UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati Nuzulul Quran, Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pengajian bertema Al-Qur.’an sebagai sumber intelektualitas muslim. Acara berlangsung di Aula Utama Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C, UNAIR, Selasa (18/3/2025). Pada kesempatan itu, mengundang pembicara Dr H Fahruddin Faiz SAg MAg, ahli filsafat sekaligus dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Prof Dr M Hadi Shubhan SH CN MH selaku Direktur Kemahasiswaan sekaligus Manajer Bidang Dakwah dan Pendidikan Masjid Ulul Azmi UNAIR turut memberikan sambutan. Prof Hadi menekankan pentingnya momentum Nuzulul Quran sebagai kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Al-Qur.’an dan meningkatkan pemahaman di dalamnya. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan antusiasmenya dengan datangnya narasumber yang selama ini dikenal luas di berbagai platform digital.
“Biasanya kita lebih sering mendengar beliau dari YouTube, tetapi sekarang kita bisa bertemu langsung. Mudah-mudahan materi kajian yang disampaikan oleh beliau nanti dapat membawa keberkahan di bulan ramadan ini,” ujarnya.
Hubungan Manusia dengan Al-Qur.’an
Dr Fahruddin dalam ceramahnya menekankan pentingnya Al-Qur.’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ia mengajak para jamaah untuk bersyukur atas nikmat besar yang telah Allah berikan, termasuk diturunkannya Al-Qur.’an sebagai pedoman hidup.
Mengawali kajiannya, Dr Fahruddin meminta jamaah bermuhasabah mengenai hubungan mereka dengan Al-Qur.’an. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat kedekatan yang berbeda dengan kitab suci ini yang terbagi dalam tiga kategori.
Pertama, seseorang yang bisa membaca Al-Qur.’an tetapi belum tentu memiliki waktu dan keinginan untuk membacanya. Kedua, mereka yang mau membaca tetapi hanya sekadar formalitas, misalnya dalam momen-momen tertentu seperti bulan ramadan. Dan ketiga, mereka yang benar-benar mencintai Al-Qur.’an dan menikmatinya tanpa merasa terbebani.
“Jenis orang kategori ketiga adalah yang paling istimewa karena memiliki hubungan erat dengan Al-Qur.’an. Bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga kebutuhan dan kecintaan,” ujar Dr Fahruddin.
Lebih lanjut, ia menerangkan level dalam beragama, yaitu ta’ah, hajjah, dan mahabbah. Pada level ta’ah, seseorang memandang agama hanya sebatas memenuhi kewajiban. Level kedua, hajjah adalah tahap ketika seseorang memahami manfaat agama, namun terkadang masih ada perhitungan dengan Allah. Sedangkan level tertinggi mahabbah yakni saat seseorang mencintai Al-Qur.’an tanpa mengharap balasan apapun. “Jika kita sudah sampai level mahabbah, InsyaAllah kita akan merasa nyaman dalam beragama,” jelasnya.
Menemukan Makna dalam Al-Qur.’an
Ia menguraikan pula kategori interaksi manusia dengan Al-Qur.’an, yaitu tilawah, qiroah, dan tadabbur. Tilawah bukan sekadar membaca, tetapi juga melibatkan kesiapan untuk mengikuti dan mengamalkan ajarannya. Sementara, qiroah menitikberatkan pada pemahaman intelektual terhadap Al-Qur.’an, termasuk menelaah ayat-ayat yang berkaitan dengan alam semesta, hakikat manusia, dan sejarah kisah-kisah terdahulu. Kemudian tadabbur, mengajak seseorang untuk merenung dan mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur.’an dalam meningkatkan kualitas hidup.
Terakhir, Dr Fahruddin juga membahas berbagai alat dalam memahami kebenaran Al-Qur.’an dan Islam, seperti akal, panca indera, fitrah, nurani, intuisi, dan imajinasi. Ia menekankan bahwa dalam Islam, pengetahuan tidak hanya bergantung pada akal dan fakta empiris semata, tetapi juga melibatkan intuisi serta nurani yang dapat membantu seseorang menemukan makna lebih dalam pada kehidupan.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Khefti Al Mawalia





