Universitas Airlangga Official Website

Prof Bambang Suharto Tekankan Pentingnya Inovasi dan Kearifan Lokal dalam Pariwisata Berkelanjutan di SOURTY 3.0

Foto bersama perwakilan HIMA Manajemen Perhotelan dengan Prof Dr Bambang Suharto SST MM Par (Foto: Panitia)
Foto bersama perwakilan HIMA Manajemen Perhotelan dengan Prof Dr Bambang Suharto SST MM Par (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS– Himpunan Mahasiswa (HIMA) Manajemen Perhotelan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga sukses menggelar seminar nasional bertajuk SOURTY 3.0: Sustainable Tourism and Hospitality dengan tema “Embracing Madura’s Culture, Innovating with Technology” pada Minggu (2/11/2025). Acara ini berlangsung di Majapahit Hall, Lantai 5, ASEEC Tower Universitas Airlangga.

Kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan praktisi industri pariwisata untuk membahas strategi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan serta berbasis pada nilai budaya lokal. Seminar menghadirkan Prof Dr Bambang Suharto SST MM Par, dosen dan pakar di bidang manajemen perhotelan, sebagai pembicara utama.

Keseimbangan antara Budaya dan Teknologi

Dalam paparannya, Prof Bambang menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian budaya lokal dalam pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, pariwisata berkelanjutan tidak hanya tentang membangun destinasi modern, tetapi juga bagaimana teknologi dapt maksimal untuk memperkuat identitas budaya dan nilai kemanusiaan.

“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Dalam industri pariwisata, inovasi harus berjalan beriringan dengan pelestarian kearifan lokal. Kita tidak boleh kehilangan jati diri hanya karena ingin terlihat modern,” ujar Prof Bambang.

Beliau mencontohkan bahwa digitalisasi, jika penerapannya berjalan bijak, bisa menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. “Wisata budaya seperti tradisi Madura, misalnya, bisa dikemas lebih menarik melalui platform digital tanpa mengurangi nilai aslinya,” tambahnya.

Dalam diskusi yang interaktif, Prof Bambang turut menyinggung tantangan yang ada di sektor pariwisata di era digital dan pasca pandemi. Ia menekankan bahwa generasi muda perlu adaptif terhadap perubahan, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai budaya.

“Di tengah tren pariwisata digital, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan kita mempertahankan sentuhan manusia dan nilai budaya dalam pelayanan,” jelasnya.

Sektor Pariwisata yang Human-Centered

Prof Bambang mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru, tradisi yang kita kemas modern dapat menjadi kekuatan daya tarik utama wisata Indonesia. “Kita harus belajar memodernisasi budaya tanpa menghilangkan rohnya,” tambahnya.

Prof Bambang juga mengingatkan bahwa kemajuan pariwisata tidak hanya bisa kita ukur dari peningkatan jumlah wisatawan, tetapi dari sejauh mana sektor ini mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia menekankan perlunya pendekatan human centered tourism yakni pengembangan pariwisata yang berorientasi pada manusia dan kesejahteraan sosial.

“Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus menempatkan manusia sebagai pusatnya. Artinya, setiap inovasi, kebijakan, atau proyek wisata harus memberi dampak positif bagi masyarakat lokal,” jelasnya.

Beliau menambahkan, mahasiswa vokasi sebagai calon praktisi industri perlu memahami prinsip tersebut sejak dini. “Kalian bukan hanya belajar melayani tamu, tapi juga belajar bagaimana pariwisata bisa menjadi alat pemberdayaan sosial dan pelestarian budaya,” pesannya kepada peserta.

Penulis : Saffana Raisa Rahmania

Editor   : Ragil Kukuh Imanto