Universitas Airlangga Official Website

RSUA Gelar Penyuluhan Kualitas Tidur, Peringati Hari Tidur Sedunia

dr Fidiana, SpS (K) selaku Ketua SMF Neurologi RSUA ketika memaparkan materi (Foto: Screenshot zoom)
dr Fidiana, SpS (K) selaku Ketua SMF Neurologi RSUA ketika memaparkan materi (Foto: Screenshot zoom)

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) mengadakan penyuluhan kesehatan bertema Hidup Sehat dengan Tidur Berkualitas pada Jumat (22/3/2024) secara daring. Hadir dalam acara, Ketua SMF Neurologi RSUA sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran, dr Fidiana Sp S(K) selaku narasumber.

Penyelenggaraan acara RSUA ini sejalan dengan rangkaian peringatan Hari Tidur Sedunia atau World Sleep Day (15/3/2024) dengan tema besar Sleep Equity for Global Health. Pada kesempatan tersebut dr Fidiana berkesempatan untuk menjelaskan bahwa tidur yang nyenyak mendatangkan kehidupan yang sehat.

“Artinya, kesetaraan tidur itu penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat. Apalagi masalah gangguan tidur juga sudah lama menjadi fokus penanganan oleh ilmuwan dan para dokter di luar negeri maupun di Indonesia,” ujarnya. 

Menurut dr Fidiana, sepertiga usia seseorang dihabiskan untuk tidur sehari selama 7-8 jam agar mendapatkan tidur nyenyak. Ia menjelaskan ada beberapa ciri kualitas tidur seseorang tidak baik. Di antaranya, ketika bangun tidur masih merasakan ngantuk, pegal, hingga sakit kepala. “Kalau tidurnya nyenyak itu bangun tidur seseorang akan merasa segar atau fresh kembali. Nah, itu adalah salah satu ciri-ciri tidurnya nyenyak atau berkualitas. Jadi, saat bangun seseorang akan merasa segar kembali,” jelas dr Fidiana.  

Lebih lanjut, dr Fidiana menjelaskan fisiologi tidur terbagi menjadi empat stadium. Stadium pertama atau non rem 1 merupakan peralihan antara bangun dan akan tidur atau istilahnya tidur ringan. Kemudian, stadium kedua adalah non rem 2, yang terjadi ketika sudah tidak terdengar suara jelas, nadinya reguler, serta suhu tubuh mulai menurun. Ketiga, stadium non rem 3 atau deep sleep, terjadi ketika tubuh mengembalikan stamina tubuh dan terjadi perbaikan sel tubuh. Fase terakhir atau fase rem, di mana pada fase inilah manusia mulai bermimpi dalam tidurnya. “Fase ketiga inilah yang menunjukkan kualitas tidur seseorang termasuk baik atau buruk,” ujarnya.  

Dr Fidiana juga menyebutkan beberapa gangguan tidur yang perlu diperhatikan ciri-cirinya. Pertama, insomnia atau kesulitan memulai dan mempertahankan tidur. Kedua, hipersomnia atau mudah tertidur dengan kondisi apapun. Ketiga, gangguan irama sirkadian yang dapat menghambat pembentukan melatoni menyebabkan seseorang tetap terjaga saat siang hari. Dan terakhir, parasomnia atau seseorang yang berjalan sambil tidur atau berbicara sendiri ketika tidur. 

Tidak hanya gangguan, dr Fidiana juga membagikan tips untuk mencegah gangguan tidur. Tips tersebut di antaranya adalah memakan makanan berat maksimal dua jam sebelum tidur. Kemudian, menghindari paparan sinar biru menjelang tidur, alkohol, rokok, dan kafein, olahraga berat menjelang tidur, serta menghindari stres. Tips yang terakhir yaitu mengondisikan tempat tidur yang nyaman dan serta  mengatur suhu dan cahaya ruang tidur. 

“Usahakan udara saat tidur tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Untuk cahaya mungkin semakin gelap semakin baik karena semakin cepat menstimulasi pembentukan melatonin untuk tidur,” jelasnya 

Penulis: Venni Tanujaya 

Editor: Yulia Rohmawati