebih dalam dan menetapkan pilihan. Selain itu, pihaknya, Febby, menjelaskan saat ini belum terdapat survei mengenai konsistensi kebijakan dalam penilaian etikabilitas.
“Itu kan yang belum ada dalam survei tentang konsistensi dalam mengerjakan kebijakan padahal itu sebenarnya kunci untuk akhirnya kita bisa menentukan,” jelasnya.
Track Record Janji Pasangan Calon
Febby juga menambahkan mengenai track record pasangan calon tentang janjinya yang tidak terpenuhi. Menurutnya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat perlu dijelaskan alasan mengenai programnya yang tidak terlaksana. Pihaknya menuturkan bahwa tidak dapat dipungkiri juga ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi baik dari regulasi yang sulit maupun kajian yang belum matang.
“Namun akan ada dua sisi juga, ada yang bisa menerima ada yang tidak bisa menerima, misalnya sudah dua kali menjabat tapi belum juga terealisasikan itu akan menimbulkan penilaian yang berbeda di masyarakat,” pungkasnya.
Penulis; Rosita
Editor Nuri Hermawan





