UNAIR NEWS – Dalam semarak Dies Natalis ke-71 Universitas Airlangga (UNAIR), wujud rasa syukur juga tercermin melalui penyelenggaraan Kajian Akbar dan Doa Bersama. Dengan mengusung tema “Kuliah sebagai Jalan Ibadah”, kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Utama Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C, pada Senin (10/11/2025). Acara ini terselenggara atas kolaborasi antara Sentra Kerohanian Islam (SKI) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dan Mahasiswa Masjid Ulul Azmi UNAIR.
Unggul Akademik dan Spiritual
Pada kesempatan itu, turut hadir Prof Ir Mochammad Amin Alamsjah MSi PhD, selaku Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni. Ia memberikan sambutannya dengan menegaskan bahwa peringatan Dies Natalis ini bukanlah sekadar seremoni.
“Malam ini bukan hanya peringatan Dies Natalis UNAIR ke tujuh puluh satu, tetapi juga momentum untuk merenungi perjalanan UNAIR sebagai lembaga yang membangun peradaban. Tidak hanya melalui ilmu, tetapi juga akhlak dan ketulusan pengabdian.”
Lebih lanjut, Prof Amin berharap mahasiswa UNAIR dapat menjadi generasi penerus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual. “Semoga mahasiswa UNAIR mampu menjadi pemimpin yang berilmu dan beriman,” ujarnya.
Memanfaatkan Waktu Usia Muda
Kajian tersebut mendatangkan KH Muhammad Ajir Ubaidillah, yang merupakan Khodim Pondok Pesantren Nurul Huda Banyumas. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan bahwa aktivitas kuliah dapat menjadi jalan ibadah apabila dijalani dengan niat yang lurus, disiplin, dan kesungguhan dalam memanfaatkan waktu.
“Allah bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Ashr maupun Adh-Dhuha. Artinya, waktu adalah sesuatu yang sangat istimewa. Setiap helaan napas adalah permata yang nilainya tak terhingga,” tutur KH Ajir.
Ia menambahkan bahwa orang yang sukses adalah mereka yang mampu menetapkan skala prioritas dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, terutama di masa muda.
“Masa muda adalah ladang amal dan pembelajaran. Siapa yang mampu mengelola waktunya, InsyaAllah akan menuai keberhasilan,” lanjutnya.
Selain itu, KH Ajir juga menekankan pentingnya menjaga keimanan di tengah dinamika kehidupan kampus. Menurutnya, iman bisa bersifat naik turun sehingga perlu menjaganya dengan ketaatan, rasa syukur, dan pengendalian diri.
“Malas dan keluh kesah membuat kita jauh dari kebenaran. Kadang juga rasa tidak percaya diri muncul karena kita suka membandingkan hidup dengan orang lain. Maka, syukurilah karunia Allah dan lihatlah ke bawah agar hati kita tetap lapang,” pesan KH Ajir dengan menutup tausiyahnya.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Ragil Kukuh Imanto





