UNAIR NEWS – Aksi demonstrasi yang generasi muda, khususnya generasi Z (Gen Z) lakukan belakangan ini banyak mencuri perhatian publik. Pasalnya, cara mereka menyampaikan aspirasi dengan kreatif, seperti melalui poster dengan kalimat satir, meme jenaka, hingga video singkat di media sosial menjadi bagian dari strategi baru dalam menyuarakan keresahan.
Menanggapi hal tersebut, Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Aribowo Drs MS, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam gerakan sosial sejatinya bukanlah hal baru. Posisi sosial mereka yang masih dalam tahap pencarian jati diri membuat generasi muda lebih peka. Sehingga selalu menjadi garda terdepan terhadap ketidakadilan.
“Aksi demonstrasi itu memang sebagian besar pesertanya generasi muda. Entah masih sekolah, kuliah, atau bahkan sudah kerja. Sejak zaman Hindia Belanda, yang melawan pemerintah ya generasi muda. Artinya generasi muda ini menjadi bagian penting dalam gerakan sosial,” ujarnya.
Seni sebagai Ekspresi Perlawanan
Lebih lanjut, Aribowo menjelaskan bahwa kreativitas seni sejak lama melekat dalam gerakan sosial. Pada 1950-an, konsep happening art muncul di Amerika Serikat dan menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Memasuki era 1980-1990-an, seni rupa, teater, dan sastra di tanah air banyak dipengaruhi gagasan posmodernisme.

Dari situlah kemudian muncul perlawanan berbasis seni yang turut mewarnai gerakan mahasiswa menjelang reformasi 1998 hingga saat ini. “Happening art itu peristiwa kesenian yang mengangkat realitas masyarakat, lalu diusung menjadi bagian dari perlawanan. Bentuknya bisa seni rupa, teater, atau ekspresi kebudayaan lain,” jelasnya.
Peran Media Sosial
Tak hanya kreatif dalam menyampaikan aspirasi, Aribowo menilai, Gen Z juga sangat piawai dalam memanfaatkan media sosial sebagai ruang berekspresi politik. Kreativitas mereka membuat isu-isu sosial dan politik dapat dikemas lebih ringan, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam.
“Media sosial jadi instrumen penting untuk membicarakan keresahan, ketimpangan, dan ketidakadilan, baik di Indonesia maupun global. Di situ pula perlawanan terhadap pejabat, pemerintah, hingga negara dirumuskan,” tuturnya.
Kendati dibalut kreativitas, Aribowo menekankan bahwa demonstrasi yang Gen Z lakukan tetaplah aksi serius. Perbedaannya terletak pada isu, peserta, dan formatnya yang kini lebih beragam serta terorganisir daripada aksi demonstrasi zaman dulu. “Generasi muda itu tidak hanya turun ke jalan, mereka juga menyiapkan siaran pers, membangun jejaring komunikasi, sampai melakukan advokasi hukum,” tambahnya.
Faktor Pendorong Gerakan
Namun, kreativitas dan peran media sosial tidak akan berkembang menjadi gerakan masif jika tidak ada masalah yang masyarakat rasakan. Menurut Aribowo, lahirnya gerakan sosial seperti aksi demonstrasi selalu terkait dengan kondisi sosial masyarakat. Deprivasi, ketidakadilan, serta kesenjangan yang tampak di tengah masyarakat justru menjadi pemicu utama lahirnya perlawanan.
“Gerakan sosial itu tidak pernah tumbuh dalam ruang kosong. Dia selalu bergantung pada sistem sosial yang ada. Basis sosial dan ideologi sangat penting agar sebuah gerakan bisa terkomunikasikan dan berkembang,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





