UNAIR NEWS – Jamu baru saja mendapat pengakuan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. Kendati demikian, tidak semua masyarakat memiliki kesadaran untuk melestarikan konsumsi jamu sebagai salah satu tradisi.
Untuk meningkatkan konsumsi jamu masyarakat, Dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), Rini Hamsidi SFarm MFarm Apt menggelar sosialisasi “Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Pembuatan Sirup Jamu”. Tidak sendirian, Rini melangsungkan kegiatan bersama mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) belajar bersama komunitas (BBK) UNAIR di Desa Balongsari, Surabaya.
Respons terhadap Pandemi
Rini mengungkapkan, sosialisasi ini bertujuan untuk mendorong konsumsi jamu masyarakat yang terus meningkat sejak pandemi Covid-19. “Pandemi Covid-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, mendorong peningkatan konsumsi jamu,” ujarnya.
Di sisi lain, kegiatan ini juga sekaligus menjadi respons atas kurang minatnya generasi muda terhadap konsumsi jamu. Hal tersebut menyebabkan rendahnya pemahaman standar keamanan obat di kalangan masyarakat maupun generasi muda, khususnya di Desa Balongsari. “Kurangnya minat remaja dan rendahnya pemahaman masyarakat terkait standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Balongsari masih menjadi perhatian,” tuturnya.

Pembuatan Jamu Berstandar BPOM
Lebih lanjut, Rini menyebut untuk meningkatkan konsumsi jamu perlu adanya pemahaman standar keamanan. Salah satunya adalah standar BPOM.
Dalam kegiatan ini, masyarakat bersama-sama mengikuti dan belajar proses pembuatan jamu gendong mulai dari pengolahan bahan hingga penyesuaian standar keamanan. Meskipun jamu gendong merupakan varian jamu yang tidak memerlukan izin edar, tetapi produk jamu gendong tetap harus aman, berkhasiat dan bermutu. “Oleh karena itu, kami ingin memberikan pemahaman dengan cara menerapkan hygiene sanitasi yang baik dan menggunakan bahan baku yang berkualitas sehingga masyarakat terlindungi dari peredaran obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan,” jelas Rini.
Selain jamu gendong, masyarakat juga antusias mengikuti pembuatan jamu sirup kunyit asam. Pasalnya, jenis jamu ini memiliki beragam manfaat seperti mengatasi pegal-pegal dan nyeri sendi, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi gejala flu dan batuk, menjaga kesehatan pencernaan, membersihkan racun dalam tubuh dan menyegarkan kulit.
Dalam lokakarya dan pembuatan jamu, antusiasme masyarakat terbilang tinggi. “Mereka sangat antusias dan tertarik dengan kegiatan ini. Mereka aktif dalam berdiskusi tentang cara menjaga kesehatan dengan menggunakan jamu khususnya jamu kunyit asam serta masyarakat ikut membuat sirup jamu kunyit asam,” ungkap Rini.
Pada akhir, Rini berharap agar kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya warga Desa Balongsari tentang manfaat kesehatan dari jamu kunyit asam yang sesuai standar syarat mutu dalam pembuatan jamu gendong yang baik. “Harapannya juga semoga mereka dapat melestarikan jamu sebagai warisan budaya bangsa. Adanya peningkatan dalam penjualan sirup jamu kunyit asam terutama bagi pemilik usaha jamu lokal di RW 5 Balongsari,” pungkasnya.
Sebagai tambahan, kegiatan ini telah berlangsung pada Sabtu (20/1/2024) dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNAIR.
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:
UNESCO Akui Jamu Warisan Budaya, Guru Besar UNAIR: Jangan Ragu Minum Jamu
Efek Akumulasi Zat Besi Terhadap Karies Gigi, Keradangan Gusi dan Jamur pada Anak





