Universitas Airlangga Official Website

Bayu Skak Bagikan Kisah Perjalanan Berkarya di Acara KahForward UNAIR

Bayu Skak dalam Acara KahForward UNAIR, Selasa (25/2/2025) di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) (Foto: Istimewa)
Bayu Skak dalam Acara KahForward UNAIR, Selasa (25/2/2025) di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – KahForward UNAIR, acara inspiratif yang menghadirkan beberapa bintang tamu sukses terlaksana pada Selasa (26/2/2025) di gedung Airlangga Convention Center (ACC) UNAIR. Acara ini mengundang Bayu Eko Moektito, atau terkenal dengan panggilan Bayu Skak. Dalam kesempatan ini, Bayu Skak membagikan kisah perjalanannya dalam dunia kreatif. Mulai dari awal merintis karir hingga tantangan sampai membentuknya menjadi Bayu Skak yang sekarang. 

Bayu Skak menceritakan awal perjalanan karirnya yang terkenal sebagai YouTuber pada masanya. Pada awal, ia menjelaskan bahwa hanya sekadar mengunggah video tanpa rasa percaya diri. Namun, motivasi untuk terus berkarya muncul dari komentar-komentar positif yang ia terima. “Dulu sebenarnya motivasi untuk terus bikin konten itu hanya dari kolom komentar. Beberapa bilang Mas, bikin lagi bikin lagi,” ucap Bayu. 

Selama perjalanan berkarya, Bayu menyadari bahwa kreativitas tidak memiliki batas apa pun. “Pernah saya merasa paling kreatif setelah menciptakan sesuatu misalnya. Namun setelah melihat lebih luas, ternyata masih banyak lagi yang lebih dari saya,” katanya. Hal ini membuat Bayu untuk terus berkembang, mencoba hal baru, dan selalu mengambil peluang. 

Bayu mengungkap bahwa siapa pun berhak menjadi apa pun, dan akan selalu memiliki kesempatan untuk berkarya. Bayu mencontohkan film Yowis Ben salah satu karyanya. “Film Yowis Ben ini film yang mengangkat bahasa lokal, yaitu bahasa Jawa. Namun, tetap memperhatikan nilai universal, sehingga dapat diterima lebih luas. Jika menggunakan bahasa yang hanya dimengerti satu etnis, itu kurang maksimal. Kita harus bisa memadukan nilai lokal dengan sesuatu yang lebih universal,” tukasnya. 

Setelah beberapa hal di atas, Bayu juga menceritakan mengenai perjalannya yang tidak selalu mulus. Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah ketika naskah film Yowis Ben yang awalnya berbahasa Jawa, dengan tiba-tiba diminta untuk mengubah ke bahasa Indonesia oleh produser. “Meski begitu, saya tetap akan berpegang pada prinsip saya untuk mengangkat salah satu budaya lokal. Saya ingin mengangkat Jawa Timur, daerah saya sendiri,” ujar pria kelahiran Malang itu.

Pada akhir, Bayu berpesan kepada peserta yang hadir untuk terus berkarya dan mengubah pola pikir, bahwa kreativitas dari daerah juga bisa bersaing di tingkat nasional. “Jangan takut untuk menjadi sosok yang kreatif dan berani menciptakan sesuatu yang berbeda,” tutupnya. 

Penulis: Zahwa Najiba Putri Malika

Editor: Yulia Rohmawati