VOKASI NEWS – Alat bantu fiksasi radiografi waters sebagai bentuk inovasi Mahasiswa Fakultas Vokasi UNAIR.
Pernahkah kamu mendengar tentang pemeriksaan Waters Method? Teknik ini digunakan untuk melihat lebih jelas tulang wajah, terutama pada kasus trauma. Idealnya, pasien berada pada posisi berdiri (erect) atau tengkurap (prone). Tapi bagaimana jika pasien mengalami trauma dan tidak bisa diposisikan demikian? Di sinilah modifikasi Reverse Waters Method menjadi solusi—dengan pasien berbaring terlentang dan alat bantu fiksasi sebagai pendukung utama.
Kenapa Alat Bantu Fiksasi Itu Penting?
Saat seseorang mengalami trauma, meminimalkan gerakan saat pemeriksaan sangat krusial agar hasil radiografi akurat. Alat bantu fiksasi membantu pasien tetap tenang dan stabil, mengurangi ketegangan otot, serta membantu radiografer mendapatkan posisi terbaik. Tak hanya meningkatkan kualitas gambar, alat ini juga mendukung kenyamanan pasien—dan kenyamanan ini bukan sekadar ‘enak’, tapi menyangkut rasa aman, tenang, hingga perasaan “baik-baik saja” selama prosedur berlangsung.
Studi: Nyaman dan Ergonomiskah Alat Ini?
Penelitian dilakukan di Laboratorium Radiografi RSKI UNAIR dengan 50 responden untuk mengevaluasi kenyamanan dan ergonomi alat bantu fiksasi. Hasilnya?
🔹Kenyamanan:
Responden merasa cukup nyaman menggunakan alat ini. Skor tertinggi muncul pada aspek transcendence (96%)—artinya mereka mampu menyesuaikan diri walau ada ketidaknyamanan. Tapi aspek ease hanya dapat skor 83%. Masih ada ruang untuk perbaikan, terutama soal kemudahan dalam penggunaan langsung.
🔹Ergonomi:
Aspek interaction jadi jawara—alat dinilai kokoh, aman, dan mudah digunakan (96%). Tapi beberapa responden mengeluh alat mudah bergeser karena permukaan licin. Sementara itu, nilai terendah (70%) muncul dari aspek performance, karena desain belum sepenuhnya mendukung postur tubuh secara ideal, terutama di area leher dan pundak.
Apa Artinya?
Secara statistik, alat bantu fiksasi ini punya pengaruh signifikan terhadap kenyamanan dan ergonomi pasien. Semakin nyaman dan ergonomis alat tersebut, maka kualitas pengalaman pasien juga meningkat. Tapi, desain tetap perlu disempurnakan agar tidak hanya fungsional, tapi juga estetis, aman, dan mudah dirawat.
[BACA JUGA: Insan Kampus Berkontribusi untuk Negeri: Dialog Inspiratif Dekan Vokasi UNAIR di Radio Suara Muslim]
Jadi, sebuah alat bantu mungkin terlihat sederhana, tapi dampaknya bisa luar biasa. Terutama saat kita bicara tentang kenyamanan manusia dan akurasi dalam dunia medis.
***
Penulis : Putri Aida Yasmin Editor: Oky Sapto Mugi Saputro – Tim Branding Fakultas Vokasi UNAIR




