Polusi plastik telah menjadi masalah serius di seluruh dunia, dengan akumulasinya di lingkungan alami yang membawa dampak besar bagi ekosistem. Meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini semakin meningkat, kurangnya sistem pengelolaan limbah yang efektif serta kebiasaan membuang sampah sembarangan memperburuk situasi. Setiap tahun, sekitar 8 hingga 11 juta ton plastik mencemari lautan, menyebabkan berbagai ancaman lingkungan.
Sebagian besar sampah plastik berasal dari perairan tawar sebelum bermigrasi ke ekosistem estuari dan laut. Dalam proses ini, plastik mengalami degradasi menjadi partikel yang lebih kecil, termasuk mikroplastik dan nanoplastik.
Mikroplastik memiliki ukuran berkisar antara 1 mikrometer hingga 5 milimeter, sedangkan nanoplastik jauh lebih kecil, dengan ukuran hanya 1 hingga 100 nanometer. Degradasi ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, termasuk proses fisik, reaksi kimia seperti korosi dan foto-oksidasi, serta aktivitas biologis. Di antara kedua jenis polutan ini, nanoplastik dianggap lebih berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil dan permukaannya yang sangat reaktif, sehingga memudahkan partikel ini menembus membran sel dan mengganggu fungsi biologis lebih efektif dibandingkan mikroplastik.
Ikan menjadi kelompok organisme yang sangat rentan terhadap paparan nanoplastik. Partikel ini dapat masuk ke dalam tubuh ikan melalui konsumsi makanan, proses respirasi, dan penyerapan melalui kulit. Setelah berada di dalam tubuh, nanoplastik dapat terakumulasi di berbagai organ penting seperti insang, hati, dan ginjal, yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.
Salah satu jalur utama paparan adalah melalui respirasi, di mana nanoplastik yang tersuspensi dalam air masuk melalui insang dan kemudian menyebar ke sistem peredaran darah. Selain itu, ikan dapat secara tidak sengaja mengonsumsi nanoplastik ketika partikel-partikel ini menyerupai sumber makanan alami mereka, yang meningkatkan risiko bioakumulasi dalam jaringan tubuh. Studi terbaru telah menunjukkan bahwa nanoplastik dapat menembus sel dan berinteraksi langsung dengan komponen seluler, seperti yang terjadi dalam sel fibroblas embrionik ikan zebra, yang berpotensi menimbulkan efek toksik dan mutasi genetik.
Paparan nanoplastik telah dikaitkan dengan peningkatan stres oksidatif dalam tubuh ikan. Kondisi ini terjadi akibat produksi radikal bebas dalam jumlah berlebihan. Radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan sel secara luas, termasuk peroksidasi lipid, oksidasi protein, serta degradasi DNA.
Dalam sistem kekebalan tubuh, tingginya radikal bebas dapat mengaktifkan jalur pensinyalan NF-κB, yang berperan sebagai regulator utama dalam respons inflamasi. Setelah diaktifkan, NF-κB akan berpindah ke inti sel dan merangsang produksi sitokin proinflamasi seperti interleukin-12, tumor necrosis factor-alpha, dan interferon-gamma. Sitokin ini berperan dalam meningkatkan peradangan dengan merekrut lebih banyak sel imun ke area yang terkena dampak.
Jika paparan nanoplastik terus berlanjut dalam jangka panjang, peradangan yang dihasilkan dapat berkembang menjadi kondisi kronis, yang mengarah pada pembengkakan sel, kematian jaringan, serta gangguan fungsi organ. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peningkatan produksi radikal bebas dalam sel darah dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh, memicu kematian sel, dan menurunkan daya tahan tubuh ikan. Akibatnya, ikan yang terpapar nanoplastik dalam jumlah tinggi lebih rentan terhadap infeksi serta stres lingkungan.
Faktor lingkungan seperti salinitas juga berperan dalam menentukan sejauh mana toksisitas nanoplastik dapat mempengaruhi ikan dan ekosistemnya. Salinitas diketahui memengaruhi perilaku fisik dan kimia nanoplastik, termasuk kecenderungannya untuk menggumpal, tersebar, atau tetap tersedia bagi organisme air. Beberapa informasi ilmiah menunjukkan bahwa akumulasi mikroplastik dalam tubuh ikan bervariasi tergantung pada tingkat salinitas.
Spesies ikan yang hidup di perairan dengan salinitas tinggi cenderung memiliki akumulasi mikroplastik lebih tinggi dibandingkan dengan spesies air tawar. Hal serupa juga ditemukan pada mikroplastik jenis poliammida, di mana konsentrasinya lebih tinggi pada ikan yang hidup dalam kondisi salinitas tinggi dibandingkan dengan mereka yang berada di lingkungan dengan salinitas rendah (0, 3, dan 6 ppt). Penemuan ini menunjukkan bahwa kadar garam dalam air dapat memengaruhi interaksi antara nanoplastik dan membran sel ikan, serta mekanisme penyerapannya dalam tubuh.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang memiliki toleransi tinggi terhadap variasi salinitas, menjadikannya model ideal dalam penelitian mengenai efek nanoplastik di berbagai kondisi lingkungan. Sebagai spesies euryhaline, ikan nila mampu bertahan dalam rentang salinitas yang luas, sehingga memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk mengeksplorasi dampak gabungan antara tingkat salinitas dan paparan nanoplastik terhadap kesehatan ikan.
Dengan memahami bagaimana tingkat salinitas memengaruhi toksisitas nanoplastik, maka informasi ini dapat memberikan wawasan lebih mendalam mengenai risiko ekologi yang ditimbulkan oleh polusi plastik serta dampaknya terhadap keberlanjutan kehidupan organisme akuatik, khususnya ikan.
Penulis : Prof. Dr. Alfiah Hayati, Dra., M.Kes
Detail Jurnal dapat diakses pada https://researcherslinks.com/current-issues/Nanoplastic-Induced-Immune-Modulation-and/34/1/10975/html





