Universitas Airlangga Official Website

Mengabdi Lewat Kemanusiaan, Alumnus UNAIR Bangun Yayasan Sosial Berdayakan Masyarakat

Potret Suharti Alumni Sastra Inggris UNAIR yang kini menjadi ketua Yayasan Wahana Mandiri Indonesia. (Foto: Istimewa)
Potret Suharti Alumni Sastra Inggris UNAIR yang kini menjadi ketua Yayasan Wahana Mandiri Indonesia. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terus melahirkan alumni yang tak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia adalah Suharti, alumnus Program Studi Sastra Inggris UNAIR, yang kini aktif memimpin Yayasan Wahana Mandiri Indonesia (YWMI). Melalui kiprah sosialnya, Suharti membuktikan bahwa ilmu humaniora juga dapat menjadi fondasi kuat dalam kerja kemanusiaan berskala nasional.

Berbekal pengalaman panjang di berbagai lembaga sosial, Suharti bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Wahana Mandiri Indonesia (YWMI) pada Mei 2018. Yayasan tersebut berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program, seperti Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), bantuan pendidikan, tanggap bencana, pemberdayaan ekonomi, hingga layanan ambulans gratis.

YWMI juga menjadi mitra resmi Muslim Aid Australia (MAA) dan bekerja sama dengan berbagai lembaga donor maupun CSR nasional dan internasional dalam menyalurkan berbagai program sosial di Indonesia. “Kami menjalankan program di banyak daerah di Indonesia, mulai dari bantuan darurat gempa, qurban, hingga pemberdayaan anak yatim. Semua berawal dari kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Suharti.

Dorongan Suharti untuk mengabdi muncul dari rasa empati yang tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa membantu orang sekitar, dan rasa itu terus terbawa hingga dewasa. Yang paling berkesan adalah ketika bisa menyampaikan bantuan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Ada rasa syukur dan makna di sana,” tuturnya.

Ia berpesan agar mahasiswa dan alumni UNAIR berani mengambil peran di bidang sosial dan kemanusiaan. “Bekerja di dunia sosial tidak mudah, apalagi saat dalam kondisi darurat, tapi kalau kita bekerja dengan hati dan memegang prinsip hidup yang baik, semua tantangan bisa dilalui,” ungkapnya.

Suharti Berpose Bersama Anak-anak Penerima Bantuan Ramadhan Eid Gift Peralatan Sekolah, Hasil Kolaborasi antara YWMI dan MAA.  (Foto: Istimewa)

Suharti menilai, kemampuan bahasa dan komunikasi yang ia peroleh selama kuliah di Sastra Inggris UNAIR menjadi modal utama dalam pekerjaannya. Kemahiran menulis laporan, membuat proposal, dan berinteraksi dengan mitra internasional menjadi keunggulan tersendiri. Namun, ia menekankan pentingnya upskilling di luar disiplin ilmu kampus.

“Program seperti WASH dan pemberdayaan ekonomi tentu tidak saya pelajari langsung di kuliah. Saya belajar lewat pelatihan, membaca, dan praktik lapangan,” ungkapnya.

Baginya, anak muda harus terus mengasah empat kompetensi utama, yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif, kemampuan kolaborasi, dan komunikasi. Keempat hal tersebut, menurutnya, adalah bekal yang membuat lulusan UNAIR mampu beradaptasi di berbagai bidang, termasuk kemanusiaan.

“Mempersiapkan diri dengan ilmu dan keahlian lain di luar ilmu yang kita pelajari amat penting. Kita bisa dapatkan melalui training dan mengasah life skill dalam keseharian. Dengan aktif pada kegiatan kampus, organisasi luar kampus, aktif bersosialisasi di masyarakat akan memperkaya kemampuan dan keahlian kita,” pungkasnya. 

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Khefti Al Mawalia