Surabaya, 20 Mei 2024 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) dengan bangga menyambut kedatangan mahasiswa inbound dari Staffordshire University, Inggris. Program Student Inbound ini berlangsung pada bulan Mei hingga Juni 2024 dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk mempelajari berbagai aspek ke-Indonesiaan.
Sebagai bagian dari program ini, mahasiswa menerima materi dari berbagai dosen di FIB UNAIR, salah satunya adalah Dr. Johny Alfian Khusyairi, seorang dosen Ilmu Sejarah. Dr. Johny menyampaikan kuliah mengenai “Introduction to the History, Culture, and Society of East Java”, yang meliputi pembahasan mendalam tentang berbagai subkultur di Jawa Timur.
Subkultur di Jawa Timur
Dr. Johny menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki beragam subkultur yang unik, termasuk Mataraman, Arèk, Pandhalungan, Madura, Tengger, Samin, dan Osing. Masing-masing subkultur ini memiliki karakteristik budaya yang berbeda, mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah daerah tersebut.
Penduduk Awal dan Periode Paleo-Klasik
Dalam kuliahnya, Dr. Johny juga membahas tentang penduduk awal di Jawa Timur seperti Meganthropus Paleojavanicus, Pithecantropus Mojokertensis, Pithecantropus Erectus, Pithecanthropus Soloensis, Homo Wajakensis, Homo Floresiensis, Homo Soloensis, dan Homo Sapiens.
Beliau melanjutkan dengan penjelasan tentang periode Paleo-Klasik, yang mencakup dinasti Kalingga pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi, dinasti Syailendra dengan candi-candi seperti Kalasan (778 M), Kelurak (782 M), dan Ratu Boko (856 M), serta dinasti Sanjaya dengan prasasti-prasasti seperti Canggal (732 M) dan Balitung (907 M).
Transfer Kerajaan dan Periode Neo-Klasik
Dr. Johny juga menguraikan proses transfer kerajaan di Jawa, di mana tidak ditemukan prasasti di Jawa Tengah setelah tahun 929 M. Menurut Van Bemmelen, terjadi pralaya pada tahun 1017 M, sedangkan Boechari dan Wisseman Christie mengemukakan bahwa Sindok memindahkan kerajaan.
Periode Neo-Klasik mencakup kerajaan Kadiri (abad 11-12 M), Singhasari (1222-1292 M), dan Majapahit (1293-1521 M). Airlangga, Raja Koripan, mengeluarkan banyak prasasti dan memimpin wilayah yang lebih kecil dibandingkan Sindok. Airlangga adalah satu-satunya raja yang menuliskan perjanjian pada batu, menunjukkan pentingnya dokumentasi pada masa itu.
Misi Pamalayu dan Kebudayaan Majapahit
Dr. Johny juga membahas misi Pamalayu, yang bukan merupakan ekspedisi militer melainkan misi diplomatik untuk mengirimkan Amoghapasa dan menjaga hubungan damai antara kerajaan-kerajaan di Nusantara. Hal ini bertujuan untuk mencegah pengaruh kekuasaan Kubhilai Khan di Nusantara dan memperkuat persatuan.
Sutasoma karya Mpu Kanwa dan Tantu Panggelaran juga menjadi fokus pembahasan. Kedua karya sastra ini menyoroti pentingnya penghargaan dan pengembangan budaya lokal, serta superioritas budaya Jawa dibandingkan budaya India pada masa itu.
Kisah Diaspora Panji
Dr. Johny menutup kuliahnya dengan cerita tentang diaspora Panji yang menyebar ke berbagai daerah seperti Bali, Lombok, Palembang, Banjarmasin, Semenanjung Melayu, Kamboja, dan Thailand. Kisah Panji merupakan bagian penting dari warisan budaya Jawa yang diakui di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Dengan program Student Inbound ini, diharapkan mahasiswa Staffordshire University dapat memperdalam pemahaman mereka tentang sejarah, budaya, dan masyarakat Jawa Timur, serta mengapresiasi kekayaan budaya Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga terus berkomitmen untuk memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada dunia internasional.




