Universitas Airlangga Official Website

Pakar Perilaku Konsumen UNAIR Soroti Budaya Konsumsi Berlebih sebagai Ancaman Lingkungan

Ilustrasi Perilaku Konsumtif. (Foto: Istockphoto).
Ilustrasi Perilaku Konsumtif. (Foto: Istockphoto).

UNAIR NEWS – Krisis lingkungan terkait tingginya timbulan sampah nasional dan meningkatnya suhu global hingga kini masih menjadi perhatian serius. Menanggapi kondisi tersebut, Prof Dr Gancar Candra Premananto, Pakar Ilmu Perilaku Konsumen Berkelanjutan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), menyoroti adanya hubungan situasi itu dengan budaya konsumsi di masyarakat. 

“Sampah rumah tangga menyumbang sekitar 38,2 persen dari total sampah nasional. Dan sampah organik mendominasi dengan kontribusi sekitar 41,2 persen, terutama sisa makanan, artinya banyak aktivitas makan berlebihan yang mubazir dilakukan oleh masyarakat kita,” ujar Prof Gancar.

Dalam mengatasi persoalan, Dosen Manajemen FEB UNAIR itu, menekankan pentingnya pola konsumsi yang bertanggung jawab sebagai komitmen bersama demi masa depan. Konsumsi, tambahnya, harus mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan. 

“Sebagai penghuni bumi yang sedang bermasalah ini, kita punya tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan sekitar, terutama generasi muda. Jumlah generasi produktif kini sangat besar. Jumlah besar itu dapat menjadi bonus demografi, namun juga dapat menjadi bencana demografi, bila tidak mampu mengelola bumi dengan baik,” tegasnya. 

Saat ditanya mengenai karakter konsumsi generasi saat ini, Prof Gancar menjelaskan bahwa meski kesadaran terhadap gaya hidup sehat mulai meningkat, namun konsumsi produk hijau belum menjadi target pasar utama pemasar. Produk-produk ramah lingkungan masih kerap mahal dibandingkan produk biasa. 

Meski demikian, ia optimis dengan strategi komunikasi yang tepat, generasi muda bisa digerakkan ke arah konsumsi berkelanjutan. “Generasi muda di era digital adalah generasi yang butuh validasi media sosial. Maka memanfaatkan media sosial dengan menggunakan influencer yang tepat dapat menjadi kunci untuk menstimulasi dan menanamkan kesadaran konsumsi hijau,” ujarnya. 

Prof Dr Gancar Candra Premananto, Pakar Ilmu Perilaku Konsumen Berkelanjutan, FEB UNAIR. (Foto: Istimewa).

Lebih lanjut, Prof Gancar juga menyoroti pentingnya peran pendidikan formal dalam membentuk kesadaran lingkungan. Menurutnya, pendidikan tinggi harus mampu membekali mahasiswa dengan ecological intelligence melalui berbagai materi kuliah relevan, termasuk etika bisnis dan kewirausahaan berbasis lingkungan. 

“Berbagai materi saat ini selalu memiliki keterkaitan dengan etika, termasuk etika bisnis, maka kesadaran terhadap lingkungan dapat diberikan di situ. Dalam pembekalan kewirausahaan, bahkan dapat diberikan adanya berbagai peluang bisnis dari hasil pengolahan limbah atau sampah. Seperti yang dilakukan alumni S1 manajemen, Vania Santoso, yang masuk dalam Forbes 30 under 30, karena mengolah limbah menjadi tas bernilai ekonomi tinggi,” ungkapnya.

Untuk mendukung gerakan ini, Prof Gancar dan tim juga aktif memperluas wawasan mahasiswa tentang perilaku konsumsi berkelanjutan melalui kuliah tamu di berbagai kampus dalam dan luar negeri, termasuk baru-baru ini di Universiti Sains Malaysia (USM). 

Tidak lupa, Prof Gancar turut mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa UNAIR untuk menjadi motor perubahan. “Mahasiswa UNAIR harus memiliki kepedulian lingkungan dan sosial yang tinggi. Bahkan bukan sekadar menjadi konsumen yang bertanggung jawab, namun juga menjadi pengusaha muda yang membawa solusi nyata bagi keberlanjutan bumi,” tutupnya.

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia