Universitas Airlangga Official Website

Ketahui Dampak dan Gejala Kecacingan pada Balita

(Foto: RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang)
(Foto: RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang)

UNAIR NEWS – Kasus meninggalnya seorang balita berusia empat tahun akibat tubuhnya dipenuhi ribuan cacing gelang (askariasis) mengejutkan publik. Tragedi ini memperlihatkan lemahnya deteksi dini penyakit berbasis lingkungan sekaligus rendahnya penerapan pola hidup bersih sehat di masyarakat. Padahal, kecacingan merupakan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui intervensi sanitasi dasar dan edukasi keluarga.

Menanggapi kasus tersebut, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Dr Corie Indria Prasasti S KM M Kes, menegaskan pentingnya pencegahan sejak lingkungan terdekat, yaitu rumah dan keluarga. Askariasis erat kaitannya dengan kondisi sanitasi yang buruk dan kebiasaan higienitas yang kurang terjaga.

Corie menjelaskan, telur cacing biasanya menyebar melalui tanah yang tercemar tinja manusia atau hewan. Kondisi rumah yang langsung berkontak dengan tanah tanpa lantai plester atau keramik dapat meningkatkan risiko anak terpapar.

“Kasus kemarin menunjukkan rumah panggung dengan lantai langsung kontak tanah, ditambah adanya hewan peliharaan seperti ayam. Anak yang bermain di tanah tanpa pengawasan dan tidak mencuci tangan sebelum makan sangat mudah menelan telur cacing yang tidak terlihat,” ungkapnya.

Menurut Corie, kuku anak sering menjadi tempat menempelnya telur cacing. Jika tidak rutin dibersihkan, telur tersebut bisa masuk ke saluran pencernaan dan berkembang biak di dalam tubuh.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Dr Corie Indria Prasasti S KM M Kes. (Foto: Istimewa)

Lebih lanjut, Corie menekankan dua hal utama untuk mencegah kecacingan, yaitu sanitasi lingkungan dan personal hygiene.

“Rumah sehat tidak harus besar, tapi harus memenuhi minimal empat layanan sanitasi dasar: jamban sehat, pengolahan sampah, pengolahan limbah, dan ventilasi yang baik. Dari sisi personal hygiene, kebersihan tangan, kuku, dan kaki anak harus dijaga, serta meminimalkan kontak langsung dengan tanah,” jelasnya.

Terkait lemahnya deteksi sistem kesehatan masyarakat, Corie menyebut gejala kecacingan sering kali tidak spesifik. Anak dengan kecacingan ringan hanya tampak sakit perut, mual, atau nafsu makan turun, sehingga sering terabaikan.

“Kalau gejala sudah berat, baru terlihat perut buncit, diare, konstipasi, atau muntah. Sayangnya, pemeriksaan kesehatan dini terkait kecacingan belum dilaksanakan secara berkala di puskesmas. Akibatnya, banyak kasus lolos dari deteksi dini,” jelasnya.

Sebagai strategi pencegahan, Corie menilai keterlibatan kader kesehatan di tingkat masyarakat sangat penting. Di Surabaya, misalnya, ada ribuan kader yang melakukan pemantauan langsung ke keluarga.

“Kader bisa menjadi ujung tombak untuk screening awal, melaporkan kondisi keluarga berisiko, dan membantu puskesmas melakukan pemeriksaan. Namun, yang tak kalah penting adalah edukasi keluarga dengan cara-cara yang atraktif agar kesadaran higienitas meningkat,” paparnya.

Di akhir, Corie menegaskan bahwa kasus tragis ini seharusnya menjadi pelajaran bersama. “Perbaikan sanitasi dasar dan edukasi keluarga adalah kunci agar kejadian serupa tidak terulang. Pencegahan selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibanding mengobati ketika sudah terlambat,” pungkasnya.

Penulis: Rosali Elvira Nurdiansyarani

Editor: Khefti Al Mawalia