Universitas Airlangga Official Website

Pakar Digital Nur Syamsiyah Ungkap Strategi Transformasi Inklusif dan Berkelanjutan di UNAIR

Nur Syamsiyah dalam sesi pemaparan materi pada seminar nasional yang berlangsung di aula FISIP (Foto: Panitia)
Nur Syamsiyah dalam sesi pemaparan materi pada seminar nasional yang berlangsung di aula FISIP (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS- Departemen Sosiologi bersama Himpunan Mahasiswa (HIMA) Sosiologi FISIP UNAIR sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Transformasi Pembangunan Digital: Inovasi, Kolaborasi, dan Keberlanjutan”, menghadirkan Nur Syamsiyah, pakar pembangunan digital sebagai narasumber utama.

Seminar kali ini mengangkat tema “Mewujudkan Transformasi Pembangunan Digital yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Seminar ini membahas arah pembangunan digital Indonesia, tantangan kesenjangan digital, serta strategi agar teknologi dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di aula FISIP pada Rabu (22/10/2025) ini dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, serta praktisi dari berbagai sektor.

Pembangunan Digital Tidak Sekadar Soal Teknologi

Dalam paparannya, Nur Syamsiyah menegaskan bahwa pembangunan digital bukan sekadar proyek teknologi. Menurutnya, pembangunan digital selalu menyertakan relasi kuasa, ketimpangan akses, dan agensi sosial. “Pertanyaan utama yang harus dijawab adalah: siapa yang membangun, dan untuk siapa pembangunan itu dilakukan? Digitalisasi tidak netral,” ujarnya.

Ia mencontohkan berbagai kesenjangan digital yang terjadi di Indonesia, mulai dari kemiskinan digital hingga grey digital divide, yaitu kesenjangan antara generasi muda dan generasi tua dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi. Faktor-faktor seperti keterbatasan perangkat dan konektivitas, keterampilan pengguna, motivasi, hingga dukungan teknis menjadi penentu utama partisipasi masyarakat dalam pembangunan digital.

Nur Syamsiyah menekankan bahwa transformasi digital yang sukses harus berlangsung secara struktur dan kultural. Artinya, perubahan tidak hanya pada teknologi atau alat, tetapi pada cara masyarakat berinteraksi, cara membuat kebijakan, dan cara memaknai teknologi. “Transformasi digital bukan sekadar menambahkan gadget atau jaringan. Ini soal membangun sistem sosial-politik yang inklusif dan manusiawi,” jelasnya.

Inovasi Teknologi Tidak Selalu Berarti Kemajuan Sosial

Lebih lanjut, Nur menekankan bahwa inovasi teknologi bukan identik dengan transformasi sosial. Kemajuan teknologi tidak otomatis menghadirkan kemajuan sosial. Oleh karena itu, setiap kebijakan pembangunan digital harus mempertimbangkan konteks lokal, budaya, dan nilai kemanusiaan. Transformasi digital yang berhasil adalah transformasi yang memberdayakan, adil, dan berkelanjutan.

Dalam sesi akhir, Nur Syamsiyah menyimpulkan bahwa mewujudkan pembangunan digital inklusif dan berkelanjutan membutuhkan strategi holistik. Transformasi digital harus menjadi sarana pemberdayaan, memperluas kesempatan, mengurangi kesenjangan sosial, serta memperkuat demokrasi partisipatif. “Kita tidak bisa menunggu teknologi berkembang sendiri. Transformasi digital harus kita wujudkan bersama-sama, agar teknologi benar-benar menjadi alat untuk keadilan sosial dan kemanusiaan,” tegasnya.

Penulis: Saffana Raisa Rahmania

Editor: Ragil Kukuh Imanto