Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terkenal dengan kearifan lokal dan wisata budaya Jawa Mataraman yang masih kental dan dilestarikan. Desa ini tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata alamnya, namun juga dengan budaya Jawa Mataraman yang masih memegang teguh kearifan lokal.
Pada Jumat (24/05/2024) mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) melaksanakan Praktik Kuliah Lapangan di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, Jawa Timur untuk syarat pemenuhan tugas dengan berobjekkan Folklor Lisan Tembang Macapat Naskah Serat Ambiya. Serat Ambiya adalah salah satu bentuk kesenian Islam-Jawa yang merupakan adaptasi dari literatur “Qashash Al-Anbiya” yang populer dalam sejarah Islam.
Serat Ambiya ditulis dalam aksara Arab pegon dan aksara Jawa Kawi. Menurut catatan sejarah, naskah ini ditulis oleh Jayangminarso, saudara tiri Pakualaman II, pada akhir abad ke-19 naskah ini dihadiahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono V, yang dikenal sebagai raja yang aktif dalam mengembangkan seni dan budaya keraton. Isi naskah mencakup kisah-kisah tentang para nabi yaitu Nabi Daud, Kisah Nabi Yusuf yang dikejar oleh Zulaikha serta Nabi Adam yang memakan buah Khuldi, termasuk Nabi Musa.
Pembacaan Macapat Serat Ambiya sendiri menjadi salah satu tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat Desa Kemloko. Pembacaan ini dilakukan ketika terdapat kelahiran bayi hingga hari ke-7, para warga bergantian melakukan pembacaan Serat Ambiya yang menceritakan kisah nabi dan rasul.
Tradisi yang dilakukan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan moral sejak dini. Masyarakat sangat memperhatikan betul pelestarian budaya agar budaya tersebut tidak hilang begitu saja. Fungsi dari Serat Ambiya yaitu sebagai ritual (doa) dan pertunjukkan. pelestarian Serat Ambiya juga dilaksanakan melalui beberapa kesempatan seperti acara keagamaan dan ritual, acara adat dan tradisi, pendidikan tradisional, pertunjukan seni dan budaya, acara keluarga, dan festival budaya.
Di era modern ini, keberadaan macapat semakin terdesak oleh arus globalisasi dan modernisasi. Revitalisasi macapat menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya ini. Salah satu strategi revitalisasi yang dilakukan mahasiswa yaitu melalui digitalisasi yaitu dengan melakukan perekaman lalu disebarluaskan melalui platform digital. Pendokumentasian atau digitalisasi pada serat Ambiya perlu dilakukan agar tradisi nusantara tetap terjaga. Selain itu peran anak muda diperlukan agar mereka tetap menjaga tradisi dan dapat diwariskan di masa yang akan datang.




