Universitas Airlangga Official Website

Tradisi Pembacaan Serat Ambiya dengan Cengkok

Sumber: dokumentasi pribadi

Penulis : Kelompok 4 PKL Folklor Kelas A

Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) angkatan 2022 berhasil menyelesaikan kegiatan PKL pada tanggal 24-25 Mei 2024  yang bertempat di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Desa Kemloko merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur. Wilayahnya yang terletak di kaki Gunung Kelud, membuat Kemloko menjadi desa yang memiliki pemandangan alam yang indah, selain pemandangan alamnya yang memukau Desa Kemloko juga terkenal akan wisata budayanya yang masih kental.

Kesenian di Indonesia terdiri dari berbagai pertunjukan, diantaranya: seni tari, seni musik, seni rupa, dan seni sastra. Beberapa contoh kesenian yang masih lestari di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur seperti kesenian Reog Bulkiyo, Genjring, Jaranan, Mancapat, Jedor, dan Sawung Galing. Salah satu kesenian yang masih berkembang di desa Kemloko adalah kesenian Ambiyo. Kesenian Ambiyoan memakai tembang macapat untuk menembangkan kitab-kitab Serat Ambiya. 

            Tembang macapat merupakan langgam dalam bentuk lagu yang biasanya terdapat pada seni karawitan Jawa. Tembang macapat terdiri dari 11 tembang yang meliputi Pangkur, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Durma, Mijil, Kinanthi, Gambuh, Pucung, dan Megatruh. Sebelas tembang macapat tersebut memiliki ciri khas masing-masing yang dapat dibedakan melalui jumlah guru gatra (baris), jumlah guru wilangan (suku kata), dan guru lagu (huruf vokal terakhir pada setiap baris).         

Membaca Serat Ambiya adalah salah satu dari tradisi masyarakat di Desa Kemloko. Serat Ambiya ini merujuk pada surah yang ada di Al-Qur’an yaitu Surah Al-Anbiya’ yang mengisahkan nabi-nabi. Anbiya’ dirasa susah dalam pelafalannya oleh orang Jawa, sehingga berubah menjadi Ambiya atau Ambyo’ (lidah orang Jawa). Serat Ambiya merekam Islam berdasarkan ekologi Jawa.

Pembacaan Serat Ambiya biasa dilakukan saat kelahiran bayi hingga hari ketujuh untuk menyambut kelahiran sang bayi. Serat ini mengisahkan 25 nabi dan membawa pesan moral yang mendalam bagi pendengarnya. Melalui pembacaan serat Ambiya, bayi yang lahir diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang saleh atau salihah, berbakti, dan tentu saja bermanfaat bagi bangsa. Tetapi, pembacaan serat ini dilakukan ketika diundang saja oleh pihak keluarga, apabila tidak diundang maka tidak akan dibacakan serat Ambiya.

            Menembang macapat tidak hanya sekadar melantunkan lagu (bernyanyi), tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalamya. Di Jawa khususnya daerah Mataraman tentu memiliki jenis cengkok atau lagu yang khas dari daerahnya masing-masing. Begitu pula yang dilantunkan pada pembacaan Serat Ambiya (24/05) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar yang menggunakan beberapa variasi cengkok.

Para pembaca Serat Ambiya ini menembang menggunakan dua cengkok atau lagu yaitu cengkok “Babon”, cengkok khas yang dimiliki oleh Desa Kemloko dan juga cengkok gaya Surakarta. Terdapat beberapa perbedaan diantara dua cengkok tersebut. Pada cengkok babon ritmenya sedikit cepat dengan akhiran cengkok yang lebih panjang. Sedangkan, cengkok gaya Surakarta setiap bait tembang (sak podo) yang dilantunkan ritmenya sedikit lambat dengan cengkok-cengkok sepanjang tembang khas Surakarta.

Pembacaan Serat Ambiya tersebut diawali tembang Pangkur dengan cengkok babon, tembang Dhandhanggula menggunakan cengkok babon awalnya yang kemudian di pertengahan berganti cengkok gaya Surakarta. Tembang Asmarandhana dan Sinom menggunakan cengkok gaya Surakarta. Terakhir, tembang Megatruh, Pangkur, Maskumambang, dan Dhandhanggula menggunakan cengkok babon.

Penggunaan kedua cengkok tersebut tidak terikat langsung oleh tembangnya, cengkok-cengkok tersebut sebagai variasi tembang yang dilagukan. Dengan demikian pembacaan Serat Ambiya ini sangat menarik untuk disaksikan sekaligus dapat mempelajari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Referensi:

Yulianti, Cicin. (2022, 11 November). Tembang Macapat: Pengertian, Jenis-jenis, dan Contohnya. Diakses pada 5 Juni 2024 dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6399138/tembang-macapat-pengertian-jenis-jenis-dan-contohnya/amp