Universitas Airlangga Official Website

Kolaborasi UNAIR dan Bangkalan, Kuatkan Budaya Madura sebagai Fondasi Pariwisata Berkelanjutan

Penyerahan piagam kepada Hendra Gemma Dominant oleh perwakilan HIMA Manajemen Perhotelan (Foto : Panitia)
Penyerahan piagam kepada Hendra Gemma Dominant oleh perwakilan HIMA Manajemen Perhotelan (Foto : Panitia)

UNAIR NEWS- Himpunan Mahasiswa (HIMA) Manajemen Perhotelan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga sukses menggelar seminar nasional bertajuk SOURTY 3.0 Sustainable Tourism and Hospitality dengan tema “Embracing Madura’s Culture, Innovating with Technology”, pada Minggu (2/11/2025) bertempat di Majapahit Hall, Lantai 5 ASEEC Tower Universitas Airlangga.,

Kegiatan ini menghadirkan Hendra Gemma Dominant SSn, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan, sebagai narasumber utama. Seminar yang dimulai pukul 08.30 pagi itu dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, serta praktisi industri pariwisata dari berbagai daerah.

Kolaborasi untuk Pariwisata Madura yang Berdaya Saing

Dalam pemaparannya, Hendra Gemma menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya Madura dan modernisasi pariwisata yang kini berkembang pesat. Ia menekankan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga pada pelestarian nilai-nilai budaya lokal dan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, Hendra menyoroti tradisi karapan sapi yang telah menjadi ikon budaya dan daya tarik wisata khas Pulau Madura. Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya menjaga kelestarian tradisi ini melalui program tahunan yang sistematis.

“Kerapan sapi bukan sekadar hiburan, tapi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Madura. Pemerintah menggelar kegiatan ini tiap tahun dengan sistem seleksi berjenjang: mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga tingkat Pulau Madura,” ungkapnya.

Hendra juga membocorkan bahwa tahun depan terdapat wacana agar ajang kerapan sapi dapat diselenggarakan dalam skala nasional. “Ada usulan agar kerapan sapi memperebutkan Piala Presiden, sehingga bisa lebih dikenal masyarakat luas,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata budaya, Hendra menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat lokal menjadi kunci utama keberhasilan.

“Pemerintah berperan membuat regulasi dan kebijakan, sedangkan masyarakat adalah pemilik warisan budaya itu sendiri. Mereka yang menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya agar tetap hidup,” tegasnya.

Selain pelibatan masyarakat, Hendra juga menjelaskan pentingnya kerja sama antar kabupaten di Madura dalam mengembangkan potensi wisata. Menurutnya, Pulau Madura memiliki banyak daya tarik, mulai dari wisata budaya, kuliner, hingga alam. Namun, promosi yang terintegrasi masih menjadi tantangan.

Melawan Stereotip Negatif tentang Madura

Dalam sesi sharing, Hendra sempat bercerita tentang pengalamannya bertemu wisatawan asal Amerika di Museum Cakraningrat, Bangkalan. Wisatawan tersebut datang menggunakan sepeda motor tua karena takut membawa mobil ke Madura akibat citra negatif di media.

“Saya kaget, dia bilang takut karena berita di media tentang Madura itu banyak yang negatif tentang begal, carok, dan lain-lain. Ini jadi tamparan bagi kita,” katanya.

Dari pengalaman itu, Hendra menegaskan perlunya membangun citra positif Madura melalui pariwisata budaya. “Kita harus ubah narasi itu. Madura bukan hanya tentang kekerasan, tapi juga tentang keramahan, kreativitas, dan tradisi yang luar biasa kaya,” tegasnya.

Penulis: Saffana Raisa Rahmania

Editor: Ragil Kukuh Imanto