Universitas Airlangga Official Website

Ketahui Dampak Bahaya Mikroplastik pada Produk Perikanan

Ilustrasi ikan terkontaminasi mikroplastik (sumber: law-justice.co)

UNAIR NEWS – Mikroplastik telah menjadi masalah serius bagi sektor lingkungan dan kesehatan dalam beberapa dekade. Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran mikroskopik dan tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Karena itu, keberadaannya di lingkungan menjadi sulit terdeteksi dan dapat masuk ke dalam tubuh hewan bahkan manusia.

Banyak penelitian yang menunjukkan adanya sejumlah mikroplastik di lingkungan perairan dan masuk ke tubuh ikan. Kontaminasi ini tentunya dapat berbahaya bagi kesehatan ikan dan manusia. 

Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR, Ayu Lana Nafisyah SPi MSc PhD mengatakan bahwa sejak lama sudah ditemukan mikroplastik pada sejumlah ikan. Hasilnya cukup mengejutkan, karena mikroplastik hampir ada di seluruh bagian tubuh ikan pada lokasi tertentu yang terdapat banyak buangan limbah plastik yang masuk ke perairan.

Ayu menyebut saat ini mikroplastik telah kita temukan hampir di semua tempat, tak terkecuali pada lingkungan perairan. Limbah ini dapat berasal dari aktivitas rumah tangga seperti buangan kemasan makanan sehari-hari, maupun dari industri yang memiliki skala yang lebih besar.

“Plastik yang ada di lingkungan khususnya perairan tidak dapat hilang, namun akan terurai menjadi komponen yang lebih kecil dengan bantuan arus dan sinar UV yang berasal dari matahari. Pecahan kecil ini yang menjadi berbahaya karena dapat masuk ke dalam tubuh ikan dan berpotensi dikonsumsi oleh manusia,” ungkapnya.

Ayu memaparkan berdasarkan asalnya, mikroplastik dapat terbagi menjadi mikroplastik primer yang memang dibuat dalam ukuran yang kecil seperti scrub pada produk skincare yang berfungsi untuk menghaluskan kulit. Sedangkan mikroplastik sekunder berasal dari plastik yang awalnya berukuran besar dan terurai menjadi komponen yang lebih kecil.

“Penemuan pada produk perikanan menjadi suatu peringatan bahaya bagi manusia. Akumulasi mikroplastik pada tubuh dapat menjadi racun pada tubuh manusia yang berakibat pada masalah kesehatan khususnya pada pernafasan, pencernaan, hingga menyebabkan kanker sampai resiko kematian,” ungkapnya.

Dalam menghadapi tantangan ini, Ayu menyebut perlu adanya sinergi antara masyarakat awam dan akademisi. Hal itu untuk meningkatkan pemahaman akan bahayanya pada kesehatan. Selain itu, penelitian juga bisa kita lakukan untuk memetakan lokasi dengan kadar mikroplastik tinggi. Sehingga masyarakat dapat menghindari membeli produk perikanan dari daerah tertentu.

“Sebagai akademisi, kita juga harus menyebarkan ilmu ini kepada masyarakat agar mereka memiliki pengetahuan mengenai dampak konsumsi produk perikanan yang terkontaminasi mikroplastik. Pendekatan melalui pengabdian masyarakat maupun KKN dapat kita lakukan. Harapannya, tingkat awareness masyarakat meningkat sehingga kebiasaan konsumsi (penggunaan) plastik di masyarakat juga dapat menurun,” ungkapnya.

Penulis: Rifki Sunarsis Ari Adi

Editor: Khefti Al Mawalia