UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menghelat Dialektika Malam. Kegiatan tersebut bertajuk Literasi Media di Tengah Pusaran Politik: Antara Edukasi atau Politisasi Informasi. Inisiasi program kerja oleh Kementerian Akademik dan Prestasi (AKPRES) bersama Kementerian Kajian Isu dan Aksi Strategis (KASTRAT) tersebut berlangsung pada Selasa (21/10/2025) di Ruang Herodotus B, FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Sebagai bagian dari rangkaian Sinestesia 2025, forum diskusi ini menghadirkan dua narasumber utama. Di antarana, Rosdiansyah SH MA selaku akademisi sekaligus jurnalis, serta Rangga Prasetya Aji Widodo, jurnalis di Surabaya. Keduanya mengajak mahasiswa melihat kembali makna literasi media di tengah derasnya arus informasi politik yang seringkali sulit dibedakan antara fakta dan propaganda.
Memahami Makna Literasi
Rosdiansyah menyoroti cara masyarakat memahami istilah literasi yang selama ini kerap mengalami salah arti. Menurutnya, banyak orang terlalu cepat percaya pada hasil survei internasional yang menempatkan Indonesia di peringkat bawah tanpa menelusuri indikator yang mereka gunakan.
“Banyak yang terpukau dengan hasil studi seperti PISA, tapi jarang yang bertanya indikatornya apa. Padahal kalau lihat di lapangan, masyarakat Indonesia itu aktif membaca dan menulis. Setiap hari membuka WhatsApp group, menulis komentar, berdiskusi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa literasi sebenarnya tidak hanya berkutat pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berarti kemauan untuk memahami, mengolah, dan menggunakan informasi agar bermanfaat bagi masyarakat. “Melek literasi itu bukan sekadar bisa membaca. Yang terpenting adalah bagaimana hasil bacaan itu memberi dampak nyata bagi sekitar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa di era digital, generasi muda seringkali cepat menanggapi isu tanpa memeriksa kebenarannya. Karenanya, mahasiswa perlu belajar memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya dan berani menafsirkan suatu isu dengan sudut pandang yang lebih kritis.
Literasi dan Politisasi Informasi
Melanjutkan diskusi, Rangga Prasetya Aji Widodo menjelaskan bahwa literasi media tidak hanya tentang memahami isi berita, tetapi juga menelaah bagaimana pesan itu dibentuk. Literasi, sambungnya, mencakup kemampuan membaca, menulis, menafsirkan, sekaligus berpikir kritis terhadap pesan yang disampaikan media.

“Kalau kita bicara literasi, itu bukan cuma soal bisa membaca dan menulis. Literasi juga berarti mampu memilah informasi yang benar dan salah, serta memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan di balik sebuah berita,” jelasnya.
Rangga menilai, dalam situasi politik yang penuh kepentingan, media memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Namun, ia menegaskan bahwa media pada dasarnya tidak bisa sepenuhnya netral. “Media pasti punya sudut pandang. Tapi keberpihakan itu seharusnya berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik, bukan pada kekuasaan,” imbuhnya.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki literasi media yang baik akan mampu membedakan mana informasi yang mencerahkan dan mana yang sekadar menjadi alat kepentingan politik. Dengan begitu, publik tidak mudah terseret dalam arus politisasi informasi yang kerap terjadi menjelang momentum politik tertentu.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





