UNAIR NEWS – Telah lebih dari satu abad sosok perempuan bernama Kartini, pelopor kebangkitan perempuan, berjuang untuk emansipasi wanita di Indonesia. Meski telah berabad lamanya, pemikiran-pemikiran Kartini tetap relevan hingga kini. Dalam rentan waktu itu, banyak pekerjaan rumah (PR) yang telah tuntas. Namun, ada juga yang belum terselesaikan.
Dalam acara Gelar Inovasi Guru Besar yang dilaksanakan di Kampus C Universitas Airlangga (UNAIR), Selasa (24/4) profesor bidang sosiologi gender Prof. Emy Susanti membahas kembali tentang pokok pemikiran Kartini dalam mengangkat derajat perempuan. Baik yang sudah maupun yang belum tercapai.
Pemikiran itu terdiri dalam tiga pokok. Pertama, memerangi kebodohan dengan cara bersekolah, berpendidikan, dan memiliki ketrampilan. Kedua, memerangi kemiskinan dengan cara berkontribusi secara sosial dan ekonomi. Ketiga, memerangi ketidakadilan pada perempuan dengan cara menentang poligami, perjodohan paksa, dan pingitan.
“Saat ini dua hal sudah beres, perempuan berpendidikan dan berkontribusi secara sosial. Poin ketiga belum. Dan, itu yang juga terus diperjuangkan Pusat Studi dan Gender UNAIR,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Emy juga menyoroti bidang domestik dan publik yang tidak dapat seratus persen dipisahkan. Keduanya, menurut dia, bisa dikerjakan secara bersamaan.
“Memilih untuk melakukan pekerjaan domestik atau berkarir, itu hanya streotipe pikiran yang diwariskan kepada kita sejak dulu. Misalnya, memasak. Memasak adalah sebuah keahlian dan profesi, tidak harus perempuan,” katanya. “Apalagi jaman sekarang. Laki-laki bisa masuk sektor domestik. Sebaliknya, perempuan masuk sektor publik,” tambah perempuan yang menjadi satu-satunya guru besar sosiologi gender di Indonesia itu.
Menurut dia, saat ini yang terjadi di Indonesia, perempuan sudah jauh lebih maju dan mudah hidupnya. Ingin berpendidikan tinggi bisa. Memilih berwirausaha bisa. Membela ketidakadilan gender juga bisa. Kemajuan teknologi memungkinkan semuanya bisa dikerjakan di rumah. Karena itu, lanjut Emy, perempuan bisa berpartisipasi dalam bidang apa pun.
Pada era milenial ini, lanjut dia, katakteristik yang paling menonjol yang terjadi dalam masyarakat adalah confident, high expectation dan achievement oriented.
“PR kita adalah laki-laki sebaiknya mengikuti perkembangan ini. Tidak mengungkung perempuan pada sektor domestik saja. Perempuan tidak dihambat untuk bekerja, tapi tetap dibebani pekerjaan dan tugas-tugas domestik. Laki-laki memang harus ikut menyelesaikan,” ujar Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita atau Gender dan Anak Indonesia (ASWGI) itu.
Ketua program studi S2 Sosiologi FISIP itu menambahkan, semua diskusi tentang kesetaraan perempuan seyogyanya tidak hanya diikuti oleh perempuan. Laki-laki juga harus turut serta. Dalam diskursus itu, partisipasi antara perempuan dan laki-laki haruslah berimbang. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria





