Berita UNAIR Pascasarjana, Rabu,05 Februari 2025 – Pertemuan 𝑊𝑜𝑟𝑙𝑑 𝐸𝑐𝑜𝑛𝑜𝑚𝑖𝑐 𝐹𝑜𝑟𝑢𝑚 (WEF) 2025 telah berlangsung minggu lalu di Davos, Swiss. Sejak 1971 lalu, WEF mempertemukan pemimpin global yang berlatar belakang politik, bisnis, akademisi, dan pemimpin masyarakat lainnya untuk menjawab beragam tantangan global dan regional.
Tema pertemuan tahun 2025 adalah ‘𝐶𝑜𝑙𝑙𝑎𝑏𝑜𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑓𝑜𝑟 𝑡ℎ𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑙𝑙𝑖𝑔𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑔𝑒,’ yang menekankan pentingnya kolaborasi global pada era kemajuan teknologi yang pesat dan dinamika geopolitik yang kompleks. Dihadiri hampir 3 ribu delegasi dari 130 negara, 60 orang diantaranya merupakan kepala negara dan pemerintahan. Delegasi Indonesia diwakili oleh Kementerian Investasi, Kementerian Bapppenas, dan KADIN Indonesia.
Isu strategis yang dibahas pada WEF tahun ini meliputi sumber pertumbuhan ekonomi baru dunia, keberlanjutan, penyelamatan lingkungan, maupun membangun kembali kepercayaan antar bangsa. Keempat isu strategis tersebut tergantung pada bagaimana masing-masing negara berinvestasi pada sumber daya manusia (SDM). Apakah investasi pada pendidikan saat ini mampu menjadikan SDM berkontribusi pada bangsanya di masa depan.
𝐅𝐮𝐭𝐮𝐫𝐞 𝐨𝐟 𝐉𝐨𝐛𝐬 𝐑𝐞𝐩𝐨𝐫𝐭 𝟐𝟎𝟐𝟓
Salah satu laporan tahunan WEF yang ditunggu-tunggu adalah 𝐹𝑢𝑡𝑢𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐽𝑜𝑏𝑠 𝑅𝑒𝑝𝑜𝑟𝑡 2025. Diikuti lebih dari seribu pengusaha global terkemuka yang secara kolektif mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 22 klaster industri dan 55 negara di seluruh dunia; kajian dilakukan untuk memprediksi ketrampilan pekerja apa yang dibutuhkan hingga tahun 2030. Tentu dengan mempertimbangkan perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau; yang secara individual maupun gabungan merombak industri dan pasar tenaga kerja global lima tahun ke depan.
Laporan ini memprediksi terciptanya 170 juta lapangan pekerjaan baru, adapun 92 juta pekerjaan lama akan hilang. Optimisnya, akan terdapat selisih 78 juta lapangan pekerjaan baru di seluruh dunia. Rata-rata, pekerja dapat memperkirakan bahwa duaperlima (39%) keahlian yang mereka miliki akan berubah atau menjadi ketinggalan zaman selama periode 2025-2030. Tantangan terbesar bagi pengembangan bisnis adalah kesenjangan yang semakin besar antara keterampilan yang tersedia dan yang dibutuhkan, karena hampir 40% kompetensi yang dibutuhkan di tempat kerja akan berubah. Ketidaksesuaian keterampilan ini sudah menjadi masalah yang mendesak, dengan hampir dua pertiga pengusaha (63%) menyebutnya sebagai rintangan utama mereka untuk tumbuh. Karena pasar kerja terus berubah dengan cepat, kesenjangan ini dapat menciptakan hambatan yang lebih kritis.
Pemikiran kreatif tetap menjadi keterampilan inti yang paling dicari, dengan tujuh dari 10 perusahaan menganggapnya penting pada tahun 2025. Diikuti oleh ketahanan, fleksibilitas dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial. 𝐴𝐼 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎 berada di puncak daftar keterampilan yang tumbuh paling cepat, diikuti oleh jaringan dan keamanan siber serta literasi teknologi.
Laporan ini juga mengindikasikan 85% pengusaha yang disurvei berencana untuk memprioritaskan peningkatan keterampilan tenaga kerja mereka (𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔). Adapun 70% pengusaha berharap untuk mempekerjakan staf dengan keterampilan baru, 40% berencana untuk mengurangi staf karena keterampilan mereka menjadi kurang relevan, dan 50% berencana untuk mengubah staf dari peran yang menurun menjadi peran yang berkembang.
Kondisi Pendidikan Tinggi Indonesia
Menurut BPS, penduduk usia produktif (15-64 tahun) Indonesia mencapai 69,13% tahun 2023. Proporsi ini akan meningkat hingga 10 tahun ke depan, yang digadang-gadang menjadi bonus demografi dan akan mengakselerasi ekonomi Indonesia menjadi negara maju tahun 2045. Data Keadaan Angkatan Kerja per Agustus 2024 oleh BPS menunjukkan secara umum usia produktif yang bekerja mencapai 95,09%. Proporsi terendah pada rentang usia 15-19 tahun (77,66%), diikuti usia 20-24 tahun (84,66%). Hal ini dikarenakan sebagian besar sedang sekolah dan kuliah (hampir 15,6 juta orang).
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi terbaru melaporkan hampir 10 juta mahasiswa aktif yang sedang kuliah. Lebih dari 80% berada pada jenjang sarjana, adapun diploma mencapai 9%. Hampir seperempatnya di bidang ilmu pendidikan, dengan ilmu sosial dan ilmu ekonomi berjumlah hampir 2 juta. Adapun bidang teknik memiliki mahasiswa lebih dari 1,5 juta orang, diikuti bidang ilmu kesehatan sebesar 850 ribuan. Proporsi yang sama terdapat pada lulusan maupun program studi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi.
Total dosen yang terdaftar mencapai 350.275 orang, yang mana 73% diantaranya masih berkualifikasi Magister atau yang setara. Data ini belum termasuk kapan pendidikan terakhir ditempuh, yang akan menunjukkan relevansi dan 𝑢𝑝𝑑𝑎𝑡𝑒 keilmuan yang dimiliki. Data resmi juga menunjukkan terdapat hampir tigaperlima dosen berumur kurang dari 45 tahun, dan kecenderungan memiliki literasi teknologi lebih baik.
Sepanjang tahun 2024, berbagai sektor industri di Indonesia melakukan PHK secara massal dan berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial negara kita. Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan peningkatan PHK 21,4% relatif terhadap tahun lalu. Sektor manufaktur menjadi penyumbang tertinggi, diikuti sektor jasa dan sektor agribisnis. Bahkan 𝑠𝑡𝑎𝑟𝑡𝑢𝑝 yang berbasis digitalisasi juga melakukan PHK besar-besaran seiring lesunya perekonomian dunia dan Indonesia. Data Keadaan Angkatan Kerja 2024 untuk usia 25-34 tahun yang menganggur mencapai 1,85 juta. Jumlah tersebut berpotensi meningkat dengan pasokan baru lulusan perguruan tinggi yang mencapai 1,566 juta jiwa tahun 2022/2023. Mengingat kebutuhan pasar kerja untuk pegawai berpendidikan tinggi juga terbatas, apalagi relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri selama ini diakui kurang.
Upskilling dan Reskilling
𝐹𝑢𝑡𝑢𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐽𝑜𝑏𝑠 𝑅𝑒𝑝𝑜𝑟𝑡 2023 melaporkan 49% dari 687 juta pekerja seluruh dunia bekerja tidak sesuai dengan pendidikan formal yang diikutinya. Untuk Indonesia, dari 130,5 juta pekerja, hanya 49% yang sesuai dengan pendidikan formal yang ditekuninya. Adapun 16% pekerja 𝑜𝑣𝑒𝑟-𝑒𝑑𝑢𝑐𝑎𝑡𝑒𝑑, dan yang mengejutkan 35% dilaporkan 𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟-𝑒𝑑𝑢𝑐𝑎𝑡𝑒𝑑. Konsisten dengan pemberi kerja yang menyatakan bahwa mencari calon pekerja yang sesuai dengan kebutuhan menjadi hambatan utama di negara kita, atau sekitar 68%.
Ketika lulusan pendidikan tinggi Indonesia saat ini diragukan oleh pemberi kerja memiliki kompetensi yang diharapkan; dan pada saat yang sama 𝐴𝐼 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎, keamanan siber, literasi teknologi, maupun pemikiran kreatif menjadi kebutuhan mendesak; 𝑟𝑒𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dan 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dosen menjadi kebutuhan mendesak. Rerata lulusan sarjana atau diploma adalah 4 tahun, sehingga jika dilakukan secara massif di seluruh perguruan tinggi Indonesia tahun ini, maka lulusan 4 tahun ke depan akan relevan dengan perkembangan sekarang. Tentu ini harus berjalan secara paralel dengan redesain kurikulum maupun materi yang diajarkan.
Upskilling diperlukan agar kompetensi dosen saat ini, misalnya di bidang kedokteran, geografi, atau akuntansi, ditingkatkan kemampuannya melalui pemanfaatan 𝐴𝐼 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎. Hal ini dapat dilakukan melalui kursus atau 𝑜𝑛𝑙𝑖𝑛𝑒 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑠ℎ𝑜𝑝 disesuaikan dengan anggaran dan waktu yang tersedia. Atau bergabung dengan asosiasi atau asosiasi professional yang memfasilitasi 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 , mentoring oleh dosen muda yang baru menyelesaikan program doktoralnya, maupun meminta tugas baru yang memaksa mempelajari pemanfaatan teknologi (𝐴𝐼 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎) untuk bidang ilmu yang dipelajari.
Reskilling dilakukan dengan membekali kemampuan dosen yang sama sekali baru disesuaikan dengan kebutuhan perguruan tinggi di masa depan. Program yang dilakukan hampir sama dengan 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 , namun memerlukan komitmen waktu dan biaya yang lebih dikarenakan tujuannya memfasilitasi karier baru yang berbeda dengan sebelumnya.
Rekomendasi
Presiden Prabowo Subianto bersama dengan Kabinet Merah Putihnya bertekad untuk menumbuhkan perekonomian 8% per tahun hingga 2029. Rekomendasi terbaru Bank Dunia agar Indonesia keluar dari 𝑚𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝑖𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑡𝑟𝑎𝑝 adalah menarik investasi dari luar negeri (FDI). Studi terbaru dari Lee, Kang, dan Lee (2024) di 𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑛𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑟𝑝𝑜𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑠 𝑅𝑒𝑣𝑖𝑒𝑤 dari Korea University menunjukkan bahwa ketersediaan SDM yang berkompeten penting untuk menarik investor melakukan FDI. Semakin relevan SDM yang kita miliki dengan kebutuhan investor luar negeri, tentu akan semakin banyak FDI yang berdatangan dan menumbuhkan perekonomian kita. Hasil studi mereka juga menjelaskan kenapa Apple, Google, dan Microsoft lebih memilih Vietnam dan Malaysia untuk berinvestasi. Singapura telah melakukan 𝑟𝑒𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 penduduknya sejak 2015 dengan bantuan S$400-500 pada program SkillsFuture. Adapun China memulai dari semua siswa wajib belajar 12 tahun maupun mahasiswa yang berjumlah 243 juta jiwa sejak 2019 agar mereka siap menjadi SDM yang relevan dan berkontribusi di masa depan.
Sudah waktunya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengeluarkan kebijakan agar semua perguruan tinggi melakukan 𝑟𝑒𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dan 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dosen yang ada. Reskilling dan 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 secara massif dapat dilakukan secara online, baik yang gratis dan berbayar, dari berbagai perguruan tinggi berkelas dunia. Hasil kajian WEF dari 𝐹𝑢𝑡𝑢𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐽𝑜𝑏𝑠 𝑅𝑒𝑝𝑜𝑟𝑡 2025 dapat menjadi dasar ketrampilan apa saja yang harus disertakan dalam redesain kurikulum maupun proses belajar mengajar pada masing-masing perguruan tinggi. Keterampilan terkait AI dan big data, keamanan digital, literasi teknologi, maupun cara berpikir kreatif sangat dibutuhkan. Harapannya, ketika mahasiswa aktif saat ini lulus 2-5 tahun ke depan relevan sebagai pekerja atau pengusaha yang mampu memanfaatkan AI dan big data dikombinasikan dengan bidang ilmu saat ini yang ditekuni. Mereka nantinya akan menjadi 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑐𝑙𝑎𝑠𝑠, baik 𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑒𝑠𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 dan 𝑠𝑢𝑝𝑒𝑟-𝑐𝑟𝑒𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑐𝑜𝑟𝑒, yang menentukan kemajuan ekonomi Indonesia. Semakin besar proporsinya, semakin maju ekonomi negara kita (Florida, 2002).
SDM adalah sumberdaya terpenting sebuah bangsa, dan meningkatkan relevansinya dengan ketrampilan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan adalah sebuah keniscayaan. Semuanya harus dimulai dari 𝑟𝑒𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dan 𝑢𝑝𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 dosen pendidikan tinggi kita.
Badri Munir Sukoco
Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Airlangga
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




