UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga kembali menyelenggarakan Pelatihan Esai Edisi #2 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan FOSIL 2025 pada Sabtu (06/09/2025).
Mengusung tema “From Idea to Essay: Elaboration of Mind’s Power”, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis esai ilmiah yang runtut, kritis, dan berbobot.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber inspiratif, Miftakhu Rahma, mahasiswa Farmasi angkatan 2023. Mifta, sapaan akrabnya, merupakan peraih Juara 3 Lomba Scientific Essay ‘Polymer’ serta Juara 3 Lomba Esai Ilmiah FMIPA NAC Universitas Udayana.
Konsep ‘Segitiga Terbalik’ pada Esai
Dalam sesi pemaparan materi, Mifta memperkenalkan konsep ‘segitiga terbalik’ sebagai pendekatan dalam menyusun esai ilmiah yang efektif.
“Menulis esai itu digambarkan seperti segitiga terbalik. Semakin ke bawah, pembahasannya semakin spesifik. Kita mulai dari latar belakang secara umum, kemudian mengerucut ke permasalahan khusus, dan diakhiri dengan solusi yang ditawarkan,” jelas Mifta.
Peserta berkesempatan untuk langsung mencoba menuangkan ide-ide mereka menggunakan metode yang telah mereka terima. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang aktif berdiskusi dan bertanya.
Bedah Struktur Esai Juara
Tak hanya menyampaikan teori, Mifta juga membedah salah satu esai yang pernah membawanya meraih juara. Ia memaparkan beberapa tips krusial yang harus menjadi perhatian dalam struktur penulisan.
Mulai dari pendahuluan, yang tersusun dalam beberapa kalimat pendek untuk membangun pemahaman bertahap. Kemudian isi, yang menekankan pentingnya visualisasi sebagai bukti keaslian dan kekuatan argumen dalam esai. Lalu penutup, yang hanya terdiri dari satu paragraf namun mampu meyakinkan dewan juri mengenai gagasan ide, dan dapat mengimplementasikannya dalam jangka panjang.
Selain membagikan teknik penulisan, Mifta juga berbagi pengalaman pribadi dalam mengikuti kompetisi esai, termasuk berbagai tantangan dan kekecewaan yang pernah dia alami.
“Penilaian esai itu kadang juga tergantung mood juri. Pernah aku sudah pede banget sama esai yang aku buat, tapi ternyata nggak masuk juara. Padahal dibandingkan esai yang menang, aku merasa milikku lebih kuat,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Mifta menekankan bahwa inovasi ide yang bersifat pembaruan menjadi kunci penting dalam menarik perhatian juri.
“Kalau bisa, kasih dua poin pembaruan yang jelas dalam esai. Jangan cuma ganti topik tanpa menawarkan hal baru,” ujarnya sambil membagikan beberapa tips praktis kepada peserta.
Penulis: Saffana Raisa Rahmania
Editor: Ragil Kukuh Imanto





