UNAIR NEWS – Mahasiswa diharapkan hadir sebagai agen sekaligus pemimpin di masyarakat dalam memecahkan problem-problem yang muncul. Minimal, kiprah itu tersalurkan dalam lingkup terkecil, di lingkungan masyarakat terdekat.
Seperti halnya di bidang lingkungan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya yang menggandeng Komunitas Osoji Club Surabaya. Keduanya berkolaborasi untuk menggelar Kegiatan Subermen (Sungai Bersih Karang Menjangan) di RT 1, RW 7, Karang Menjangan, Kota Surabaya, Minggu pagi (5/8).
Kegiatan tersebut berupa pembersihan sungai dari sampah di sekitarnya dengan caruk (tongkat trisula). Sampah-sampah dipunguti, kemudian dimasukan ke trash bag (kantung sampah). Oleh warga setempat, sampah-sampah itu diolah sebagai upaya reuse, reduce, dan recycle.
Menteri Pengabdian Masyarakat BEM FIB UNAIR Iqbal menyatakan, seluruh tim bahu-membahu membersihkan kali dengan caruk bersama warga. Caruk-caruk itu disediakan langsung oleh pihaknya.
”Kami terjun ke kali dengan caruk untuk mengambil sampah. Kami dari panitia sendiri yang menyediakannya,” ujarnya.
”Teman-teman yang cowok langsung nyebur ke sungai, sedangkan yang cewek mengambil dan memilah sampah,” imbuhnya.
Menurut Iqbal, beberapa sampah hasil pembersihan diolah. Misalnya, sampah botol bekas. Yang lainnya, dikumpulkan, kemudian Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya yang mengambilnya. Kegiatan itu, lanjut dia, digelar karena aliran sungai di sana tidak lancar. Khususnya ketika musim hujan yang bisa mengakibatkan banjir.
”Tadi sebelum kegiatan, airnya (aliran, Red) mampet. Juga ditemukan banyak sampah diapers (popok bayi), alat-alat perabotan rumah tangga seperti bekas mebel, payung, dan sampah-sampah plastik,” katanya.
Sosialisasi Sampah
Seusai bersih-bersih, kepada warga, panitia menyosialisasikan pengelolaan sampah di Balai RT setempat. Kegiatan itu diisi Wiji Lestari, ketua RT 1, dan Surya, perwakilan Osoji Club Surabaya. Tema ”Edukasi Bahaya Sampah di Sungai” diangkat dalam sosialisasi tersebut. Sebanyak 26 ibu-ibu warga sekitar hadir.
”Mengurangi sampah itu baik. Kalau sampahnya banyak, kita harus kreatif. Kita olah kembali jadi barang yang berguna supaya tidak jadi sampah,” ujar surya dalam paparannya.
Terkait dengan kegiatan tersebut, pihak Osoji Club mengaku sangat senang. Khususnya pelibatan komunitas dalam aksi sosial semacam itu.
”Sangat senang, ada yang gandeng (komunitas) kita di sini. Sebab, karena respons warga juga sangat baik untuk mengelola sampah,” ucap Surya.
Sementara itu, Wiji menyatakan bahwa diperlukan manajemen sampah yang baik di lingkungan masyarakat. Selain itu, diperlukan upaya pemanfaatan sampah untuk memiliki nilai ekonomi.

”Ayo kita buat, satu minggu sampah organik bisa satu truk dari warga. Harus ada yang mengkoordinasi sampah di tiap blok (gang) buat bantu saya. Lalu uangnya bisa kita sisihkan untuk kepentingan bersama,” ujarnya menanggapi pertanyaan Asiyah, salah seorang warga, soal pengelolaan sampah organik yang menumpuk di lingkungan.
Perlu diketahui, Subermen merupakan program kerja lanjutan BEM FIB sejak tahun lalu. Ke depan ada program menyediakan jaring sampah di sungai. Jika sungai sudah bersih, akan dibuat jaring keramba ikan. (*)
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria Rifa’i





