UNAIR NEWS – Masyarakat, terutama umat muslim sangat menantikan momen lebaran atau Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran dengan penuh sukacita. Selain menjadi waktu kebersamaan dan kehangatan keluarga, momen bahagia tersebut juga terkenal dengan tradisi pemberian hadiah atau Tunjangan Hari Raya (THR).
Biasanya, THR diberikan dalam bentuk uang baru. Namun belakangan ini, beredar informasi bahwa uang baru tahun 2024 lebih sulit ditemukan daripada tahun-tahun sebelumnya.
Menyikapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Sri Herianingrum SE MSc mengungkapkan bahwa nyatanya Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan Uang Layak Edar (ULE) atau uang baru 2024 dengan jumlah yang lebih banyak daripada tahun sebelumnya.
“Menurut rilis Bank Indonesia, ULE tahun ini naik sekitar 4,65 persen dibandingkan dengan tahun 2023. Tahun ini, uang yang beredar sejumlah Rp197,6 triliun. Sedangkan tahun lalu berjumlah sekitar Rp188,8 triliun,” ungkap Prof Sri.
Penyebab dan Dampak
Prof Sri memperkirakan bahwa kesulitan masyakarat dalam menemukan uang baru karena adanya kenaikan tren harga barang yang signifikan. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dalam rangka mengendalikan harga.
Ketika pasokan uang terbatas dan harga barang di pasar tinggi, terdapat kecenderungan harga barang untuk menurun. Begitu pula ketika harga barang turun dan kenaikan jumlah uang yang beredar memilik ketidaksamaan dengan output yang beredar di pasar, maka akan menyebabkan inflasi. Menurut Prof Sri, hal tersebut merupakan upaya pemerintah supaya masyarakat tidak terlalu konsumtif.
“Kelangkaan atau kekurangan dalam penyediaan jumlah uang yang beredar juga merupakan upaya pemerintah dalam membatasi penggunaan uang secara produktif di kalangan masyarakat. Selain itu, juga bertujuan meningkatkan penggunaan transaksi secara digital, sehingga lebih masif,” terang Pakar Ekonomi UNAIR tersebut.
Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) tersebut, fenomena kelangkaan uang baru hanya terjadi sementara. Namun, kelangkaan tersebut dapat memberikan potensi inflasi jika terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Hanya BI yang mempunyai otoritas terkait penetapan uang yang beredar.

Alternatif Uang Baru
Meskipun uang baru tergolong langka, masyarakat dapat menggunakan alternatif lain untuk memberikan THR, seperti transfer antarbank atau menggunakan platform transaksi uang lainnya. Dengan demikian, kelangkaan uang baru tidak mengganggu suasana lebaran.
Prof Sri menjelaskan bahwa keberadaan atau ketiadaan uang baru bukanlah masalah utama. Kendala yang sesungguhnya terjadi ketika perusahaan tidak memberikan THR kepada pegawainya tepat waktu.
“Terdapat dua hal dalam pembagian THR. Yang pertama adalah mengajarkan masyarakat untuk bersosialisasi .Yang kedua mengajarkan berderma dengan memberikan THR kepada anak, cucu, kolega, atau tetangga,” ucap beliau.
Prof Sri berharap agar otoritas terus terjaga dan kenaikan jumlah uang yang beredar tidak menyebabkan inflasi. Terakhir, beliau menegaskan pentingnya menjaga kebahagiaan masyarakat dengan memberikan akses bagi mereka untuk mendapatkan atau menukarkan uang baru.
Penulis: Maissy Ar Maghfiroh
Editor: Feri Fenoria
Baca Juga:
Pakar Antropologi Ungkap Tradisi Penggunaan Uang Baru untuk THR
Simak! Tips Kelola THR dengan Tepat dari Dosen Ekonomi UNAIR





