UNAIR NEWS – Gaya hidup sedenter atau minim aktivitas fisik menjadi tantangan besar di era modern. Untuk mengedukasi masyarakat, terutama mahasiswa tentang pentingnya menyeimbangkan aktivitas fisik dan kesehatan mental, BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar seminar nasional HKN. Kegiatan tersebut bertajuk Level Up Your Life: Balancing Your Body and Mind, Against Sedentary Lifestyle.
Seminar nasional ini terlaksana pada Sabtu (15/11/2025) di Aula Candradimuka, Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus MERR-C. Hadir dua narasumber, Dr Ekida Rehan Firmansyah selaku dokter dan konten kreator; dan Mazdha Ariefriyendho M Psi Psikolog CHt, seorang psikolog olahraga sekaligus founder Medina Community.
Bahaya Gaya Hidup Sedenter
Dr Ekida Rehan Firmansyah menjelaskan bahwa gaya hidup sedenter, sesuai definisi WHO, adalah ketika intensitas aktivitas fisik sangat rendah, seperti rebahan, duduk terlalu lama, atau scrolling sosial media. Ia menyebutkan bahwa dampaknya tidak main-main. Akibat tubuh yang statis, otot akan mengecil sehingga memicu kinerja tubuh yang kurang baik, hingga meningkatkan asupan makan yang tidak sehat.
“Sesederhana gaya hidup sedenter bisa menimbulkan penyakit yang mengerikan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur posisi laptop setara dengan kepala saat belajar maupun bekerja serta menyempatkan diri untuk berolahraga kapan pun dan di mana pun.
Namun, ia mengakui gaya hidup sedenter seringkali terasa seperti lingkaran setan. Cara keluar dari situasi ini adalah dengan memiliki motivasi yang kuat. “Lebih baik konsisten pada hal kecil terlebih dahulu daripada hanya musiman dalam melakukan aktivitas fisik,” pesannya.
Sudut Pandang Psikologis
Dari sisi psikologis, Mazdha Ariefriyendho menyoroti bahwa dominasi perilaku sedenter telah menjadi gaya hidup (lifestyle). Pasalnya, hampir semua aktivitas, bahkan di waktu senggang, cenderung dilakukan sambil duduk atau berdiam diri. Hal ini dapat membentuk mentalitas yang pasif.
Untuk menghindari jebakan sedenter, ia menganjurkan untuk melakukan penerapan teknik pomodoro. Teknik ini tidak hanya efektif untuk belajar, tetapi juga melatih peregangan otot saat tubuh terlalu lama duduk.
“Teknik Pomodoro tidak hanya efektif untuk belajar, tetapi juga melatih peregangan otot ketika tubuh sudah terlalu lama duduk dan diam,” ujarnya. Selain itu, ia menyarankan untuk mengatur algoritma penggunaan gawai, khususnya waktu di depan layar (screen time) agar tidak berlebihan.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





