Universitas Airlangga Official Website

Berkompetisi Sejak Semester Awal, Delegasi MYMA FH UNAIR Harumkan Nama Kampus di SALC 2025

Humas FH (23/05/25) | Prestasi membanggakan kembali diraih oleh delegasi Mahasiswa Yuris Muda Airlangga (MYMA) Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR) dalam ajang Sunan Ampel Legal Competition (SALC) 2025. Tim yang beranggotakan Dessy Liskawati dan Inez Maria Nuna Larantukan berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi esai bergengsi yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.

Dengan mengusung tema besar “Digital Constitutionalism: Tantangan Demokrasi Konstitusional dan Tatanan Hukum di Era Digital,” kompetisi ini menjadi panggung bagi para mahasiswa hukum untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan kepenulisan hukum.

Dessy Liskawati, ketua delegasi MYMA, ia mengungkapkan bahwa motivasi utama timnya adalah memanfaatkan SALC 2025 sebagai langkah awal untuk mendalami kepenulisan hukum. “Kami melihat kompetisi esai ini sebagai peluang emas, terutama karena kami masih angkatan 2024 dan baru memulai. Hal ini membuat kami semakin termotivasi,” ujar Dessy.

Persiapan tim dilakukan secara intensif dengan brainstorming untuk menentukan subtema, mempelajari contoh esai hukum, serta menggali referensi relevan. Dukungan dari kakak-kakak Badan Pengurus Internal (BPI) serta Badan Pengurus Harian (BPH) MYMA juga menjadi kunci, memberikan arahan, revisi, dan dorongan emosional yang tak ternilai.

Tim MYMA memilih subtema yang relevan dengan era digital, yakni “Evaluasi Kerangka Hukum Era Digital dalam Memberikan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia.” Fokus esai mereka adalah perlindungan hukum bagi pencipta karya seni digital dalam ekosistem NFT berdasarkan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. “Kami tertarik dengan NFT karena ekosistem ini menawarkan solusi bagi seniman digital untuk melestarikan karya sekaligus mendapat keuntungan lebih besar. Namun, kami menemukan bahwa regulasi hak cipta di Indonesia belum sepenuhnya melindungi mereka dari risiko pembajakan akibat kompleksitas teknologi blockchain,” jelas Dessy.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah manajemen waktu di tengah kesibukan masing-masing anggota. “Kami harus rela mengorbankan waktu pribadi demi lomba ini. Selain itu, rasa nervous saat menghadapi juri juga menjadi ujian tersendiri,” ungkap Dessy. Namun, dengan doa, semangat tim, dan dukungan dari komunitas MYMA, mereka berhasil mengatasi tekanan tersebut dan tampil maksimal.

Baca Juga: Simulasi Penanganan Kebakaran di Gedung Pringgodigdo, FH UNAIR Latih Kesiapsiagaan Civitas Akademika

Kemenangan ini bukan hanya sekedar trofi, tetapi juga pendorong semangat bagi Dessy dan Inez untuk terus berkiprah di dunia kompetisi hukum. “Kami jadi lebih percaya diri untuk mengikuti lomba lain, meski kemampuan kami masih terbatas. Pengalaman ini mengajarkan kami banyak tentang kepenulisan hukum, dan kami ingin terus belajar,” tutur Dessy dengan antusias. Ke depannya, tim MYMA berencana untuk terus mengasah kemampuan dan menjajal kompetisi hukum lainnya dengan semangat yang kian membara.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa kerja keras, kolaborasi, dan dukungan dapat menghasilkan capaian luar biasa. Selamat kepada delegasi MYMA FH UNAIR atas keberhasilan mereka di SALC 2025, dan semoga prestasi ini menjadi awal dari langkah besar di masa depan.

Penulis: Jessica Ivana Haryanto

Editor: Masitoh Indriani