UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan kuliah tamu pada Senin (5/5/2025). Acara ini menghadirkan narasumber, salah satunya Dr Dwitya Amry, asisten profesor inovasi dan teknologi manajemen dari University of Warwick. Kuliah tamu ini mengulas pentingnya adopsi teknologi dalam transformasi digital.
Dwitya menuturkan, strategi teknologi diyakini menjadi fondasi awal yang kemudian memengaruhi dan diikuti oleh berbagai strategi fungsional perusahaan lainnya. Hal ini meliputi strategi operasi, strategi sumber daya manusia, hingga akhirnya bermuara pada strategi penjualan dan pemasaran.
Pengembangan Produk
Dunia pengembangan produk mengenal dua pendekatan utama yang mendasari inovasi suatu perusahaan, market pull (tarikan pasar) dan technology push (dorongan teknologi). Mengenai pendekatan market pull, Dwitya menyatakan dalam model ini, proses pengembangan produk mulai dari pemahaman mendalam terhadap permintaan konsumen atau celah pasar yang sudah teridentifikasi.
“Alur dalam pendekatan ini berawal dari kebutuhan pasar yang terungkap yang kemudian mengarahkan research and development, production, dan marketing untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kata lain, pasar menarik ide dan pengembangan produk,” tegasnya.

Sebaliknya, pendekatan technology push memiliki alur yang berbeda. Pendekatan technology push berawal dari adanya inovasi teknologi atau solusi baru yang perusahaan kembangkan melalui riset dan pengembangan. “Dalam model ini, perusahaan kemudian berupaya mencari atau menciptakan pasar bagi produk baru yang didasarkan pada teknologi tersebut,” jelas Dwitya.
Lima Kelompok Adopsi Teknologi
Dwitya mengidentifikasi lima kelompok utama dalam adopsi teknologi, mulai dari para inovator hingga kelompok yang paling lambat. Lebih lanjut, ia merinci karakteristik masing-masing kelompok. “Kelompok pertama adalah inovator, sekitar 2.5 persen. Mereka memiliki kemampuan teknis tinggi dan berani mengambil risiko. Motivasi utama mereka adalah menjadi yang pertama mencoba inovasi,” jelasnya.
Kelompok kedua adalah pengadopsi awal, yang mencapai sekitar 13,5 persen. “Mereka mengadopsi teknologi lebih awal karena mencari solusi yang dapat memberikan keunggulan kompetitif atau meningkatkan efisiensi,” imbuh Dwitya.
Selanjutnya, terdapat mayoritas awal yang berjumlah sekitar 34 persen. Kelompok ini cenderung menunggu hingga teknologi terbukti manfaatnya dan telah diadopsi oleh inovator serta pengadopsi awal.
Selain itu, ada mayoritas akhir sekitar 34 persen. Adopsi teknologi bagi mereka biasanya terjadi ketika teknologi tersebut sudah mapan dan lebih terjangkau. Dan kelompok terakhir, yang merupakan kelompok terkecil dengan sekitar 16 persen. “Mereka adalah yang paling lambat mengadopsi inovasi. Mereka cenderung tradisional dan mungkin baru mengadopsi ketika teknologi lama sudah tidak lagi didukung,” pungkasnya.
Transformasi digital bukan hanya tentang memperbaiki proses yang ada, tetapi lebih kepada memikirkan kembali model bisnis secara keseluruhan dengan memanfaatkan teknologi digital yang inovatif. Ia menambahkan bahwa, proses ini melibatkan integrasi berbagai proses dan teknologi dengan tujuan akhir mencapai target bisnis yang strategis. “Integrasi berbagai proses dan teknologi ini seringkali menciptakan nilai baru yang signifikan. Baik bagi pelanggan maupun bagi organisasi itu sendiri,” terang Dwitya.
Penulis: Arifatun Nazilah
Editor: Yulia Rohmawati





