Universitas Airlangga Official Website

Pemberdayaan Perempuan, Karakteristik Demografi, Keinginan Memiliki Anak di Indonesia

Ilustrasi Ibu dan Bayi (Sumber : Freepik)

Keinginan untuk memiliki anak merupakan determinan kunci dalam perilaku fertilitas perempuan, yang secara inheren terkait dengan peran mereka dalam melahirkan. Namun, pemberdayaan perempuan di Indonesia masih tergolong rendah akibat budaya patriarki yang mengakar kuat dan membatasi otonomi perempuan dalam pengambilan keputusan.

Dalam banyak kasus, laki-laki memiliki otoritas yang lebih besar, termasuk dalam keputusan terkait memiliki anak. Selain itu, keinginan untuk memiliki anak juga dipengaruhi oleh faktor-faktor demografis seperti usia, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberdayaan perempuan dan karakteristik demografis terhadap keinginan memiliki anak pada perempuan usia reproduktif di Indonesia (15–49 tahun).

Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan desain potong lintang (cross-sectional). Analisis dilakukan secara univariat, uji Chi-square, dan regresi logistik multivariat untuk mengkaji hubungan antara pemberdayaan perempuan, karakteristik demografis, dan keinginan memiliki anak, menggunakan perangkat lunak STATA versi 15.

Temuan menunjukkan bahwa beberapa faktor memiliki hubungan yang signifikan dengan keinginan memiliki anak. Perempuan berusia 40–49 tahun [AOR = 37,48; 95% CI = 32,20–43,62], status tidak bekerja [AOR = 1,12; 95% CI = 1,05–1,20], indeks kekayaan rumah tangga tertinggi [AOR = 1,33; 95% CI = 1,17–1,53], riwayat pendidikan sekolah dasar [AOR = 1,34; 95% CI = 1,02–1,76], persetujuan terhadap kekerasan terhadap istri [AOR = 0,90; 95% CI = 0,83–0,96], serta keyakinan bahwa istri berhak menolak hubungan seksual dengan suami [AOR = 1,10; 95% CI = 1,03–1,18] menunjukkan hubungan signifikan terhadap keinginan memiliki anak.

Keinginan untuk memiliki anak dipengaruhi oleh pemberdayaan perempuan dan karakteristik demografis. Penguatan pemberdayaan perempuan sangat penting dalam mendorong pengambilan keputusan yang lebih setara dalam keluarga. Implikasi kebijakan dari temuan ini adalah perlunya integrasi strategi pemberdayaan perempuan dalam program kependudukan dan kesehatan reproduksi untuk mendorong pengambilan keputusan yang setara dan berbasis hak dalam keluarga.

Penulis : Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D

Lailatul Yusnida, Ferry Efendi, Candra Panji Asmoro, Heri Kuswanto, Hema Malini, Rifky Octavia Pradipta, Fadhaa Aditya Kautsar Murti, Mahendra Tri Arif Sampurna, Lisa McKenna

Jurnal dapa diakses pada https://sct.ageditor.ar/index.php/sct/article/view/1530