UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar The 11th International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (ICoCSPA) 2025 pada Rabu (27/5/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di ASEEC Tower ruang Majapahit Lantai 5, Kampus Dharmawangsa-B. Konferensi internasional ini menghadirkan pakar global untuk membahas dinamika media digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam konteks sosial politik kontemporer.
AI dan Algoritma
Dalam paparannya, Prof Marco Skoric dari University of Hong Kong menegaskan bahwa perkembangan media digital berpotensi mempersempit perspektif masyarakat akibat algoritma yang hanya menampilkan informasi serupa. “Digital media membuat kita semakin sering bertemu dengan hal yang sama. Akibatnya, masyarakat kehilangan kesempatan untuk melihat kompleksitas sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Skoric menambahkan bahwa media sosial kini mengalami pergeseran dari berbasis jejaring sosial (social graph) menjadi berbasis kesamaan selera pengguna. “Jika sebelumnya Facebook atau Twitter membangun jejaring berdasarkan relasi sosial, TikTok justru mengelompokkan pengguna karena selera yang sama. Di sini, masyarakat bukan lagi membangun komunitas, melainkan hanya menjadi target iklan,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa solusi menghadapi tantangan tersebut adalah menumbuhkan serendipity, yakni keterbukaan pada hal-hal baru dan tak terduga. “Kita perlu lebih sering terpapar pada perbedaan, bukan hanya yang seragam. Itu penting agar masyarakat mampu hidup dalam dunia yang kompleks,” kata Skoric.
Pentingnya Etika dan Aspek Humanis
Sementara itu, Dr Anita Dewi dari Charles Sturt University, Australia menekankan bahwa kecerdasan buatan memang menawarkan efisiensi. Namun, tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia. “AI membantu proses teknis seperti katalogisasi atau penyajian informasi. Tetapi keputusan tentang konten, akses, dan nilai etika tetap membutuhkan profesional manusia,” jelas Anita.
Ia menekankan bahwa penggunaan AI harus selalu dibingkai oleh etika. “Teknologi ini tidak berdiri sendiri. Ada aktor di baliknya, dan kita perlu kritis. Bukan hanya pada AI, tapi juga pada pihak yang membangunnya,” tegasnya.
Menurut Anita, aspek kemanusiaan adalah bagian yang tak tergantikan. “Di perpustakaan misalnya, AI bisa membantu pekerjaan teknis, tetapi pilihan buku untuk anak-anak atau keputusan tentang akses informasi tetap memerlukan sentuhan manusia,” ujarnya.
Para pembicara sepakat bahwa perkembangan AI tidak bisa dihindari, namun harus diarahkan dengan nilai kemanusiaan. Beberapa solusi yang muncul antara lain pembatasan usia penggunaan media sosial, regulasi lebih ketat terhadap perusahaan teknologi, serta integrasi pendidikan etika digital di perguruan tinggi.
Konferensi FISIP UNAIR ini menegaskan bahwa AI dan media digital hanyalah alat. Teknologi akan bermanfaat bila dikelola dengan nilai etis, transparansi, dan sentuhan manusia yang tetap menempatkan masyarakat sebagai pusatnya.
Penulis: Samudra Luhur
Editor: Yulia Rohmawati





