Anjing merupakan salah satu hewan hasil domestikasi sejak lama yang menjadi hewan peliharaan dan memiliki hubungan sangat dekat dengan manusia. Karakteristik penyayang dan setia kepada pemilikinya menjadikan anjing dipelihara dengan berbagai tujuan seperti anjing peliharaan, anjing pemburu, dan anjing penjaga, serta sebagai teman atau hiburan untuk menghilangkan stress maupun sebagai kriteria status sosial. Meskipun bisa dijinakkan, anjing tetap memiliki potensi bahaya terutama terhadap manusia dalam hal penularan penyakit.
Penyakit pada kulit merupakan masalah yang cukup sering terjadi pada hewan kesayangan. Berdasarkan jumlah agen penyebabnya, penyakit kulit dibagi menjadi dua yaitu infeksi tunggal dan infeksi jamak atau infeksi lebih dari satu agen penyebab (multiple infestation). Namun berdasarkan jenis penyebabnya penyakit kulit dapat disebabkan oleh parasit, bakteri, dan jamur. Salah satu penyakit yang sering menginfestasi kulit anjing dan bersifat menular adalah penyakit infeksi jamur atau biasa dikenal dengan istilah dermatofitosis. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan agen penyebab penyakit kulit, salah satunya adalah pemeriksaan menggunakan wood’s lamp. pemeriksaan penyakit pada hewan ini sejalan dengan pelaksanaan SDGS, yaitu SDG no 4.
RIWAYAT PASIEN
Pada tanggal 12 Desember 2024, seekor anjing poodle (Jantan) berumur 11 bulan dengan berat 3,8kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHP – UNAIR) dengan keluhan terdapat sebaran luka ruam merah pada kulit di area punggung, kaki belakang, dan sebagian pada kaki depan. Pemeriksaan fisik berupa pengukuran suhu tubuh normal pada 39,1℃, pulsus 120 kali/menit, dan frekuensi respirasi 66 kali/menit. Anjing sangat aktif dan sudah menerima vaksin lengkap.
APA YANG DIMAKSUD DENGAN DERMATOFITOSIS?
Dermatofitosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita. Jenis kapang yang paling sering menyebabkan kasus dermatofitosis terdiri dari beberapa genus yaitu Microsporum spp., Trichopyton spp., dan Epidermophyton spp. Penyakit ini dapat menular secara langsung dari hewan penderita ke hewan sehat atau ke manusia serta secara tidak langsung melalui peralatan yang tercemar spora yang digunakan dari hewan penderita ke hewan sehat. Gejala klinis yang timbul akibat infestasi mikroorganisme ini antara lain rambut hewan rontok, adanya kebotakan (alopesia), eritrema, adanya krusta, dan pruritus. Tingkat mortalitas (angka kematian) dari penyakit ini terbilang rendah namun mengakibatkan kerugian ekonomis yang disebabkan oleh kerusakan kulit dan penurunan bobot badan karena hewan tidak tenang serta adanya risiko penularan penyakit zoonosis yang timbulkan oleh jamur tersebut.
DIMANA PREDILEKSI DARIPADA KASUS DERMATOFITOSIS?
Dermatofitosis akan menginfeksi kulit di bagian permukaan (superficial) yang memiliki keratin seperti stratum korneum pada epidermis kulit, rambut, kuku, dan tanduk. Jenis dermatofita yang paling umum menginfestasi anjing adalah Microsporum canis, namun tidak menutup kemungkinan spesies dermatofita lainnya seperti Microsporum gypseum dan Trichophyton mentagrophytes juga berisiko menyebabkan dermatofitosis pada anjing. Lesi yang ditimbulkan oleh M. canis biasanya alopecia dan eritrema hingga sisik atau kerak. Untuk menimbulkan lesi pada host, dermatofita harus memiliki kemampuan untuk melekat pada kulit dan mukosa, menembus jaringan, serta bertahan hidup. Untuk dapat bertahan, dermatofita perlu mengatasi pertahanan tubuh, baik yang spesifik maupun non-spesifik. Gejala inflamasi sering terjadi akibat pelepasan mediator proinflamasi sebagai respons terhadap degradasi keratin, yang merupakan sumber nutrisi bagi dermatofita.
KAPAN ANJING DAPAT TERKENA DERMATOFITOSIS?
Anjing dapat terinfestasi dermatofitosis kapanpun dan pada rentan usia berapapun. Kondisi lingkungan yang kurang bersih seperti lantai yang kotor, banyak debu, kandang jarang dibersihkan, kondisi lingkungan lembab, dan ketika anjing mengalami penurunan sistem imun menjadi faktor risiko terkena dermatofitosis. Umumnya anjing usia muda akan rentan terkena dermatofitosis akibat sistem imun yang belum bekerja secara maksimal dibandingkan dengan anjing usia dewasa yang dapat lebih baik melawan infestasi dari jamur sehingga penyembuhan jamur akan lebih cepat. Hal ini dikarenakan pada sebagian besar host imunokompeten, dermatofitosis dapat sembuh sendiri dalam waktu beberapa minggu hingga bulan. Sehingga pengobatan yang diberikan dimaksudkan untuk memperpendek perjalanan penyakit agar tidak menyebar ke hewan lain dan ke manusia.
KENAPA PERLU DILAKUKAN PEMERIKSAAN DENGAN WOOD’S LAMP?
Pemeriksaan menggunakan Wood’s lamp merupakan salah satu metode dasar dalam mendeteksi infeksi kapang dermatofita. Jika terlihat pendaran berwarna hijau kekuningan, hal ini menandakan adanya agen penyebab dermatofitosis. Pendaran tersebut terjadi akibat interaksi antara metabolit dermatofita dan sinar ultraviolet. Wood’s lamp dapat membantu mengidentifikasi fluoresensi pada jamur patogen tertentu, seperti Microsporum canis, yang menunjukkan fluoresensi sekitar 50%. Pemeriksaan menggunakan wood’s lamp dilakukan pada kondisi ruangan gelap (minim cahaya) kemudian wood’s lamp diarahkan ke daerah kulit yang diduga terdapat lesi. Namun, teknik ini memiliki beberapa keterbatasan dalam penggunaannya serta interpretasinya. Meskipun demikian, pemeriksaan ini berfungsi sebagai alat skrining yang berguna dalam mengidentifikasi rambut untuk pemeriksaan langsung maupun kultur
BAGAIMANA TERAPI DAN TREATMENT YANG DILAKUKAN?
Terapi topikal dan per-oral diberikan pada anjing poodle dan diaplikasikan selama 10 hari. Sebelum diberikan obat topikal, lesi dibersihkan menggunakan larutan NaCl kemudian setelah kering dilanjutkan pemberian antiseptik berupa povidone iodine lalu dilanjutkan dengan pemberian obat topikal. Obat topikal yang mengandung kortikosteroid dan antibiotik.. Secara umum, obat ini bekerja untuk mengurangi rasa gatal dan iritasi yang menyebabkan kulit mengelupas. Aplikasi obat topikal lainnya adalah obat yang mengandung bahan aktif antihistamin. Penggunaan antihistamin pada kasus ini adalah untuk mengatasi rasa gatal maupun alergi yang mungkin timbul akibat serangan jamur pada kulit anjing. Aplikasi treatment seperti ini dilakukan sehari dua kali pada pagi dan sore hari. Obat per-oral yang diberikan berbentuk kapsul dengan kandungan anti-jamur dan multivitamin.
Penulis: Frenky Laksana Putra




