Universitas Airlangga Official Website

Merayakan Kemerdekaan ke-80: Dari “Jumbo” ke “One For All”, Ada Apa dengan Industri Kreatif Kita?

Memasuki usia ke-80 tahun, Republik Indonesia berdiri kokoh dengan segudang pencapaian. Perayaan kemerdekaan bukan hanya sebatas upacara bendera atau lomba tujuh belasan, melainkan juga momen refleksi. Kita perlu menilai sejauh mana bangsa ini telah berkembang, termasuk di sektor yang kini semakin menunjukkan taringnya: industri kreatif Indonesia.

Industri Kreatif dan Kebanggaan Nasional

Industri animasi dan film Tanah Air telah menorehkan prestasi membanggakan. Serial seperti Nussa dan Rara serta Adit Sopo Jarwo tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik jutaan anak Indonesia. Karya animasi ambisius seperti Battle of Surabaya membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan karya berkualitas global dengan narasi kuat.

Di layar lebar, kesuksesan film Jumbo menjadi bukti bahwa cerita lokal, jika dikemas dengan apik, mampu memikat hati penonton. Karya-karya ini merepresentasikan semangat kemerdekaan: berani berkarya, berinovasi, dan mengharumkan nama bangsa di mata dunia.

Kontroversi “One For All”

Namun, di tengah deretan karya gemilang itu, kemunculan animasi “One For All” yang digadang-gadang sebagai persembahan spesial HUT RI ke-80 justru memicu gelombang kritik. Visual yang dinilai jauh dari standar industri saat ini, alur cerita dangkal, dan dialog yang hambar membuat banyak pihak mempertanyakan kualitasnya.

Kritik semakin memanas ketika publik mengetahui anggaran produksi yang fantastis, memunculkan pertanyaan soal transparansi, profesionalisme, dan pertanggungjawaban. Alih-alih menjadi kebanggaan nasional, karya ini malah memicu kekecewaan.

Ironi di Balik Perayaan

Di satu sisi, ada karya seperti Jumbo yang lahir dari dedikasi, kreativitas, dan ketulusan bercerita. Di sisi lain, ada proyek yang dibiayai negara untuk merayakan kemerdekaan namun gagal dalam aspek artistik maupun substansi. Ini bukan sekadar soal selera, melainkan masalah visi, standar, dan tanggung jawab terhadap publik.

Merayakan kemerdekaan seharusnya menjadi ajang untuk menunjukkan kemajuan dan kecerdasan bangsa melalui karya berkualitas tinggi, bukan sekadar memenuhi formalitas.

Pelajaran dari Karya Berkualitas

Kontroversi “One For All” harus menjadi alarm bagi pembuat kebijakan, produser, dan seluruh pelaku industri kreatif. Proyek seni tidak boleh hanya menjadi alat menghabiskan anggaran. Kualitas adalah harga mati.

Kita bisa belajar dari kesuksesan Riko The Series, Nussa dan Rara, hingga Jumbo: karya yang digarap dengan serius, orisinal, dan berani akan selalu mendapatkan tempat di hati penonton. Semangat kemerdekaan harus diterjemahkan ke dalam karya yang membanggakan, bukan sekadar hadir tanpa makna.

Refleksi untuk Kemerdekaan

Pertanyaannya, apakah “One For All” layak menjadi representasi semangat kemerdekaan ke-80? Jawabannya jelas: tidak. Karya yang lahir dari proses tidak transparan dan menghasilkan kualitas jauh di bawah standar justru mencoreng makna kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah tentang kualitas, pencapaian, dan kebanggaan. Di tengah kemajuan industri kreatif, kita harus berani merayakan yang layak dibanggakan dan mengkritisi yang merugikan citra bangsa. Hanya dengan cara itu, semangat kemerdekaan akan tetap hidup dan berkembang.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)